Cerita Idulfitri di Tengah Pandemi dari Para Tenaga Medis

Cerita Idulfitri di Tengah Pandemi dari Para Tenaga Medis
PERISTIWA | 26 Mei 2020 05:06 Reporter : Bachtiarudin Alam

Merdeka.com - Idulfitri tahun ini dirasa berbeda dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini, momen hari kemenangan itu tidak dirayakan dengan saling berkunjung secara langsung untuk silaturahmi dengan sanak keluarga, saudara maupun sahabat. Ini berdasarkan imbauan pemerintah untuk menjalankan momen 'lebaran di rumah aja', karena pandemi Covid-19.

Di saat orang-orang masih bisa bertemu keluarga, para tenaga medis justru harus menahan diri. Mereka menyadari salah satu pihak yang berisiko tinggi. Tak hanya itu, ada pula di antara mereka yang merayakan hari kemenangan dengan tetap bekerja merawat pasien.

Seperti diceritakan Miskha kepada merdeka.com, Senin (25/5). Sebagai bidan di wilayah Banten, dia harus tetap bertugas dan siap sedia melayani masyarakat yang ingin melahirkan, terlebih di saat pandemi saat ini tenaga medis harus siap siaga di rumah sakit.

"Momentum lebaran di tengah pandemi saat ini kami selalu bertugas tidak adanya cuti bersama, karena kita tahu bahwa pasien melahirkan tak pernah mengenal waktu. Jadi kami harus selalu siap siaga berjaga di rumah sakit," tutur Miskha.

Miskha menceritakan, hal yang paling dirindukan yaitu bisa bertemu silaturahmi langsung bertatap muka dengan saudara dan kerabat. Tetapi itu semua juga tidak bisa dilakukan. Dia menyadari, tenaga medis termasuk orang yang berisiko.

"Jadi kami tahu diri dan mengkarantina mandiri di rumah dan malamnya sudah harus kerja lagi," tambahnya.

Meskipun tidak bersentuhan langsung dengan pasien positif Corona, sebagai bidan, Miska tetap harus mengenakan alat pelindung diri (APD) saat membantu proses persalinan. Dia merasakan tantangan yang berat selama bertugas sekitar tujuh jam memakai APD, suhu panas menyelimuti. Sekadar mengusap keringat pun sulit.

"Memang biasanya kami memakai APD lengkap hanya saat para ibu melakukan proses persalinan tapi kali ini rasanya berbeda. Bisa membayangkan betapa panasnya dan kami saat kenakan APD, hingga mengelap keringat sendiri saja tidak bisa, kecuali kita membuka APD-nya," ungkapnya.

Hal serupa juga diungkapkan Rahma. Salah satu asisten apoteker di rumah sakit kawasan Jakarta. Dia tetap bertugas di momen Lebaran. Dia sangat merindukan momen lebaran seperti tahun sebelumnya, tanpa adanya Covid-19.

"Sukanya itu, saya sangat bangga mungkin bisa memberikan pelayanan terbaik bagi para pasien. Dukanya mungkin tidak bisa bersilaturahmi bersama keluarga walau semisal sudah pakai masker, hand sanitizer. Tapi kita tidak tahu dan sangat rentan untuk terpapar virus tersebut, lebih baik jaga jarak," tutur Rahma.

Situasi di rumah sakit saat momen hari Raya Idulfitri cenderung lebih sepi. Hal itu dikarenakan minimnya dokter yang praktik dan adanya layanan klinik fever serta skrining masuk rumah sakit.

"Pada intinya kuantitas pengunjung rs selama Covid sudah menurun, karena adanya pembatasan dan rawat dirumah maupun konsultasi via whatsapp," lanjutnya.

1 dari 1 halaman

Semakin Eratnya Ikatan Antar Tenaga Medis

Seperti halnya Miskha dan Rahma, Christie sebagai perawat di salah satu rumah sakit di Kota Depok pun tetap bertugas saat momen hari Raya Idulfitri. Dia tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya karena tidak pulang dan berkumpul bersama keluarga di rumah. Teman-temannya sesama tenaga medis juga memilih untuk bertahan di rumah sakit.

"Kita juga takut menularkan, jadi banyak yang stay di rumah sakit dan takut orang rumah terpapar virus. Banyak yang sedih juga tidak bisa ketemu keluarga, tapi positifnya temen-temen di rumah sakit jadi kaya keluarga sendiri bisa mengobati kerinduan, walau sedih tak bisa lebaran dengan keluarga," tuturnya,

Christie tidak sempat memikirkan rencana-rencananya untuk silaturahmi saat momen bulan Ramadhan seperti buka bersama yang menjadi budaya di masyarakat Indonesia untuk sekedar menjalin silaturahmi selama bulan Ramadhan.

"Tidak sadar tiba-tiba Lebaran, ternyata sudah ngelewatinnya tanpa bukber biasanya kan ketemu temen dari SD sampai kuliah jadi ajang reuni. Tepi tetap ikhlas, sebagai tenaga medis jalani tanggung jawab ini," ungkapnya.

Tenaga medis merupakan ujung tombak penyembuhan pasien virus corona. Dia meminta kepada masyarakat untuk sadar menjaga kesehatan dari diri sendiri, karena itu yang menjadi prioritas saat ini.

"Mengharapkan banget kesadaran pribadi, karena semakin banyaknya yang keluar ke tempat keramaian. Itu jelas membuat tenaga medis kewalahan kan nantinya dalam berjuang nanganinnya. Ini memang konsekuensi pekerjaan, tetapi apa salahnya untuk mencoba mencegah bukan?," kata Christie. (mdk/noe)

Baca juga:
Pasien Positif Covid-19 Sembuh di Bali 295 Orang
Bagaimana Nasib Tenaga Medis Corona di RS Swasta?
PSBB di Surabaya-Gresik-Sidoarjo Diperpanjang Hingga 8 Juni 2020
Anggota DPR Nilai Belum Saatnya Terapkan New Normal
2 Pedagang Positif Covid-19, Pasar Antri di Kota Cimahi Ditutup 14 Hari
Hasil Rapid Test Reaktif Covid-19, Pemudik Masuk Bali Bakal Dipulangkan

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agama Sejatinya Tidak Menyulitkan Umatnya - MERDEKA BICARA with Menteri Agama Fachrul Razi

5