Cerita Perantau Trauma Kembali ke Wamena usai Tempat Usaha Ludes Dibakar Massa

PERISTIWA | 9 Oktober 2019 09:04 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah

Merdeka.com - Sejumlah pengungsi dari Wamena sementara ini ditampung oleh kerabat mereka di Timika. Para pengungsi ini mengaku masih trauma dengan kerusuhan yang terjadi pada Senin (23/9) di ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua, itu.

Ani Safsafubun, salah seorang pengungsi Wamena mengatakan, seluruh aset keluarganya berupa ruko tempat jualan sekaligus rumah tinggal yang terletak di Pasar Misi atau Pasar Woma sudah ludes dibakar massa perusuh.

"Ruko saya semuanya habis. Sekarang kami mau pulang ke Tual (Maluku Tenggara). Kami tidak mau kembali ke Wamena karena trauma dengan kejadian itu," kata Ani di Timika, Rabu (9/10).

Ani bersama suaminya, Chandra Letsoin bekerja sebagai guru honorer di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Yahukimo. Namun selama ini mereka membangun usaha dan tempat tinggal di Wamena. Saat ini, Ani bersama keluarganya menunggu jadwal pelayaran kapal PT Pelni dari Timika menuju Tual.

1 dari 2 halaman

Saat Kerusuhan Berada di Rumah Kerabat

Dia mengisahkan pada Senin (23/9) pagi saat pecah kerusuhan di Wamena, sedang berada di rumah kerabat yang terletak belakang Kantor Bupati Jayawijaya. Rumah kerabatnya itu, katanya, berdekatan dengan Lembaga Pendidikan Yapis Wamena.

"Tiba-tiba datang sekelompok pelajar dari luar ke SMA Yapis memaksa siswa di sekolah itu untuk ikut demo. Para siswa ketakutan, ada yang melompat dari lantai dua. Melihat situasi itu, saya memutuskan pulang ke rumah di Pasar Misi," tuturnya.

Menurut dia, kerusuhan disertai aksi bakar-bakaran kantor pemerintah, swasta maupun rumah-rumah warga terjadi secara bersamaan.

Kompleks perumahan guru-guru bahkan gedung sekolah SMP Katolik Santo Thomas Wamena yang berada di dekat Pasar Misi juga ikut menjadi sasaran amukan kelompok perusuh yang ditengarai bukan merupakan penduduk asli Wamena (penduduk asli Wamena biasa disebut orang Lembah Baliem).

Ani bersama keluarganya dan tetangga sekitar memutuskan mengungsi ke Kantor Dekenat Wamena. Beberapa saat setelah itu, massa perusuh membakar ludes Pasar Misi Wamena setelah terlebih dahulu membakar Kantor Bupati Jayawijaya dan fasilitas umum lainnya.

Massa perusuh sempat masuk ke Kantor Dekenat Wamena dengan menjebol pagar depan yang dikunci rapat, sebagian memanjat pagar tembok dari arah belakang.

Melihat itu, ibu-ibu yang mengungsi ke Kantor Dekenat Wamena meminta Pastor Dekan untuk mengenakan jubah pastor agar para perusuh tidak melakukan aksi anarkis di tempat itu.

Tak lama kemudian aparat TNI dan Polri tiba di Kantor Dekenat Wamena lalu mengevakuasi warga tersebut ke Markas Kodim Jayawijaya.

"Kami satu minggu mengungsi di Kodim Jayawijaya lalu berangkat ke Jayapura menggunakan pesawat Hercules TNI Angkatan Udara. Setelah satu minggu di Jayapura, kami berangkat lagi ke Timika menggunakan pesawat komersial, tiket penerbangannya ditanggung oleh keluarga besar masyarakat Kei di Jayapura," kata Ani.

2 dari 2 halaman

Kabur Sampai Terkencing-kencing

Pengungsi lainnya, Paula Foza Hukunala juga mengaku masih trauma dengan kerusuhan yang terjadi di Wamena pada Senin (23/9).

"Kalau ingat kejadian itu, saya tidak mau kembali lagi ke Wamena. Kami keluar dari rumah hanya dengan pakaian di badan saja. Anak saya yang paling kecil sampai kencing di celana," kata Paula yang mengaku tinggal di Jalan Bhayangkara Wamena itu.

Paula mengaku baru bisa mengganti pakaiannya saat tiba di posko pengungsian di Jayapura.

Kini Paula bersama seorang putrinya yang masih kecil dan 14 orang pengungsi asal Kepulauan Kei, Maluku Tenggara masih menantikan jadwal kapal yang akan mengangkut mereka dari Pelabuhan Pomako Timika menuju Tual.

"Suami saya masih di Wamena, mereka tidak bisa turun ke Timika karena aparat minta supaya laki-laki tetap tinggal di Wamena, perempuan saja yang diizinkan keluar dari Wamena," ujarnya.

Panglima Kodam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab saat menemui pengungsi Wamena dan Ilaga di Gedung Tongkonan milik Ikatan Keluarga Toraja/IKT Mimika, Selasa (8/10) menegaskan pemerintah bersama aparat TNI dan Polri kini fokus untuk memulihkan situasi di Wamena agar aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, pemerintahan dan lainnya bisa berjalan normal kembali.

"Sekarang tidak ada lagi eksodus pengungsi dari Wamena. Yang ada, bagaimana kita secepatnya memulihkan situasi di Kota Wamena agar semua sektor bisa kembali bergerak," kata Mayjen Asaribab di Timika, Selasa.

Putra asli Papua yang baru memegang tongkat komando Kodam XVII Cenderawasih sejak 18 September 2019 itu berharap situasi di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya secepatnya bisa pulih kembali seperti sedia kala. (mdk/gil)

Baca juga:
Selain Temui Pengungsi, Kapolri & Panglima TNI Bakal Tinjau Arena PON XX di Timika
Pemerintah 'Tancap Gas' Pulihkan Wamena
Polri Sebut Situasi di Wamena Papua Sudah Kondusif
Bupati Jayawijaya: Aliran Listrik di Wamena Sudah Pulih 100 Persen
Menteri PUPR: Pembangunan di Wamena Dibantu TNI Agar Aman dan Cepat
Bertemu Warga di Wamena, Wiranto Ajak Bangun Kembali Persaudaraan
SETARA Institute Bandingkan Jokowi dan SBY Soal Konflik di Papua