Cara Susi 'Tenggelamkan Kapal' Perlu Dipertahankan Atasi Sengketa Natuna

Cara Susi 'Tenggelamkan Kapal' Perlu Dipertahankan Atasi Sengketa Natuna
PERISTIWA | 9 Januari 2020 18:03 Reporter : Nur Habibie

Merdeka.com - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana ingin cara yang dipakai mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti untuk mengusir nelayan asing di perairan Indonesia perlu dipertahankan. Hal itu ia sampaikan, terkait konflik yang terjadi di perairan Natuna Utara.

"Iya harus dipertahankan (penenggelaman kapal), kayak orang enggak punya perasaan atau naif ya. Dia akan melakukan tindakan seperti itu," kata Hikmahanto di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (9/1).

Tak hanya itu, Hikmahanto ingin kemampuan nelayan-nelayan Indonesia dalam menangkap ikan di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) ditingkatkan. Serta, dilengkapi dengan kapal yang dapat mengarungi lautan luas.

"Nelayan kita harus ditingkatkan kemampuan menangkap ikan di ZEE, lalu mereka dilengkapi kapal yang mampu mengarungi laut itu artinya pemerintah harus ada upaya memberikan insentif dan kemudian patroli kita harus menjalani tugasnya, harus menangkapi," ujarnya.

Ia pun menegaskan, apabila cara Susi masih dapat dilakukan yakni tenggelam kapal. Maka, tak menutup kemungkinan tak adanya kapal nelayan asing yang masuk ke perairan Indonesia untuk mengambil ikan.

"Bisa jadi nelayan Cina enggan masuk ke ZEE, pada jaman bu Susi karena takut ditenggelamin," tegasnya.

Selain itu, semestinya Laut Natuna tersebut dieksploitasi oleh Indonesia. Namun, hal itu mesti adanya keseimbangan dari jumlah nelayan yang ada yakni memperbanyak nelayan Indonesia.

"Harusnya kita yang mengeksploitasi (Natuna), tapi kalau kita bilang kita mengeksploitasi tapi nelayan tidak ada di sana buat apa? Maka saya nyatakan harus kita hadirkan nelayan kita," jelasnya.

"Kalau kita dengar nelayan Cina ada yang suruhan gitu ya, tapi kan apakah negara kita mau menggaji nelayan-nelayan kita untuk pergi ke Natuna Utara? Itukan ZEE kalau di sana menguntungkan ya mereka datang kalau enggak ya enggak datang," pungkasnya.

1 dari 1 halaman

Coast Guard China Diprediksi Bakal Kembali ke Natuna

Hikmahanto mengatakan, Coast Guard China bakal kembali lagi ke perairan Natuna Utara. Kini, Coast Guard Cina sudah kembali ke negara asalnya dan dipastikan sudah tak ada lagi di perairan Natuna Utara.

"Pengusiran (Coast Guard) enggak ada, perang-perangan di tengah laut. Mereka kalau keluar bensinnya sudah habis, tapi kita narasikan mereka keluar atau kalah," kata Hikamahanto.

Menurut dia, China tidak akan mundur dari Natuna. Dia memprediksi negeri tirai bambu bakal kembali ke Natuna Utara.

"Anda harus paham rakyat China dan pemerintah tidak akan mundur dari klaim garis kedaulatan mereka. Bisa-bisa aja dia buat garis dan dia pertahankan tidak mau mundur dari situ," ungkapnya.

Indonesia bisa berada di perairan Natuna Utara, apabila China sudah tak punya lagi logistik serta kekuatan selama berada di perairan.

"Kalau misalnya China enggak punya uang, enggak punya kekuatan. Mungkin kita bisa berada di situ, tapi kan mereka punya power," ujarnya.

Sebelumnya, Kapuspen TNI Mayjen TNI Sisriadi mengatakan, permasalahan atau konflik yang telah terjadi di perairan Natuna sudah terselesaikan. Masalah tersebut dapat terselesaikan, setelah Presiden Joko Widodo turun tangan langsung ke lokasi permasalahan itu.

"Untuk Natuna kita laksanakan instruksi presiden kita kemudian operasi TNI, karena itu sifatnya operasi rutin tetap kita lakukan. Untuk intensitasnya kami melihat situasi taktis dilapangan. Dengan amatan dari TNI AU melalui udara, mereka artinya kapal-kapal Cina yang melakukan ilegal fishing mereka sudah keluar dari Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) kita paska kunjungan presiden ke Natuna," kata Sisriadi di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (9/1).

Menurutnya, kunjungan Jokowi ke Natuna itu juga membawa sebuah pesan. Sehingga, permasalahan yang terjadi di Natuna beberapa waktu lalu sudah dapat terselesaikan.

"Saya kira kunjungan presiden ke Natuna merupakan pesan dari pemerintah kita ke Beijing, saya kira itu dibaca dengan cermat oleh Beijing bahwa kapal-kapal nelayan yang di backup oleh kapal cost guard mereka yang dalam hal ini kapal pemerintah, sudah meninggalkan wilayah ZEE," ungkapnya.

Ia pun menegaskan, saat ini sudah tak ada lagi permasalahan yang terjadi di perairan Natuna. Kapal atau Cost Guard pun sudah meninggalkan perairan Natuna.

"Sudah tak ada lagi (masalah di Natuna), (Cost Guard) sudah tak ada lagi," tegasnya. (mdk/bal)

Baca juga:
Prabowo: China Harus Izin Kalau Mau Eksploitasi Ikan dan Mineral di Natuna
BKPM Pastikan Ketegangan di Laut Natuna Tak Ganggu Investasi China di Indonesia
Airlangga Soal Hubungan Indonesia-China: Sudah Tidak Panas
Perizinan Ketat Jadi Alasan Nelayan Indonesia Tak Melaut ke Natuna
Mahfud Sebut Kapal China Sudah Keluar Perairan Natuna: Kita Ndak Usah Ribut Lagi
Menperin soal Sengketa Natuna: Industri China di Indonesia Tak Terpengaruh
Cara Susi 'Tenggelamkan Kapal' Perlu Dipertahankan Atasi Sengketa Natuna

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami