'Buzzer Kerap Manipulasi Fakta Bisa Pecah Belah Rakyat'

PERISTIWA | 9 Oktober 2019 16:31 Reporter : Didi Syafirdi

Merdeka.com - Keberadaan buzzer atau pendengung di era media sosial (medsos) tidak bisa ditepikan. Tentu yang perlu diingatkan agar buzzer memiliki etika dalam menyebarkan berita atau opini ke masyarakat.

"Bila buzzer memanipulasi opini publik, memanipulasi fakta maka itu salah. Kalau itu terjadi tentu buzzer harus dihapuskan karena bukan hanya membahayakan negara, tetapi bisa memecah belah rakyat," ujar Founder lembaga survei KedaiKOPI Hendri Satrio dalam keterangannya, Rabu (9/10).

Yang paling menakutkan, lanjut Hendri, bila kemudian buzzer-buzzer ini dianggap sebagai salah satu pendorong untuk membenci kelompok lainnya.

"Kalau menurut saya, buzzer yang demikian harus dihilangkan. Itu kan mudah bagi pemerintah. Harusnya bisa, paling enggak segera dilakukan screening terhadap buzzer dan mengajak semua pihak tidak menggunakan buzzer untuk kegiatan negatif," tuturnya.

Hendri menilai, keberadaan buzzer ini harus dibedakan dengan medsos. Medsos sisi positifnya lebih banyak. Paling kentara dengan adanya medsos setiap orang bisa berpendapat tanpa harus menunggu media konvensional seperti televisi, radio, dan surat kabar memuat pemikiran individu yang lain.

Selain itu, dengan medsos, orang bisa lebih eksis mengeluarkan pendapatnya. Tapi, menurut dosen Komunikasi Politik Universitas Paramadina ini, masalahnya adalah banyak orang yang justru bukan menyuarakan opini di medsos, tetapi hanya membaca opini orang lain. Dengan adanya opini orang lain di medsos, maka kemudian medsos dianggap sebagai wahana yang bisa mengatur opini orang lain.

Hendri melanjutkan, karena fenomena itu kemudian dimanfaatkan orang-orang yang memanfaatkan medsos untuk kepentingannya dengan menggunakan buzzer. "Supaya apa? Supaya lebih banyak lagi orang yang memiliki opini sama dengan dia. Jadi ini untuk mempengaruhi opini orang lain," tutur Hendri.

Hendri menilai, sejauh pengamatannya, keberadaan buzzer sangat efektif untuk melakukan propaganda. Pasalnya, rata-rata para buzzer memiliki follower banyak. Itulah yang membuat buzzer sangat laris, tidak hanya diagenda politik, tetapi juga untuk mempromosikan sesuatu.

Sebenarnya, kata Hendri, keberadaan para buzzer ini mudah dikenali. Caranya mereka pasti menggiring opini yang sama, isu yang sama, meskipun caranya berbeda. Untuk itu, ia mengimbau di tengah kondisi negara yang belum stabil setelah Pemilu, para buzzer harus menggunakan hati nuraninya menjaga perdamaian dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Gunakanlah buzzer-buzzer ini untuk kebaikan. Jangan digunakan untuk hal-hal yang justru memutarbalikkan fakta yang akhirnya bisa menghancurkan negara ini," pungkasnya.

Baca juga:
Kata Menkominfo Soal Menjamurnya Buzzer di Media Sosial
Polri Soal Penertiban Buzzer: Yang Jadi Masalah Aktif Sebarkan Isu Provokasi
VIDEO: Istana Merasa 'No Problem' Banyak Buzzer Pendukung Pemerintah
Moeldoko Minta Buzzer Gunakan Kata yang Baik, Jangan Saling Menyakiti
Ngabalin Lebih Setuju Buzzer Antipemerintah Ditertibkan
Moeldoko: Buzzer Harus Ditinggalkan, Pemilu Sudah Selesai

(mdk/did)

TOPIK TERKAIT