Cerita Penari Gandrung Sewu: Capek Tapi Saya Bangga

PERISTIWA » BANYUWANGI | 12 Oktober 2019 20:07 Reporter : Mohammad Ulil Albab

Merdeka.com - Sebanyak 1350 penari sejak Juli 2019 sudah melampaui proses latihan hingga menanti agar bisa tampil terbaik dalam pagelaran Gandrung Sewu yang berlangsung di Pantai Marina Boom, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (12/10). Sehari sebelum tampil, para penari gandrung sudah stanby di Banyuwangi kota untuk persiapan gladi bersih hingga merias wajah.

Salah satu penari gandrung yang tampil, Hany Alok Hardiastuti (16) dari SMA Negeri 1 Tegaldlimo, sudah siap antre merias wajah sejak habis subuh, sekitar pukul 04.30 WIB, namun dia baru mendapat giliran rias pada pukul 06.00 WIB.

"Jam 4 pagi saya sudah bangun, dan antre untuk rias dan berangkat ke sini, ya rasanya capek tapi lega sekaligus bangga bisa kembali ikut dalam Gandrung Sewu," kata Hany usai pagelaran Gandrung Sewu.

©2019 Merdeka.com

Gandrung Sewu berlangsung sekitar 45 menit sejak pukul 15.00 WIB. Usai menari, Hany langsung disambut kedua orang tuanya, dipeluk dan dicium. Hany sudah kali kedua ikut dalam Gandrung Sewu dengan proses seleksi yang cukup kompetitif.

"Dah dua kali ikut Gandrung sewu. Seleksi lumayan sulit, tapi buahkan hasil. Dari sekolah awal yang seleksi 20 anak, yang keterima 16. Latihan di kec dua kali, dan lima di kabupaten," kata Hany yang sudah menarik sejak duduk di TK ini.

Sementara itu, Ibu dari Hany, Tutik Hendrawati (47) merasa bangga anaknya tampil di Gandrung Sewu. Dia melihat tidak hanya bisa mewakili nama sekolahnya, setelah aktif menari, anaknya dinilai lebih mudah bergaul dan memiliki banyak wisatawan.

©2019 Merdeka.com

"Dari sekolah dikirim ke kecamatan, saya senang anak saya bisa tampil, mewakili sekolah. Dari TK dia nari, ikut sanggar dari SD, tampil di Gandrung sudah kali. Saya lihat, anak saya bisa lebih bergaul dengan teman temannya," katanya.

Sementara itu, Nanda yang masih duduk di bangku kelas 6 SD 2 Kedung Gebang Tegalsari, juga ikut serta menjadi peserta tari Gandrung Sewu. Berperan sebagai regenerasi gandrung cilik, Nanda bersama 70 anak asal Kecamatan Tegaldlimo menginap di SMP Negeri 1 Banyuwangi. Pagi sekitar pukul 03.30 Nanda dan teman-temannya sudah bangun untuk persiapan, mulai dari mandi hingga antre rias.

"Sudah mandi, setengah 4 sudah bangun. Mandinya di SMP Negeri 1 Banyuwangi, ada yang cari keluar ke musala. Jam 4 sampai jam 12 makeup selesai," katanya.

(mdk/hhw)