Demo di Kantor KPU Riau, Mahasiswa Ditendang Polisi

PERISTIWA » MAKASSAR | 20 Mei 2019 14:58 Reporter : Abdullah Sani

Merdeka.com - Seorang mahasiswa ditendang polisi saat menggelar aksi unjuk rasa, Senin (20/5). Entah apa sebabnya, seorang polisi yang bertugas menjaga demonstran di Kantor Komisi Pemilihan Umum Riau itu langsung melayangkan tendangannya ke tubuh salah satu mahasiswa almamater biru tersebut.

Mahasiswa yang berunjuk rasa itu berasal dari Fakultas Islam Riau, mereka mendesak KPU untuk mengklarifikasi kejanggalan yang terjadi pada saat pemilu serentak 17 April 2019 lalu. Demo berlangsung ricuh saat mahasiswa menyampaikan kepada KPU Riau.

Itu terjadi ketika mahasiswa meminta untuk masuk ke dalam kantor KPU Provinsi. Awalnya terjadi negosiasi antara petugas kepolisian dengan para mahasiswa, namun tidak diizinkan. Polisi hanya mengizinkan 10 orang mahasiswa sebagai perwakilan.

Jumlah mahasiswa tersebut berjumlah sekitar 20 orang, dan mereka meminta agar semua masuk ke dalam kantor KPU Riau untuk menyampaikan Petisi secara bersama. Permintaan itu tetap tidak diizinkan polisi.

Akhirnya, kondisi unjuk rasa memanas dan mengakibatkan saling dorong antara mahasiswa dan petugas kepolisian. Sejumlah polisi berbuat kasar hingga menendang mahasiswa.

"Kita melihat ketidaknetralan kepolisian, kami menyampaikan aspirasi terhadap KPPS yang menjadi korban demokrasi. Tapi kami diadang saat hendak melakukan audiensi, niat baik kepada ketua KPU," ujar Gubernur Mahasiswa Fakultas Hukum UIR, Guntur Irvandi.

Guntur sangat menyayangkan dan menyesalkan tindakan arogansi kepolisian dalam mengamankan aksi unjuk rasa. Padahal, Guntur bersama teman-temannya berunjuk rasa dengan damai dan menyampaikan aspirasi. Dia meminta agar polisi bekerja profesional untuk menciptakan situasi yang aman dan kondusif.

"Kami menyampaikan aspirasi masyarakat, kita lihat teman kami ada yang dipukuli, ditendang. Kepala saya ditolak, ini adalah bentuk ketidaknetralan aparat kepolisian," ketusnya.

Karena itu, Guntur mengaku akan melakukan aksi serupa dengan membawa jumlah mahasiswa yang lebih banyak. Itu dilakukan demi menyampaikan aspirasi masyarakat melalui mahasiswa.

"Kami akan menurunkan massa yang lebih banyak lagi ketika sikap dari kepolisian seperti ini. Ini menjadi semangat kami untuk terus menyampaikan aspirasi masyarakat," kata Guntur.

Dalam aksi itu, ada lima tuntutan mahasiswa yang disampaikan dengan petisi kepada KPU dan Pemprov Riau. Pertama, mendesak agar melakukan revisi sistem dan regulasi Pemilu serentak, jam kerja dan korelasi antara tugas KPPS dan insentif.

Kedua, meminta KPU memperbaiki sistem open rekrutmen petugas KPPS yang harus sesuai dengan regulasi. Ketiga, mendesak Pemprov Riau dan KPU untuk memberikan santunan moril dan materil kepada keluarga petugas KPPS yang meninggal.

Keempat, mendesak KPU untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) atas misteri kematian ratusan petugas KPPS pasca Pemilu serentak 2019. Serta kelima, meminta KPU agar mengklarifikasi kepada publik terkait permasalahan yang terjadi selama Pemilu serentak 2019.

Baca juga:
Aksi Tolak People Power di Bawaslu
Aksi Tolak Lupa, Mahasiswa Bentangan Foto Korban Pelanggaran HAM di HI
Sejumlah Orang Diduga Terkait Penyerangan Restoran McD di Makassar Diamankan Polisi
Aksi Mahasiswa Geruduk KPU
Demo Mahasiswa Tuntut Wahidin Mundur sebagai Gubernur Banten Berujung Ricuh
Jelang 2 Tahun Kasus Novel, Massa Gelar Aksi Demo dan Bakar Ban di KPK

(mdk/rhm)