Cabuli Keponakan, Seorang Dosen di Jember Ditahan Polisi

Cabuli Keponakan, Seorang Dosen di Jember Ditahan Polisi
Tersangka pencabulan di Jember. ©2021 Merdeka.com
PERISTIWA | 7 Mei 2021 04:33 Reporter : Muhammad Permana

Merdeka.com - RH, dosen FISIP salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Kabupaten Jember, Jawa Timur akhirnya resmi ditahan polisi. Sosok RH yang mengenakan penutup kepala itu dipertunjukkan dalam jumpa pers yang digelar di Mapolres Jember, Kamis (6/5). Sebelumnya, pada Rabu (5/5), RH mulai menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka secara maraton.

"Ditahannya sejak tadi malam setelah menjalani pemeriksaan, ditahan karena dua alat bukti sebagai syarat minimal sesuai KUHP dinyatakan sah. Yakni baju tidur korban, dan rekaman percakapan antara korban dan tersangka," kata Wakapolres Jember Kompol Kadek Ary Mahardika saat jumpa pers di Mapolres Jember.

Kasus pencabulan ini dilakukan RH sebanyak dua kali sejak akhir tahun 2020 lalu di kediamannya. Korban adalah keponakannya sendiri yang masih berusia 16 tahun. Terungkapnya kasus ini berawal dari laporan korban kepada ibu kandungnya yang tinggal terpisah.

Modus yang digunakan pelaku yakni berpura-pura menyebut bahwa korban menderita kanker payudara dan menawarkan pengobatannya. Meski tawaran itu telah ditolak oleh korban, namun pelaku tetap memaksanya.

"Lokasi peristiwa adalah di rumah pelaku," tutur Kadek.

Peristiwa itu dilakukan ketika rumah pelaku sedang dalam kondisi sepi. Pelaku selama ini memang menjadi orang tua asuh dari korban. Pelaku mengadopsi keponakan dari istrinya itu, karena tidak memiliki keturunan.

Untuk melengkapi proses hukum, polisi telah menyita sejumlah barang bukti di antaranya baju tidur bergambar Doraemon milik korban, dan ponsel berisi rekaman suara percakapan antara korban dengan tersangka. Juga ada bukti tambahan dari keterangan ahli, lanjutnya, yakni psikiater RSD dr. Soebandi Jember.

"Tetapi alat bukti yang paling kuat adalah suara rekaman percakapan antara korban dan tersangka yang mengungkap modus kejahatan tersangka," tutur Kadek.

Saat terjadi peristiwa kedua, korban tanpa sepengetahuan pelaku, merekam peristiwa tersebut melalui audio ponselnya. Selanjutnya proses hukum berlanjut untuk melengkapi berkas dan dikirim ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember.

"Berkasnya sudah kami lengkapi, dan kami kirimkan SPDP (surat pemberitahuan dimulainya penyidikan) ke Kejaksaan Negeri Jember," tutur Kadek.

Polisi mengenakan Pasal 82 ayat (2) Jo Pasal 76E UU Perlindungan Anak. "Ancaman hukuman minimal 5 Tahun penjara dan maksimal 15 Tahun penjara. Tetapi karena korban adalah anak asuh dari pelaku, maka ancaman hukuman terhadap RH ini ditambah 1/3 dari ancaman (hukum yang diterapkan)," pungkas Kadek.

RH selama ini dikenal sebagai salah satu dosen yang cukup cemerlang di kampusnya. Peraih gelar PhD bidang kebijakan publik dari Charles Darwin University ini, sebelumnya digadang-gadang akan dicalonkan menjadi guru besar dalam usia yang relatif masih cukup muda. Namun pasca menjadi tersangka pada pertengahan April 2021, jabatan RH sebagai koordinator program S3 di kampusnya mengajar, langsung dicopot. (mdk/cob)

Baca juga:
Terinspirasi Video Porno, Pria di Klaten Tega Cabuli Anak Tiri
Nekat Cabuli Pengasuh Anaknya, Begini Nasib Pria di Medan
Tak Tahan Sering Dicabuli Ayah, Remaja Putri di Tangerang Nekat Kabur dari Rumah
Siswi SD di Tasikmalaya Dicekoki Miras Lalu Dicabuli Tiga Pemuda
Elvis Cabuli Gadis Disabilitas di Kebun Kelapa Milik Warga Kupang
Tega, Karyawan Cabuli Anak Pemilik Kafe Berkali-kali

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami