Deteksi Dini Gempa dan Tsunami, BPPT Segera Operasikan 3 Teknologi Mitigasi Bencana

Deteksi Dini Gempa dan Tsunami, BPPT Segera Operasikan 3 Teknologi Mitigasi Bencana
Kepala BPPT Hammam Riza. ©BPPT
NEWS | 8 Juni 2021 14:27 Reporter : Kirom

Merdeka.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), menargetkan pengoperasian sejumlah peralatan canggih dalam memitigasi bencana Tsunami yang akan terpasang dari ujung Sumatera, Jawa dan wilayah Timur Indonesia.

Kepala BPPT Hammam Riza menegaskan, BPPT telah membangun tiga teknologi dalam mendeteksi Tsunami berbasis Buoy, kabel serat optik, dan akustik tomografi hingga saat ini.

"Sejak Tahun 2019 telah membangun tiga teknologi tersebut dalam rangka mendukung Indonesia Tsunami Ealry Warning System (InaTEWS), bersama BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)," kata Kepala BPPT Hammam Riza di Gedung Geostech 820, Puspiptek, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, Selasa (8/6/2021).

Hammam menerangkan, teknologi InaTEWS yang dikembangkan itu, ditargetkan akan beroperasi penuh pada tahun 2024. Sesuai amanat Peraturan Presiden (Perpres) RI nomor 93 tahun 2019 tentang Penguatan dan Pengembangan Sistem Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami.

"Melalui Perpres ini, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) diberikan amanah untuk mengembangkan sistem peringatan dini tsunami atau yang lebih dikenal dengan Teknologi InaTEWS," jelas dia.

Teknologi kebencanaan tersebut, lanjut Hammam menggunakan berbagai instrumen sesuai dengan kebutuhan lokasi, seperti teknologi inaBuoy, teknologi kabel optik bawah laut (InaCBT - Cable Based Tsunameter), teknologi coastal accoustic tomografi (InaCAT), hingga Pemodelan berbasis Kecerdasan Artifisial.

Dirinya menerangkan, kalau sensor tsunami dari InaTEWS BPPT dapat mengirimkan data secara berkesinambungan kepada BMKG dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk kemudian disebarluaskan kepada masyarakat, sebagai upaya mitigasi bencana tsunami di Indonesia.

"Dari sebelumnya deteksi dini kita itu 15 menit menjadi lima menit. Sehingga mitigasi bencana dapat segera bisa dilakukan," jelas dia.

Hammam menerangkan, hingga target pengoperasian tahun 2024 mendatang, BPPT telah menyusun grand design peta jalan teknologi mitigasi dengan mengoperasikan InaBuoy di 13 lokasi, InaCBT di 7 lokasi, InaCAT di 3 lokasi dan didukung dengan pengolahan kecerdasan artifisial.

Menurut dia, kebencanaan di Indonesia tidak dapat dihindari, namun risiko dari bencana yang akan terjadi bisa diminimalisir dengan deteksi dini. KarenaIndonesia berada di zona Ring of fire yang letak geografisnya berada di antara pertemuan 3 lempeng tektonik besar yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.

"Jalur yang dilalui pertemuan lempeng inilah yang menjadi zona rawan gempa di Indonesia. Sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, daerah padat penduduk seperti mayoritas Pulau Sumatera, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, NTT, Sulawesi, hingga Ambon merupakan daerah yang rawan akan terjadinya gempa bumi, hanya sebagian kecil Pulau Jawa bisa dikatakan aman dari ancaman gempa," ungkap Hammam.

Maka kata Hammam, dari kondisi tersebut serta histori kebencanaan, upaya mitigasi bencana terintegrasi sudah sepatutnya diterapkan di Indonesia.

"Pengalaman bencana besar di Tahun 2018 yang menerpa Lombok, Palu, dan Selat Sunda menjadi wake up call bagi semua pihak," tegas dia. (mdk/bal)

Baca juga:
Gempa Magnitudo 5,3 Guncang Kepulauan Aru Maluku
Gempa Bermagnitudo 5,3 Guncang Bolaang Mongondow Selatan Sulut
Gempa Magnitudo 5,2 Guncang Melonguane Sulut
Minggu Pagi, Ternate Diguncang Gempa M5,1, Tak Berpotensi Tsunami
Gempa Magnitudo 4,8 di Sukabumi, Getaran Terasa di 8 Wilayah
BMKG Pastikan Alat Warning Tsunami Berfungsi dengan Baik

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami