Cerita Prasasti Dinoyo 2 Peninggalan Kerajaan Kanjuruhan Hancur oleh Martil Kuli Batu

PERISTIWA » MALANG | 11 Januari 2019 05:06 Reporter : Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Prasasti Dinoyo 2, peninggalan era kerajaan Kanjuruhan dalam kondisi pecah dan hancur menjadi beberapa bagian. Prasasti terbagi menjadi puluhan serpihan-serpihan kecil dan satu bagian bongkahan lebih besar.

Saat ini, prasasti itu disimpan di Museum Mpu Purwa Kota Malang setelah dilakukan pengeleman oleh Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto. Prasasti tersebut hancur oleh martil kuli batu yang saat itu hendak membangun selokan air di dekat lokasi.

Prasasti Dinoyo 2 ditemukan di Jalan MT Haryono Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Prasasti berbahan batu Andesit berukuran 75 Cm X 57 Cm dengan ketebalan 30 Cm. Prasasti ditemukan di sekitar Polsek Lowokwaru pada pertengahan 1985 oleh kuli bangunan yang sedang mengerjakan pembangunan gorong-gorong atau selokan air.

"Saat itu tidak mengira kalau batu tersebut merupakan prasasti, karena memang tulisannya begitu tipis dan lembut," kata Arkeolog Universitas Negeri Malang (UM), Professor Dwi Cahyono kepada Merdeka.com, Kamis (10/1).

Penemuan tersebut tidak disengaja. Pekerja proyek menemukan batu menghalangi jalur pembangunan selokan air. Posisi batu sendiri diperkirakan berada sekitar satu meter di kedalaman tanah.

Batu besar tersebut dihantam martil sebelum kemudian disadari ada tulisan dengan huruf Jawa Kuno. Proses penghancurannya masih setengah jalan, karena itu terbagi bagian besar dan bagian kepingan atau belahan-belahan lebih kecil.

Butuh proses panjang dari penemuan hingga dapat membawa prasasti tersebut menjadi koleksi Mpu Purwa. Benda cagar budaya tersebut, awalnya diserahkan ke polisi, kemudian dibawa ke BPCB Trowulan, Mojokerto dan dilakukan tinjauan dan pembacaan isi prasasti tersebut.

Prasasti kemudian diserahkan pada museum Mpu Purwa pada 2004 melalui sebuah surat ketetapan, setelah adanya permintaan oleh Pemkot Malang. Akhirnya dilakukan rekonstruksi (pengeleman) oleh BPCB Trowulan agar lebih mudah dan dapat dilihat publik.

"Sekarang sudah bisa dibaca, walaupun bagian-bagiannya sedikit hilang, relatif bisa dibaca," tegasnya.

Namun dalam proses tersebut, ahli sejarah asal Universitas Negeri Malang, M. Habib Mustopo sempat melakukan pembacaan aksara Jawa kuno dalam prasasti tersebut. Prasasti tersebut dikenal sebagai prasasti Dinoyo 2, karena sebelumnya pernah ditemukan prasasti Dinoyo dengan angka tahun 760 M. Keduanya merupakan peninggalan kerajaan Kanjuruhan yang pernah hidup dan berjaya pada abad 8 M.

Baca juga:
Makam Kuno Dinasti Firaun ke-5 Berusia 4.400 Tahun Baru Ditemukan di Mesir
Pihak Berwenang Mesir Tangkap Dua Oknum Bantu Turis Foto Tak Senonoh di Piramida
Melihat Warisan Perang Dunia II di Museum Rumah Bundar Tarakan
Melihat sisa-sisa bangunan Romawi Kuno di Libya
Perairan Cilamaya Karawang dikenal sebagai kuburan kapal-kapal VOC dan China
Puluhan mortir Perang Dunia I ditemukan di dasar sungai Prancis

(mdk/noe)