Buka Loker di Medsos, Sindikat Penjual ABG di Kafe Remang Tabanan Ditangkap Polisi

Buka Loker di Medsos, Sindikat Penjual ABG di Kafe Remang Tabanan Ditangkap Polisi
PERISTIWA | 28 Januari 2020 12:06 Reporter : Moh. Kadafi

Merdeka.com - Polisi membongkar sindikat perdagangan orang atau eksploitasi anak di bawah umur di Tabanan, Bali. Tiga pelaku berinisal GP (44), IY (22) dan PR (28) ditangkap.

Para pelaku bersekongkol mempekerjakan anak di bawah umur berinisal EN (15) asal Cianjur, Jawa Barat. Anak Baru Gede alias ABG itu dipekerjakan di tempat hiburan malam atau Cafe Mahoni di Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.

"Ini kasus tindak pidana perdagangan orang. Kasus ini berawal dari pengaduan saudara kakak ipar dari korban ke Polda Bali. Kemudian, Polda Bali membentuk tim dan turun ke lokasi atau ke TKP," kata Wadir Ditreskrimum Polda Bali AKBP Suratno di Mapolda Bali, Selasa (28/1).

Kasus ini bermula saat pelaku PR mengunggah tulisan 'Yang Minat Kerja Cafe, Chat Me' di grup info lowongan kerja alias loker Sukabumi, Jawa Barat, pada tanggal 28 Desember 2019. Korban yang tertarik kemudian mengirim pesan lewat massenger dan menanyakan persyaratan dan cara kerjanya.

Selanjutnya, pelaku PR meminta KTP korban. Karena di bawah umur, korban tidak mempunyai KTP. Tetapi, pelaku meminta Kartu Keluarga (KK). Pelaku PR pun menjelaskan mekanisme pekerjaan kepada korban.

Korban hanya diminta menemani tamu ngobrol dan karaoke dengan dijanjikan upah Rp2 juta hingga Rp4 juta dan tempat tinggal ditanggung. Sehingga korban tertarik dan menuruti pelaku.

"Korban juga menyampaikan tidak punya KTP karena masih di bawah umur. Kemudian pelaku PR ini menyampaikan KK saja tidak apa-apa. Padahal si pelaku tahu bawah anak ini tidak punya KTP," imbuh Suratno.

Selanjutnya, pada tanggal 29 Desember 2019 korban dijemput di Cianjur, dibawa ke Sukabumi lalu ke Bogor dan ke Bandara Soekarno Hatta. Kemudian, diterbangkan ke Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dan dijemput oleh tersangka PR dan langsung dibawa ke Cafe atau TKP.

"Sementara pemilik cafe adalah pelaku DP dan IY merupakan istri sirinya yang bertugas sebagai pengelola cafe. Sementara PR bertugas sebagai perekrut yang mengiklankan di media sosial itu," ujar dia.

Sesampainya di lokasi atau di TKP pada tanggal 30 Desember 2019. Saat malam harinya, korban langsung disuruh bekerja didandani dan disuruh mengenakan pakaian seksi oleh pelaku IY. Korban juga disuruh melayani tamu minum-minum beralkohol di tempat yang gelap.

"Korban dalam kerjanya harus melayani tamu di tempat hiburan yang biasanya mengkonsumsi minuman beralkohol, yang tidak boleh dilakukan oleh anak di bawah umur," kata dia.

Baca Selanjutnya: Korban Diancam Bayar Ganti Rugi...

Halaman

(mdk/gil)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami