Bupati Garut Nilai Herry Wirawan Pantas Dituntut Hukuman Mati

Bupati Garut Nilai Herry Wirawan Pantas Dituntut Hukuman Mati
Bupati Garut Rudy Gunawan. ©2021 garutkab.go.id/ Merdeka.com
NEWS | 16 Januari 2022 05:33 Reporter : Mochammad Iqbal

Merdeka.com - Bupati Garut Rudy Gunawan mendukung tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas Herry Wirawan, terdakwa kasus pemerkosaan belasan santriwati di Bandung. Menurutnya, tuntutan tersebut sangat pantas didapatkan terdakwa.

Rudy mengatakan bahwa kepantasan Herry Wirawan atas tuntutan tersebut karena terdakwa melakukan pemerkosaan secara sadar dan berulang.

"Saya kira pantas sekali ya, karena perbuatannya, anggaplah pemerkosaan, secara sadar yang dilakukan terus menerus kepada beberapa korban," kata Rudy, Sabtu (15/1).

Ia menyebut bahwa tuntutan hukuman mati, suntik kimia, hingga ganti rugi terhadap korban para terdakwa yang dilakukan oleh JPU sangat beralasan. Dalam pandangannya, kelakuan terdakwa sangat melukai akal sehat.

"Kelakuannya melukai akal sehat jadi hukuman mati juga yang diajukan sudah sangat tepat," sebutnya.

Pihaknya, diungkapkan Rudy, kepada para korban melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut saat ini secara rutin melakukan trauma healing bagi para korban. Langkah tersebut dilakukan agar mereka bisa kembali beraktifitas seperti biasa.

Ketua P2TP2A Kabupaten Garut, Diah Kurniasari mengatakan bahwa seluruh anak yang dilahirkan oleh para korban sudah memiliki akta kelahiran dan kartu identitas anak. Kedua hal tersebut menurutnya diberikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati.

Ke depannya, para korban dan anak-anaknya akan dibantu pemerintah melalui P2TP2A. "Saat ini mereka sedang berada di rumahnya masing-masing di beberapa kecamatan di Kabupaten Garut," kata Diah.

Untuk korban yang putus sekolah, dalam waktu dekat akan mengikuti ujian paket guna mengejar ketertinggalan mereka dalam hal Pendidikan. Pihaknya, selama ini senantiasa berkomunikasi dengan para korban untuk mengetahui keluhan dan keinginan mereka.

"Jadi mereka akan sekolah, mereka tidak mau kembali ke pesantren, jadi mereka ingin kejar paket di dekat rumahnya masing-masing, kita dukung ya. Kita juga punya WhatsApp Grup ya bersama anak-anak, mendengarkan keluhan mereka," tutup Diah.

(mdk/cob)

TOPIK TERKAIT

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami