Data Corona, Tidak Sinkron dan Tak Semua Dibuka

Data Corona, Tidak Sinkron dan Tak Semua Dibuka
PERISTIWA | 6 April 2020 13:08 Reporter : Bachtiarudin Alam

Merdeka.com - Data terakhir pemerintah, sebanyak 2.273 kasus positif Corona Covid-19 terdeteksi di Tanah Air. Selain itu, 198 orang meninggal dan 164 sembuh.

Perihal data ini, ternyata angka yang disampaikan pemerintah pusat beberapa kali tidak sinkron dengan data di daerah. Seperti yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Presiden Joko Widodo alias Jokowi pernah menyampaikan secara langsung ada batasan pemberian informasi terkait corona yang dilakukan pemerintah. Langkah tersebut semata-mata karena tidak ingin membuat masyarakat panik.

"Langkah-langkah serius telah kita ambil, tapi di saat bersamaan kita tidak ingin menciptakan rasa panik, tidak ingin menciptakan keresahan di tengah masyarakat. Oleh sebab itu dalam penanganan kita tidak bersuara," jelas Jokowi.

"Kita berhitung efek terhadap pasien apabila sembuh. Jadi setiap negara punya policy berbeda. Tapi setiap ada klaster baru tim reaksi cepat kita memagari," sambung Jokowi.

1 dari 2 halaman

Dalam sebuah diskusi Bersama Melawan Covid-19, mewakili Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Kapusdatinkom Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo, menjelaskan soal kondisi data yang tidak sinkron tersebut.

"Ya betul, masih banyak yang tertutup karena pertama kan masih banyak ada hal-hal kan, misalnya banyak masyarakat yang belum tahu, banyak yang di-bully dan sebagainya, itu salah satu kendalanya," kata Agus yang dilihat merdeka.com di akun YouTube, Enercy Academy Indonesia, Senin (6/4).

Dia juga baru mengetahui bahwasannya Kementerian Kesehatan punya prosedur sangat rinci melaporkan kasus positif Corona kepada Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

"Saya juga baru tahu juga kalau Kementerian Kesehatan itu setiap hari melaporkan data ke WHO itu nomor, kemudian jenis kelamin kemudian sama umurnya, sama statusnya seperti apa, baru tahu juga kalau ada data-data seperti itu. Memang masih ada kendala kendala seperti itu," katanya.

Dia tidak menepis mana kala ada masyarakat yang mencurigai data disampaikan pemerintah. Tetapi dia pastikan, baik BNPB dan Kementerian Kesehatan memiliki data temuan kasus positif hingga pasien sembuh.

"Ya memang betul adanya. Saya juga belum tahu kok bisa tidak sinkron, tapi kita punya data dua-duanya. Jadi BNPB mengumpulkan data, baik dari sisi daerah laporannya ada juga kita, dari sisi Kemenkes juga kita punya dua-duanya, kita sandingkan. Tapi yang dipublikasi, karena yang jubirnya Pak Yuri, jadi yang publikasi apa yang disampaikan Pak Yuri itu yang kita publikasikan," jelas Agus.

"Tapi di belakang layar kita punya seluruh data. Kita juga mendapatkan data dari telekomunikasi (provider). Untuk kita akan track kita catat seluruh nomor telepon dari kasus positif tadi. Sehingga kita bisa tahu dengan siapa saja orang ini berhubungan. Jadi kita bisa tahu, tracing-nya kita tahu semua," tambahnya.

2 dari 2 halaman

Untuk mengatasi data yang tidak sinkron ini, katanya, pemerintah sedang menyempurnakan aplikasi yang diberi nama Lawan Covid-19. Nantinya, aplikasi ini akan menampilkan secara rinci temuan kasus di berbagai daerah.

"Kita sedang membangun Lawan COVID-19 aplikasinya, dan aplikasi ini memang kita, kita dapat feeding dari Kemenkes memang terbatas datanya. Jadi kita memang belum bisa menghasilkan data yang sangat lengkap atau yang terbuka. Itu memang salah satu kendala saat ini," jelas dia.

Data yang ada di aplikasi itu, katanya, adalah laporan resmi dari semua lembaga resmi yang bertugas terkait penanganan Covid-19.

"Jadi kita mengerahkan banyak tenaga kerja, baik dari sisi BNPB, BPBD, maupun dari militer, polisi untuk meng-entry data di seluruh (Indonesia), nanti langsung connect ke aplikasi langsung ke seluruh Indonesia langsung," jelasnya.

Selain soal data, sambung Agus, tak kalah penting dari penanganan Covid-19 ini adalah bagaimana masyarakat benar-benar mendapatkan edukasi yang baik. Sehingga tidak ada lagi perilaku diskriminasi terhadap mereka yang sempat terpapar Covid-19.

"Edukasi ke masyarakat penting, kalau tahu harus tahu kalau bisa di umumkan siapa yang kena positif terus dicari siapa yang deket dengan orang ini. Langsung di cek untuk dilakukan isolasi mandiri atau penanganan lainnya," imbaunya.

Gugus Tugas, sambung dia, berjanji akan menyelesaikan dengan baik segara permasalahan terkait penanganan Covid-19. Utamanya berkaitan dengan data karena angka itu sangat penting untuk mengetahui pergerakan virus di berbagai daerah di Indonesia.

"Kita coba selesaikan. Karena ini sangat penting sekali data keterbukaan data itu sangat penting sekali," tegas dia. (mdk/lia)

Baca juga:
Polri Tangani 76 Kasus Hoaks Selama Pandemi Covid-19 di Indonesia
Kisah Nenek Pasien Virus Corona Tolak Pasang Ventilator, Mengalah Pada yang Muda
Meski Ada Virus Corona, Semen Baturaja Optimistis Penjualan 2020 Tetap Tumbuh
Gejala Virus Corona, Kenali Perbedaannya dengan Flu dan Alergi
Beri Keceriaan di Ruang Medis, Seorang Perawat Ciptakan ADP Seperti Power Rangers
Cara Kreatif Warga Dunia Lindungi Diri dari Corona di Tempat Umum
Kemenag Tunda Pengumuman Seleksi dan Pembekalan Petugas Haji 2020

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami