Cerita Tim Medis Covid-19, Antara Takut Terpapar dan Kemanusiaan

Cerita Tim Medis Covid-19, Antara Takut Terpapar dan Kemanusiaan
PERISTIWA | 5 April 2020 07:05 Reporter : Liputan6.com

Merdeka.com - Berada di garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan pasien positif Covid-19, tenaga medis dihadapkan pada tingginya risiko terpapar pandemi tersebut. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat tenaga medis untuk merawat dan memberikan dukungan moril pada pasien.

Liputan6.com berkesempatan berbincang dengan salah seorang perawat di RS Ahmad Muchtar Bukittinggi. Perawat itu bercerita soal suka duka merawat pasien Covid-19.

Kepala Penanggung Jawab Perawat Khusus Covid-19 RS Ahmad Muchtar Bukittinggi, Fatria mengatakan, yang menjadi buah pikiran baginya dan teman-teman adalah ketakutan terpapar virus.

Meski dengan APD lengkap, tidak menutup kemungkinan untuk terpapar. Hanya saja itu merupakan tugasnya sebagai perawat. Selain khawatir terpapar Covid-19, ia juga mengaku memiliki beban psikologi untuk berinteraksi dengan keluarga sepulang dinas.

"Saya membatasi diri dengan keluarga untuk sementara waktu, tapi masih tinggal di rumah ketika pulang dari rumah sakit," ujarnya.

Beban juga bertambah di pundaknya ketika ia ditunjuk menjadi kepala penanggung jawab perawat lainnya. Upaya-upaya terus ia lakukan untuk meningkatkan kemampuan diri sendiri dan timnya agar kemungkinan terpapar dapat diminimalisir.

"Kami lakukan pembelajaran terus bagaimana menggunakan APD yang benar sesuai protokol, atau membersihkan diri setelah dinas," ujar Fatria.

1 dari 2 halaman

Ia mengaku keadaan yang cukup berat dirasakannya bersama teman-teman perawat yang lain, saat virus Corona mulai mewabah di Sumbar, sekitar dua minggu lalu.

"Ketakutan pasien yang disampaikan kepada kami juga menjadi dilema tersendiri," sebutnya.

Bahkan, ia bercerita teman sejawatnya ada yang sampai menangis melihat pasien yang diisolasi.

"Namun sejauh ini kami melaluinya dengan lancar dan banyak sekali pengalaman," katanya.

Untuk penanganan Covid-19 di RS Ahmad Muchtar saat ini terdapat 21 perawat yang dibagi dalam tiga shift. Perhatian rumah sakit juga baik kepada tenaga medis.

"Kami hingga saat ini masih semangat, dukungan dari berbagai pihak adalah salah satu pendorongnya," sebut dia.

Fatria menyebut saat ini stok APD di rumah sakit tempat ia berdinas mulai menipis. Bantuan dari beberapa pihak belum mencukupi karena pasien yang dirawat cukup banyak.

"Jika APD tidak ada, kami juga tidak mau konyol masuk ke ruang isolasi," ucapnya. (mdk/fik)

Baca juga:
Sesuai Rekomendasi WHO, Mulai Hari ini Semua Warga Harus Pakai Masker
Pemerintah Sudah Terima Donasi Rp82,5 Miliar untuk Tangani Corona
Lawan Wabah Corona, Jaga Jarak Bukan Lagi Imbauan Tapi Perintah
Korea Selatan Kirim 50.000 Alat Tes Covid-19 ke Indonesia
Seorang Dokter Gigi Meninggal karena Corona, Waspada Pasien Tanpa Gejala

2 dari 2 halaman

Sebagai penanggung jawab, ia harus memastikan semua anggotanya mendapatkan fasilitas memadai.

Fatria juga bercerita soal susahnya bekerja dengan APD lengkap. Panasnya baju dan masker kedap udara yang dikenakan membuat geraknya menjadi terbatas.

"Kadang-kadang sampai sesak napas memakai APD, namun tidak masalah," katanya.

Kemudian ia juga mengucapkan terimakasih kepada orang-orang baik yang sudah mengirim dukungan semangat kepada tenaga medis. Banyak masyarakat yang mengirim vitamin dan makanan untuk mereka.

"Ketika ada yang mengirim makanan, dilampirkan dengn secarik kertas yang berisi kata-kata untuk menyemangati kami," Fatria mengungkapkan.

Reporter: Novia Harlina
Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Penghuni Nine Residence Tolak RS Corona di Lippo Plaza Mampang
Tigas Pasien Sembuh, Kasus Positif Corona di Aceh Tinggal Satu Orang
Jerman Tuding AS Lakukan Pembajakan Masker yang Dipesan Kepolisian Berlin
Video Detik-Detik Jenderal TNI Bintang Dua Disuruh Keluar Kasad Rapat Corona
Melihat Kebaktian 'Dirve-In' di Seoul

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami