Cerita Penjagal Hewan Kurban usai Sembelih Sapi Limousine Milik Kapolri

PERISTIWA | 11 Agustus 2019 15:00 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Dengan wajah tenang, Sarman (60) menyembelih hewan kurban milik Kapolri Jenderal Tito Karnavian, di Mabes Polri, Jakarta. Bau anyir darah segar menyeruak saat urat leher sapi limousine berwarna coklat itu putus. Sapi itu tidak banyak berontak.

Bercak darah yang muncrat ke wajah bak makanan sehari-hari bagi Sarman. Wajar, karena ia telah berkecimpung di profesi penjagalan selama 30 tahun lebih.

Sarman dan kawan-kawan penyembelih hewan lainnya bekerja di rumah pemotongan hewan Slipi. Saat menyembelih dua ekor sapi milik Kapolri Jenderal Tito dan Wakapolri Komjen Pol Ari Dono, mereka sangat cekatan menguliti dan memotong bagian-bagian sapi.

Saat berbincang dengan merdeka.com, pria paruh baya itu tak merasa ada perbedaan saat menyembelih hewan baik di momen Idul Adha ataupun tidak. Karena sejatinya, Sarman mengatakan menyembelih hewan secara baik adalah bentuk penghormatan manusia kepada binatang.

Manusia, sebagai mahluk omnivor, sudah seharusnya memberikan cara terbaik kepada binatang yang dikonsumsi. Caranya adalah menyembelih dengan tidak menyiksa.

"Pakai pisau yang tajam. Tidak tumpul, kita (penjagal) juga harus tahu tekniknya gimana biar tuh sapi atau kambing cepat mati," kata Sarman sembari makan nasi kotak usai dia dan 8 kawannya bertugas menyembelih dua ekor sapi milik Kapolri dan Wakapolri, Minggu (11/8).

Lebih dari itu, ada rasa kebanggaan tersendiri menjadi juru sembelih hewan memiliki sertifikat. "Ada saya sertifikat, dari tahun 70 saya udah punya sertifikat," cerita Sarman.

"Motong enggak asal motong, harus tahu bagian ini potongnya begini, bagian ini harus begini, kalau kulitin enggak boleh putus apa bolong. Jadi enggak asal, makanya ada sertifikat," ujar Sarman bak seorang diploma menyampaikan orasi dalam inaugurasi.

Saat proses menyembelih hewan, tiap orang memiliki tugas masing-masing. Ada bertugas merobohkan, menyembelih, menguliti, mengampak tulang-belulang dan lain sebagainya.

Menyembelih hewan bukan lagi dunia yang mengerikan ataupun keji. Setidaknya pandangan itu diakui Rizal, siswa kelas 9 turut serta ikut sang ayah, satu tim dengan Sarman, menyembelih sapi di Mabes Polri.

Rizal memang tidak secara langsung turut andil saat proses penyembelihan. Namun ia gesit mondar-mandir membantu apa yang dibutuhkan para penjagal. Ia tidak kagok dengan aktivitas penyembelihan hewan.

Ia tidak merasa ngeri saat pisau tajam Sarman memutus leher dua ekor sapi. "Seru aja liatnya," kata Rizal.

Rizal bercerita sudah tiga tahun ia kerap ikut sang ayah memotong hewan. Sedikit banyak ia tahu cara memotong hewan dengan benar.

Namun Rizal tetap enggan jika dewasa nanti ia terjun di profesi potong hewan seperti apa yang dilakukan sang ayah. "Enggak mau. (Alasannya?) Enggak tahu," ujar polos Rizal.

Sementara itu, meski sudah menjadi rutinitas tahunan penyembelihan hewan disaksikan oleh masyarakat umum secara terbuka. Masih banyak masyarakat tak tega dengan prosesi yang diawali dari peristiwa Nabi Ibrahim itu.

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainud Tauhid mengatakan penyembelihan hewan harus dilakukan dengan baik tanpa adanya penyiksaan. Apapun caranya, menyembelih harus dilakukan dalam kondisi hewan yang sadar. Bukan soal tega atau tidak tega, namanya mati pasti sakit.

Melalui sambungan telepon, Zainud menjelaskan menyembelih hewan dengan pisau tajam yang bertujuan mempercepat kematian adalah bentuk sebaik-baiknya penghormatan manusia kepada binatang. Bukan cara dibuat pingsan baru disembelih.

"Enggak boleh, justru itu menyakiti binatang. Kalau di syariat Islam. Sepanjang alat yang digunakan itu dengan benda tajam yang bisa memutus saluran pernapasan pencernaan dan dua urat leher itu boleh digunakan untuk menyembelih hewan," kata Zainud.

Ia menerangkan, secara tersirat, proses menyembelih hewan adalah melatih manusia untuk ikhlas dan takwa kepada Allah. Jadi, banyak hikmah yang harus disadari manusia terhadap momen penyembelihan hewan, khususnya saat Idul Adha.

"Di situ lah manusia dilatih untuk ikhlas dan takwa kepada Allah," ujarnya mengakhiri pembicaraan.

Baca juga:
Suasana Salat Idul Adha di Jalan Otista Raya
Menengok Momen Penggantian Kiswa Kabah
Pedagang Hewan Kurban Banting Harga di Idul Adha
Hewan Kurban Seberat 1 Ton dari Jokowi akan Disalurkan ke Muslim dan Non-Muslim NTT
Melihat Hewan-hewan Kurban Disembelih di Masjid Sunda Kelapa
BI Sebut Kenaikan Harga saat Idul Adha Tak Pengaruhi Inflasi

(mdk/ded)