Cerita Pendiri Padepokan Bela Diri di Garut Dapat Gelar Raja Kandang Wesi

PERISTIWA | 24 Januari 2020 14:25 Reporter : Mochammad Iqbal

Merdeka.com - Berawal dari penghargaan atas jasanya mendirikan padepokan bela diri Syahbandar Kari Madi, Nurseno SP Utomo mendapatkan gelar raja dari forum komunikasi raja-raja dan sultan Nusantara yang diketuai Maskut Toyib. Namun kini, seiring munculnya kerajaan-kerajaan di sejumlah wilayah, ia pun menjadi salah satu sosok dari Garut yang disorot.

Nurseno sendiri diketahui memiliki kerajaan Kandang Wesi di Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut. Saat ditemui di salah satu kafe di Garut, Nurseno mengaku enggan disamakan dengan raja palsu di Keraton Agung Sejagat. Selain itu, ia juga mengaku tidak mematok iuran kepada mereka yang ingin menjadi pengikutnya.

Ia menyebut bahwa isu raja-raja yang bermunculan saat ini hanyalah hal yang biasa saja. "Ini hanya euforia dari apa yang terjadi tentang banyaknya orang yang mengklaim kerajaan-kerajaan," ujar Nurseno, Jumat (24/1).

1 dari 2 halaman

Dapat Gelar Raja Tahun 2014

Nurseno menjelaskan, bahwa ia mendapatkan gelar raja di tahun 2014 dari forum komunikasi raja-raja dan sultan Nusantara yang diketuai oleh Maskut Toyib yang merupakan Kepala Budaya TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Gelar raja yang disematkan sendiri adalah Raja Kandang Wesi.

"Saya diberi gelar raja sebagai penghargaan atas jasa saya mendirikan padepokan bela diri Syahbandar Kari Madi yang berdiri sejak tahun 1998. Gelar raja ini hanya gelar saja, tapi saya tidak pernah mendirikan sebuah kerajaan," katanya.

Ia menjelaskan bahwa secara kajian sejarah, Kandang Wesi memang terdapat kerajaannya, namun Nurseno mengaku hanya sebagai pemangku adat untuk menjaga budayanya.

Nurseno sendiri mengaku tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai raja, termasuk para murid di padepokan bela dirinya juga tidak pernah disebut sebagai pengikut kerajaan yang menggunakan kostum khusus.

Meski demikian, Nurseno mengaku dirinya memiliki kostum khusus namun tidak untuk muridnya di padepokan. "Pangkat-pangkatan juga tidak ada. Semuanya itu hanya untuk menjaga budaya saja, tidak lebih," akunya.

2 dari 2 halaman

Tak Pernah Ajarkan Aliran Sesat

Selain itu, Nurseno mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah mengajarkan aliran sesat kepada para muridnya di padepokan bela diri miliknya. Ia menyebut tidak pernah melarang muridnya untuk salat, apalagi sampai mengajak untuk menyimpang dari ajaran agama.

"Kalau saya mengajak warga disana untuk shalat menghadap ke arah timur itu sesat, silahkan saja tanya langsung kepada warga di Tegalgede (Pakenjeng, Garut). Yang ada malah saya sering ikut membantu warga untuk pembangunan mesjid," ucapnya.

Nurseno sendiri mengaku bahwa ia merupakan warga Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut sejak lahir. Ia pun tidak menampik bahwa dirinya sempat diisukan sebagai aliran sesat, namun Nurseno tidak merasa terganggu dan mengaku menanggapi hal tersebut dengan biasa saja.

Ia menyebut bahwa pemerintah dan aparat setempat juga sudah mengetahui aktivitas di kerajaannya. Namun Nurseno secara pribadi lebih sering menyebut tempatnya sebagai padepokan, bukan kerajaan.

"Karena kan lebih banyak yang belajar bela diri. Orang Koramil juga sudha menghubungi saya secara langsung. Dan sejak Kerajaan Kandang Wesi berdiri saya tidak pernah meminta murid-murid saya untuk menolak NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), namun malah mengajak agar menjaga adat budaya bangsa demi keutuhan NKRI," sebutnya.

Nurseno sendiri mengaku cukup menyesalkan dengan isu yang berkembang di tengah masyarakat yang menyebut dirinya mengajarkan aliran sesat hingga memungut iuran kepada mereka yang ingin menjadi pengikutnya.

"Saya tak punya anggota kerajaan. Tak pernah memungut iuran. Bisa dibuktikan itu semua. Kerajaan ini juga tidak ada urusan dengan agama, walau saya orang beragama. Sudah jelas berbeda dengan Keraton Agung Sejagat yang memang menipu," ujarnya. (mdk/gil)

Baca juga:
Seluk-Beluk Kesultanan Selaco di Tasikmalaya, Sang Sultan Mengaku Trah Raja Pajajaran
Periksa 8 Orang, Polisi Dalami Dugaan Unsur Pidana Terkait Sunda Empire
Ketua DPR Minta BIN Cermati Fenomena Kemunculan Kerajaan Baru
Keraton Agung Sejagat Dipastikan Bukan Penerus Kerajaan Majapahit
Purworejo Heboh Keraton Agung Sejagat, di Sukoharjo Ada Kasultanan Karaton Pajang
Eksistensi Keraton Pajang dan Protes Keras Kasunanan Surakarta
Muncul Kesultanan Selacau di Tasik, Punya 6 Menteri dan Uang di Bank Swiss

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.