Buron Kasus Penganiayaan Bocah di Samarinda Ditangkap di Semarang

PERISTIWA | 7 Agustus 2019 23:05 Reporter : Saud Rosadi

Merdeka.com - Riswan (39), buron kasus penganiayaan anak tiri berinisial Aha (7), berhasil ditangkap tim Reskrim Polrestabes Semarang, Selasa (6/8). Di hari yang sama, Riswan dijemput, dan kini ditetapkan tersangka. Riswan sudah masuk daftar pencarian orang (DPO) Polresta Samarinda sebulan lalu.

"Pelaku kita amankan bersama istrinya. Istrinya sementara berstatus saksi. Sedangkan pelaku (Riswan), kita tahan," kata Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Samarinda, Iptu Rehard Nixon di Polresta Samarinda, Rabu (7/8) sore.

Kasus itu dilaporkan nenek korban ke Polresta Samarinda, setelah tahu cucunya mengalami luka memar, bibir dan paha kiri kanannya. Saat itu, Aha mengaku dianiaya ayah tirinya, Riswan, menggunakan bambu dan gayung.

"Kita sudah lakukan visum terhadap korban. Pelaku diketahui kabur ke luar kota, dan kita ketahui berada di Semarang, dan berhasil diamankan," ujar Rehard.

Dalam pemeriksaan, Riswan mengaku menganiaya anak tirinya lantaran kesal korban sering mengambil uang di toko usaha miliknya. "Yang diambil nilainya sampai Rp21 juta. Pengakuan pelaku, korban tidak mau tunjukkan dimana uang yang diambil itu, dan digunakan untuk apa," sebut Rehard.

Istri pelaku juga pernah melihat suaminya memukuli korban. Istrinya juga mengingatkan agar tak menggunakan kekerasan pada anak.

"Sementara keterangan istri pelaku seperti itu. Tapi bukan tidak mungkin dari status saksi, jadi tersangka. Kita dalami keterlibatannya sejauh apa," ungkap Rehard.

Kepada wartawan, Riswan mengakui menganiaya anak tirinya itu. Penyebabnya karena kebiasaan korban mengambil uang. Riswan pun sempat membawa anaknya untuk konsultasi ke psikolog anak karena kebiasaan mengambil uang.

"Terakhir mengambil Rp800.000. Kesemuanya sampai Rp21 juta. Saya juga tidak menyangka, anak sendiri yang ambil uang di toko," sebut Riswan.

Meski tahu sedang dicari polisi, Riswan bergeming. Sebelum ke Semarang, dalam pelariannya dia sempat menyinggahi kota lainnya. Hingga akhirnya, pelarian dia berujung penjara Polresta Samarinda. Penyidik menjeratnya dengan UU No 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga serta UU No 35/20014 tentang perubahan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. (mdk/noe)

Baca juga:
Seorang Ayah di Karangasem Aniaya 3 Anaknya, Ada yang Sampai Patah Tulang
Kesal Rumah Berantakan, Irus Aniaya Balita Pakai Tongkat dan Hanger
Kekerasan Anak di Kabupaten Tasikmalaya Meningkat, 7 Bulan Ada 47 Kasus
Kasus Pelecehan Seksual Pada Anak Banyak Berawal dari Media Sosial
Polisi Telisik Nomor Ponsel Grup WA Predator Anak via Game Online

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.