Cerita WNI dari Wuhan Sempat Ditolak di Kampung Halaman karena Corona

Cerita WNI dari Wuhan Sempat Ditolak di Kampung Halaman karena Corona
PERISTIWA » MALANG | 18 Februari 2020 11:29 Reporter : Ya'cob Billiocta

Merdeka.com - Salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) yang sempat tinggal di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, Hilyatu Millati Rusdiyah mengatakan secara psikologis sempat terganggu setelah merebaknya wabah corona.

Milla, saapan warga asal Desa Kemalang, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah itu tidak menyangka perjalanannya mencari ilmu di Negeri Tirai Bambu sulit lantaran merebaknya corona. Apalagi sepulang dari Wuhan, dia dan ratusan WNI lain harus diobservasi terlebih dahulu di Natuna.

Saat itu, yang membuatnya makin berat adalah sempat terjadi penolakan dari masyarakat setempat karena ketakutan mereka akan tertular virus tersebut. Meski demikian, istri dari Ahmad Syaifuddin Zuhri bersyukur karena pada akhirnya masyarakat menerima mereka dengan lapang dada.

"Ini menghapus stigma bahwa yang datang dari Wuhan membawa virus corona," katanya, Senin kemarin. Dikutip dari Antara.

Dia mengaku gelisah saat masih berada di Wuhan dan belum bisa dipulangkan ke Indonesia karena ternyata penyebaran virus tersebut terjadi cepat, yaitu dari pasien yang berjumlah ribuan hingga menjadi puluhan ribu dalam waktu singkat.

"Virus ini juga bisa menyebar lewat udara. Kami tidak tahu kapan bisa terkena. Pemerintah Tiongkok mengimbau kepada semua warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, sampai akhirnya Pemerintah (Republik Indonesia) memutuskan melakukan evakuasi," katanya.

Mengenai merebaknya virus tersebut, awalnya tidak terlalu dikhawatirkan oleh masyarakat, baik masyarakat lokal maupun pendatang seperti dia. Bahkan pada awalnya saat masih berada di Wuhan, kondisi kota belum seramai saat ini.

"Karena saat itu belum dikonfirmasi bahwa virus itu bisa menular lewat udara dan antarmanusia. Setelah tahu kalau mulai virus itu bisa menular antarmanusia dan pemerintah setempat memutuskan mengisolasi (lockdown) kota itu, kondisi mulai sepi. Apalagi saat itu juga kondisi Imlek dan musim dingin," katanya.

Dia mengatakan pada awal virus tersebut ditemukan, yaitu virus corona jenis baru, belum dikonfirmasi bahwa penularannya bisa terjadi antar manusia. Menurut dia, yang diketahui masyarakat adalah penularan hanya bisa terjadi dari hewan ke manusia.

"Kemudian tepatnya pada tanggal 20 Januari, ilmuwan mulai mengkonfirmasi bahwa penularan bisa terjadi antarmanusia, kekhawatiran dari kami pasti ada," katanya.

Setelah merebaknya virus tersebut, ia mengatakan Pemerintah Indonesia bertindak cepat dengan memulangkan WNI yang pada saat itu masih terjebak di Wuhan. Bahkan mahasiswa program PhD Administrasi Bisnis Chongqing University itu mengatakan sejak masih berada di Wuhan, pemerintah terus memantau kondisi WNI.

"Yang pasti cukup gembira karena kami merasakan betul pemerintah hadir memantau kami setiap hari," katanya.

Mulai dari Presiden yang akhirnya memutuskan untuk mengevakuasi WNI di Wuhan dan sekitarnya, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, TNI, dan instansi terkait seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bergerak cepat dalam memulangkan para WNI.

"Kami juga mengapresiasi warga Natuna yang akhirnya menerima kami setelah sebelumnya menolak," katanya.

Sementara itu, bukan hal yang mudah baginya maupun WNI eks Wuhan yang lain menjalani masa observasi. Salah satu yang memberikan beban psikologis tersendiri adalah kerinduan terhadap keluarga.

"Yang dirindukan adalah keluarga. Otomatis, kan terpisah makin lama," katanya.

Meski demikian, selama di lokasi observasi pemerintah berupaya memberikan kenyamanan kepada para WNI.

"Kami olah raga setiap pagi, makan bersama tiga kali sehari. Selain itu, ada juga aktivitas individu seperti karaoke dan games. Kami juga menjalani pemeriksaan kesehatan sehari dua kali, termasuk pemeriksaan suhu tubuh," katanya.

Sepulangnya dari observasi, diakuinya, juga bukan hal yang mudah. Ia mengaku khawatir akan adanya penolakan masyarakat sekitar karena ketakutan akan terjangkit Covid-19.

"Yang pasti sampai saat ini kondisi kami sehat setelah diobservasi. Tidak ada yang kena (terjangkit Covid-19)," katanya.

Sebagai bukti bahwa kondisi WNI eks Wuhan tersebut dalam keadaan sehat. Kementerian Kesehatan juga telah mengeluarkan sertifikat atau surat sehat untuk masing-masing peserta observasi sebelum pulang ke keluarga masing-masing.

"Jadi saya mohon masyarakat sekitar tidak perlu takut kepada kami dan juga mengkhawatirkan kedatangan kami karena kondisi kami sehat-sehat saja," katanya. (mdk/cob)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Menjawab Keluhan, Menyiasati Keadaan - MERDEKA BICARA with Ganjar Pranowo

5