Cara Cegah dan Penanganan Cacar Monyet

Cara Cegah dan Penanganan Cacar Monyet
cara cegah dan penanganan Cacar Monyet. ©CDC Public Health Image Library
NEWS | 20 Mei 2022 14:33 Reporter : Supriatin

Merdeka.com - Dunia kini harus berhadapan dengan penyakit monkeypox atau cacar monyet. Padahal, pandemi Covid-19 dan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya belum usai. Bagaimana cara cegah dan penanganan cacar monyet?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendapatkan laporan penyakit cacar monyet pada 7 Mei 2022. Kasus cacar monyet terkonfirmasi pada seseorang yang melakukan perjalanan dari Inggris ke Nigeria sejak akhir April hingga awal Mei 2022.

Sebelum penyakit ini merebak lebih luas ke berbagai negara di dunia, WHO menyampaikan cara mencegah dan menangani cacar monyet. WHO mengatakan, setiap orang yang mengalami sakit selama perjalanan atau setelah kembali dari daerah endemik harus dilaporkan ke tenaga kesehatan. Termasuk informasi tentang semua perjalanan dan riwayat imunisasi terakhir.

Penduduk dan pelancong ke negara-negara endemik harus menghindari kontak dengan hewan sakit (mati atau hidup) yang dapat menampung virus monkeypox (tikus, marsupial, primata) dan harus menahan diri dari makan atau menangani hewan buruan (daging semak).

"Pentingnya kebersihan tangan menggunakan sabun dan air, atau pembersih berbasis alkohol harus ditekankan," kata WHO dikutip dari laman who.it, Jumat (20/5).

Dalam penangananya, pasien dengan cacar monyet harus diisolasi dan diberikan perawatan suportif selama periode infeksi. Pelacakan kontak harus dilakukan tepat waktu.

Kemudian tindakan pengawasan dan peningkatan kesadaran terhadap penyakit baru di penyedia layanan kesehatan sangat penting. Untuk mencegah kasus sekunder cacar monyet meluas lebih lanjut, diperlukan manajemen yang efektif.

Menurut WHO, petugas kesehatan yang merawat pasien suspek atau terkonfirmasi cacar monyet harus menerapkan kewaspadaan pengendalian infeksi standar, kontak, dan droplet.

"Ini termasuk semua pekerja seperti petugas kebersihan dan penatu yang mungkin terpapar dengan pengaturan perawatan pasien, tempat tidur, handuk, atau barang-barang pribadi," jelasnya.

Sementara sampel yang diambil dari orang atau hewan diduga terinfeksi virus cacar monyet harus ditangani oleh staf terlatih yang bekerja di laboratorium dan dilengkapi peralatan sesuai.

Vaksin dan obat untuk cacar monyet memang sudah tersedia. Namun WHO menyebut belum tersedia secara luas.

Hingga saat ini, WHO tidak merekomendasikan pembatasan apa pun untuk perjalanan dan perdagangan dengan Nigeria atau Inggris meskipun ditemukan penyakit cacar monyet.

2 dari 2 halaman

Penularan Cacar Monyet

Sejumlah negara diduga sudah mendeteksi adanya kasus cacar monyet, di antaranya Kanada, Amerika Serikat (AS), Inggris, Portugal, Spanyol, dan Singapura.

WHO mencatat, kasus pertama yang dilaporkan kepada organisasinya mengalami ruam pada 29 April 2022. Dia meninggalkan Nigeria pada 3 Mei dan tiba di Inggris 4 Mei. Di hari yang sama, kasus dibawa ke rumah sakit. Berdasarkan riwayat perjalanan dan penyakit ruam, dia diduga terpapar cacar monyet dan segera diisolasi.

Pada 11 Mei, pelacakan kontak ekstensif telah dilakukan untuk mengidentifikasi kontak yang terpapar di fasilitas perawatan kesehatan, komunitas, dan penerbangan internasional.

WHO menjelaskan cacar monyet adalah zoonosis sylvatic dengan infeksi manusia insidental yang biasanya terjadi secara sporadis di bagian hutan Afrika Tengah dan Barat. Penyakit ini disebabkan oleh virus monkeypox yang termasuk dalam famili orthopoxvirus.

Cacar monyet dapat ditularkan melalui kontak dan paparan droplet yang diembuskan. Masa inkubasi cacar monyet biasanya 6 hingga 13 hari, tetapi dapat berkisar dari 5 hingga 21 hari. Penyakit ini sering sembuh sendiri dalam waktu 14 hingga 21 hari. Gejalanya bisa ringan atau parah, dan lesi bisa sangat gatal atau nyeri.

"Reservoir hewan tetap tidak diketahui, meskipun kemungkinan berada di antara hewan pengerat. Kontak dengan hewan hidup dan mati melalui perburuan dan konsumsi hewan liar atau daging semak dikenal sebagai faktor risiko," jelas WHO.

Ada dua clades atau kelompok taksonomi virus cacar monyet, yakni dari Afrika Barat dan clade Congo Basin (Afrika Tengah). Meskipun infeksi virus cacar monyet di Afrika Barat kadang-kadang menyebabkan kondisi parah pada beberapa individu, penyakit biasanya sembuh sendiri.

Rasio kasus fatalitas untuk clade Afrika Barat telah didokumentasikan menjadi sekitar 1 persen, sedangkan untuk clade Congo Basin kemungkinan 10 persen. Anak-anak juga berisiko lebih tinggi terpapar penyakit ini.

Cacar monyet yang menjangkiti ibu hamil dapat menyebabkan komplikasi, bayi ikut terpapar cacar monyet atau lahir mati.

"Kasus cacar monyet yang lebih ringan mungkin tidak terdeteksi dan menunjukkan risiko penularan dari orang ke orang," tulis WHO. (mdk/rnd)

Baca juga:
Ketahui Apa Itu Cacar Monyet atau Monkeypox serta Ciri-Ciri Masalah Kesehatan Ini
Cacar Monyet Sudah Sampai Singapura, Bagaimana di Indonesia?
Apa Itu Cacar Monyet?
Sudah Menyebar ke Eropa dan Amerika, Seberapa Berbahaya Penyakit Cacar Monyet?
AS Temukan Kasus Infeksi Cacar Monyet Pertama
Cegah Penyebaran Virus Cacar Monyet, Bandara Adisutjipto Pasang Thermoscanner

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini