BRIN: Kebijakan Iptekin di Indonesia Masih Kurang Menjadi Prioritas

BRIN: Kebijakan Iptekin di Indonesia Masih Kurang Menjadi Prioritas
Jokowi lantik Megawati jadi Ketua Dewan Pengarah BRIN di Istana Negara. ©Biro Pers Sekretariat Presiden
NEWS | 14 Oktober 2021 08:54 Reporter : Fikri Faqih

Merdeka.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, isu kebijakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi (iptekin) harus dibumikan di Tanah Air. Tujuannya agar iptekin berkontribusi besar terhadap pembangunan dan menjadikan Indonesia sebagai negara maju.

"Kebijakan iptekin di Indonesia masih dirasa kurang menjadi prioritas jika dibandingkan oleh negara-negara maju. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan mengapa pembangunan ekonomi berbasis iptekin di Indonesia masih kurang menemukan gaungnya," kata Pelaksana tugas Direktur Perumusan Kebijakan Riset, Teknologi, dan Inovasi (PKRTI) BRIN Dudi Hidayat di Jakarta, Kamis (14/10).

Dia mengungkapkan, hingga saat ini isu kebijakan iptekin masih belum menjadi diskursus publik utama baik di kalangan pembuat kebijakan di level pusat dan daerah, industri, akademisi, maupun di masyarakat.

Menurutnya, perlu intervensi pemerintah dalam mendorong aktivitas-aktivitas penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan (litbangjirap) di Indonesia agar akselerasi pembangunan dapat terjalin.

Peneliti Direktorat PKRTI BRIN, Anugerah Yuka Asmara menjelaskan, iptekin menjadi salah satu elemen kunci dalam mendorong dan mempercepat pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan pada banyak negara maju.

Sejak 1990-an, banyak negara berkembang telah berupaya mengejar ketertinggalan pembangunan ekonominya melalui pendekatan iptekin.

"Beberapa dari mereka kemudian berhasil melepas status negara berkembang menjadi negara maju yang disebut sebagai negara industri baru," ujarnya seperti dilansir dari Antara.

Yuka menerangkan, meniru, mereplikasi, mengadaptasi dan mengabsorbsi kebijakan iptekin tersebut menjadi salah satu bentuk praktik-praktik terbaik yang dilakukan oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia. Namun demikian, seringkali implementasi kebijakan tersebut berjalan tidak sesuai dengan rencana atau tidak mencapai tujuan.

Untuk itu, kebijakan iptekin di Indonesia perlu mendapat perhatian lebih dari berbagai kalangan yang antara lain akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat.

Kebijakan iptekin dapat menjadi salah satu prioritas dan pertimbangan utama oleh para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan dalam menentukan arah kebijakan nasional di Indonesia.

Untuk memahami kebijakan iptekin dan proses implementasinya di berbagai negara, PKRTI BRIN berkolaborasi dengan Knowledge Sector Initiative (KSI) dan Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) menyelenggarakan The Indonesian Science-Technology-Innovation (STI) Policy Lecture Series I – 6, yang berlangsung pada 12 Oktober hingga 21 Desember 2021.

Acara the Indonesian STI Policy itu diharapkan dapat mengkomunikasikan dan mendiseminasikan informasi dan pengetahuan terkait kebijakan iptekin kepada seluruh masyarakat di Indonesia, agar tujuan dari kebijakan iptekin dapat diterima oleh publik secara luas di Indonesia. (mdk/fik)

Baca juga:
Politisi PDIP Sebut Pelantikan Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN Sudah Tepat
VIDEO: Jadi Ketua Dewan Pengarah BRIN, Megawati Ditugaskan Beri Arahan Soal Nuklir
Guru Besar IPB Sebut Riset dan Inovasi Kunci Perkembangan Teknologi
PDIP Harap Dewan Pengarah BRIN Bisa Bawa Indonesia Semakin Berkompetisi di Dunia
Megawati Ditunjuk jadi Ketua Dewan Pengarah BRIN, Ini Harta Kekayaannya

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami