Danardono Habisi Tentara Belanda Hanya dengan Bambu Runcing Kecil

PERISTIWA | 18 Agustus 2019 12:02 Reporter : Irwanto

Merdeka.com - Tanggal 17 Agustus setiap tahunnya selalu dinanti-nanti Danardono Soekimin karena memiliki makna mendalam baginya. Rasa nasionalisme semakin berkobar di usianya yang senja.

Danardono duduk di barisan depan panggung di halaman Griya Agung Palembang, rumah dinas Gubernur Sumsel, Sabtu (17/8). Panggung itu disediakan bagi tamu-tamu terhormat seperti para pejuang kemerdekaan.

Setiap tahun, kakek itu menghadiri upacara peringatan HUT RI di sana. Dari wajah dan postur tubuh, dia merupakan orang yang paling tua di barisan itu, termasuk juga di deretan belakangnya.

Sesuai upacara, merdeka.com mencoba menghampirinya untuk sekedar mengobrol. Beliau pun bersedia menjadi narasumber.

"Kita agak menjauh sedikit ya, sambil duduk saja. Suaranya (soundsystem) kencang, bising di telinga," pinta Danardono untuk mencari tempat teduh di panggung lain.

Di awal obrolan, Danardono memberikan kartu namanya. Cukup kaget juga melihatnya karena di barisan namanya tertulis gelar cukup mentereng, yakni Dr Danardono Soekimin, MPA.ASC.

Di bagian atas kartu nama, tertulis Yayasan Jantung Indonesia dan di bawahnya dilengkapi alamat kantor dan rumah.

"Saya ini ketua Yayasan Jantung Indonesia Cabang Sumsel. Walaupun tua-tua begini, sudah jelek begini, saya juga sampai sekarang masih dosen di Fakultas Kedokteran Unsri (Universitas Sriwijaya Palembang," tuturnya.

Pria kelahiran 1934 itu pun mencoba mengingat pengalamannya semasa kemerdekaan. Pelan-pelan, dia menceritakan apa yang terjadi saat itu, saat penjajah menguasai Nusantara.

Pada masa jelang kemerdekaan, Danardono masih kecil, terbilang anak ingusan yang duduk di sekolah tingkat dasar. Dia tinggal di Bandung, Jawa Barat, bersama ayahnya yang kala itu menjabat Kepala Rumah Sakit Mata Cicindo Bandung.

Meski masih belia, ternyata Danardono bulat mengikhlaskan dirinya terlibat memerangi penjajah untuk merebut kemerdekaan, seingatnya tahun 1942. Ya, usianya sekitar delapan tahun.

"Musuh kami waktu itu tentara Belanda, pakai senjata api sama perlengkapan perang lain, alat itu belum dimiliki orang kita," kata dia.

Keterlibatan Danardono kecil dalam barisan pejuang lantaran orang-orang kampung tempat tinggalnya ikut bergerilya. Tua muda, kecil besar, pria wanita, menyatukan tujuan mengusir penjajah dari tanah kelahirannya.

Keterbatasan alat perang membuat tetua kampung mengajak warganya memanfaatkan bambu yang tumbuh setiap kebun. Masing-masing orang membuat bambu runcing, termasuk dirinya.

"Orang-orang tua pakai bambu runcing yang besar, anak-anak kecil seperti saya buat bambu runcing kecil, semuanya buat," kenangnya.

Tentara Belanda setiap hari datang ke kampungnya. Hal itu membuat warga bersembunyi ketika musuh patroli. Di balik persembunyian itu, warga mengatur strategi menyerang penjajah.

Cara efektif adalah menyerang musuh yang sedang istirahat atau lengah. Ratusan orang kampung kompak melakukan penyergapan sehingga tentara Belanda tak bisa berbuat banyak.

"Kalau berhadapan langsung pasti kalah, kami pakai bambu runcing sedangkan Belanda pakai senjata api. Kami menyerang diam-diam ketika mereka lengah, banyak orang Belanda mati," kata dia.

Dalam penyergapan, Danardono sempat beberapa kali melukai bahkan membunuh musuh dengan bambu runcing kecil miliknya. Namun, tak sedikit juga teman-teman seperjuangan dan warga kampung yang gugur dalam peperangan.

"Saya tidak ingat lagi berapa musuh yang mati," tuturnya.

Perjuangan mereka tak berhenti meski Belanda kalah. Sebab, Jepang sebagai penjajah baru datang dengan cara yang lebih sadis. Danardono dan warga lain terusir dari kampungnya dan memilih menyelematkan ke Bandung arah selatan.

"Kami mengungsi, tapi saya masih ikut berjuang melawan Jepang," kata dia.

Seusai kemerdekaan, tepatnya tahun 1947, Danardono merantau ke Solo, Jawa Tengah. Hanya saja, lawannya kali ini adalah orang pribumi yang masuk dalam Partai Komunis Indonesia (PKI).

Danardono sempat menyaksikan pembantaian PKI terhadap orang-orang, terlebih umat Islam di kota itu.

"Bukan bunuh satu atau dua, tapi ratusan orang. Waktu itu ada kereta api lewat, semua penumpang dibantai, segerbong-gerbong," ujarnya.

Beberapa tahun kemudian, Danardono dan keluarga pindah ke Surabaya, Jawa Timur. Di sana, dia kuliah di Fakultas Kedokteran. Tak lama, dia diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) oleh Departemen Kesehatan.

Tahun 1963, Danardono mendapat tawaran bekerja di RS Pusri Palembang. Hingga di usianya yang semakin renta, Danardono tetap mengabdi di keahliannya, baik sebagai tenaga pengajar maupun dokter.

Baca juga:
Kisah Joko Ramlan Tubuhnya Dipenuhi Kutu saat Gerilya Melawan Belanda
Yang Chil Sung, Pahlawan Garut Asal Korea yang Ditakuti Belanda
Jokowi Pimpin Apel Renungan Suci di Taman Makam Pahlawan Kalibata
Persahabatan Liem Koen Hian & AR Baswedan untuk Kemerdekaan Indonesia
Penggagas Bahasa Indonesia Mohamad Tabrani Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Prestasi Membanggakan Cicit WR Supratman di Dunia Musik Internasional

(mdk/cob)