Cerita Mantan Jawara Pasar Baru Bangun Masjid Bergaya Tionghoa

Cerita Mantan Jawara Pasar Baru Bangun Masjid Bergaya Tionghoa
Masjid Babah Alun Desari. ©2021 Merdeka.com
PERISTIWA | 12 Februari 2021 22:34 Reporter : Ya'cob Billiocta

Merdeka.com - Ada cerita menarik dari Masjid Babah Alun Desari di pinggir Tol Depok-Antasari (Desari) Kota Jakarta Selatan. Selain bentuknya yang unik karena menyerupai bangunan etnis Tionghoa, ternyata masjid tersebut didirikan oleh mantan jawara Pasar Baru.

Muhammad Jusuf Hamka, pendiri Masjid Babah Alun Desari mengatakan, pembangunan Masjid Babah Alun Desari merupakan ikhtiarnya dalam membangun 1.000 masjid di Indonesia.

"Saya pernah jadi jawara, dulunya tukang gelut di Pasar Baru," kata Jusuf, Jumat (12/2). Dikutip dari Antara.

Tukang gelut yang dimaksudkan Jusuf adalah dirinya sebagai orang yang sering berkelahi di wilayah Pasar Baru.

Jusuf menyebut dirinya terlahir dari orang tua keturunan Tionghoa asal Samarinda. Sedangkan dirinya lahir dan besar di Pasar Baru, Jakarta.

Sejak muda, dia tinggal di Krekot Bunder Pasar Baru, di belakang Pasar Metro Atom, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

"Jadi dari ujung ke ujung Krekot Bunder itu orang kenal saya, dulu pernah jadi bekas RW 03 Pasar Baru," ujar Jusuf.

Sejak tahun 1981, Jusuf telah memeluk Islam, diangkat sebagai anak ideologi oleh Ulama Besar Indonesia, Profesor Buya Hamka.

Kini Jusuf bertransformasi sebagai pengusaha di bidang infrastruktur sukses yang membangun sejumlah jalan tol di Jakarta, Depok maupun Bogor.

Masjid Babah Alun Desari bergaya oriental ketiga yang dibangun Jusuf Hamka. Setelah sebelumnya membangun Mushala Babah Alun di kawasan Ancol dan Masjid Babah Alun di bawah kolong Tol Ir Wiyoto Wiyono, Sunter, Jakarta Selatan.

"Sebenarnya masjid pertama yang saya bangun ada di Kalimantan dekat pabrik saya," kata Jusuf yang bernama Tionghoa Josef Alun.

Sejak Agustus 2020, Masjid Babah Alun Desari diresmikan oleh Pemerintah Kota Jakarta Selatan. Proses pembangunan masjid tersebut memakan waktu delapan bulan.

Masjid yang terdiri atas satu lantai memiliki luas sekitar 200 meter persegi memiliki daya tampung hingga 200 orang jemaah. Tapi selama masa pandemi Covid-19 diberlakukan pembatasan sosial dengan jaga jarak dibatasi hingga 50 persen.

Jusuf sengaja membangun masjid dengan arsitektur Tionghoa sebagai syiar Islam sekaligus sebagai wisata religi untuk masyarakat. (mdk/cob)

Baca juga:
Sekjen PDIP: Indonesia Dibangun dengan Gotong Royong Termasuk Bersama Tionghoa
Jumlah Warga Jember Ibadah Imlek di Klenteng Tertua Pay Lien San Berkurang Drastis
Libur Imlek, Penumpang Tujuan Bandara I Gusti Ngurah Rai Meningkat
Penuh Kesederhanaan, Ini Cerita Warga Cirebon Rayakan Imlek di Tengah Covid-19
Walkot Tangerang Pantau Perayaan Imlek di Vihara Pastikan Penerapan Prokes

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami