Cegah Penularan Covid-19, BNPB Tak Bangun Huntara di Pengungsian Bencana NTT

Cegah Penularan Covid-19, BNPB Tak Bangun Huntara di Pengungsian Bencana NTT
Foto udara proses pencarian korban banjir bandang di Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Selasa (6/4). ©2021 Merdeka.com
PERISTIWA | 7 April 2021 21:23 Reporter : Supriatin

Merdeka.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan pemerintah tidak membangun hunian sementara atau huntara di lokasi pengungsian bencana dampak siklon tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ini bertujuan mencegah risiko penularan Covid-19.

"BNPB atau pemerintah pusat tidak membangun huntara atau hunian sementara," kata Doni dalam konferensi pers, Rabu (7/4).

Pemerintah mendorong masyarakat terdampak bencana di NTT untuk menyewa rumah keluarga atau saudara terdekat. Biaya sewa rumah nantinya akan ditanggung pemerintah yakni sebesar Rp 500 ribu setiap bulan.

"Ini semata-mata untuk proses masyarakat tidak berada di huntara, tetapi bisa menyewa rumah keluarga atau saudara terdekat, sehingga risiko terpapar Covid-19 bisa kita kurangi," ujarnya.

Meski demikian, pemerintah pusat belum menyalurkan bantuan Rp 500 ribu bagi setiap keluarga terdampak bencana. Penyaluran bantuan baru dilakukan setelah Pemerintah Provinsi NTT mengajukan usulan permohonan dana ke pemerintah pusat.

"Kami meminta para pimpinan daerah untuk mempercepat usulan kepada pemerintah pusat atau BNPB agar BNPB bisa menyalurkan bantuan dana sebesar Rp 500 ribu per keluarga untuk setiap bulannya," ucap dia.

Pemerintah pusat juga mendistribusikan puluhan ribu kit swab antigen untuk mendeteksi Covid-19 di daerah terdampak bencana di NTT. Penggunaan swab antigen diharapkan diprioritaskan untuk para pengungsi.

"Kami serahkan kepada pemerintah provinsi pendistribusiannya, sehingga pemerataannya bisa berjalan lebih baik," tandasnya.

Bencana alam berupa angin kencang, banjir hingga tanah longsor terjadi di NTT sejak Minggu (4/4). Bencana ini merupakan dampak siklon tropis Seroja. Siklon tropis ini mulai terdeteksi di Laut Sawu, NTT, pada 2 April 2020.

Bencana alam tersebut mengakibatkan 138 orang meninggal dan 61 hilang. Sebanyak 14 kabupaten dan kota terdampak, yakni: Kabupaten Flores Timur, Malaka, Lembata, Ngada, Alor, Sumba Timur, Sabu Raijua, Rote Ndao, Timor Tengah Selatan, Ende, Sumba Barat, Belu, Timor Tengah Utara, dan Kota Kupang. (mdk/yan)

Baca juga:
BNPB: 138 Warga Meninggal Dunia akibat Bencana di NTT
1.992 Rumah Rusak akibat Bencana di NTT, 87 Fasilitas Umum Terdampak
Mensos Risma Cerita Sulitnya Salurkan Bantuan ke Korban Bencana di NTT
Antar Bantuan ke Lokasi Bencana, Kapolda NTT Sewa Sepeda Motor
Naikkan Harga Material Bangunan saat Bencana, 3 Pengusaha Ditangkap Polda NTT

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami