Di Kroasia, Cak Imin Minta Eropa Setop Ekspor Sampah Plastik ke RI

PERISTIWA | 22 November 2019 20:00 Reporter : Randy Ferdi Firdaus

Merdeka.com - Kongres partai-partai politik anggota Parlemen Eropa (European People's Party) akan resmi ditutup hari ini, Jumat (22/11). Dalam pertemuan selama 3 hari di Zagreb, Kroasia sejak 19 November itu, Indonesia diwakili oleh Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.

Acara itu dihadiri oleh lebih 40 negara dan partai, kongres ini secara khusus membahas isu Global Sustainable Development atau lingkungan hidup.

Sebagai perwakilan dari Indonesia, Cak Imin yang juga Ketua Umum PKB ini mengusung 3 agenda utama, yaitu meluruskan pandangan keliru tentang sawit Indonesia, emisi karbon serta sampah plastik.

"Dalam sesi perbincangan dengan para ketua umum partai, terutama dari negara maju (Jerman, Perancis, Italia dan Belanda) saya sampaikan permintaan agar jangan sampai ada lagi perusahaan di negara mereka yang mengekspor sampah plastik atau limbah B3 ke Indonesia. Kita ini sudah jadi penyumbang kedua terbesar dunia untuk sampah plastik di laut, sekitar 187 juta ton. Jangan ditambahi lagi dari negara Eropa," kata Cak Imin dalam rilisnya, Jumat (23/11).

1 dari 1 halaman

Saling Jaga Lingkungan

"Kasus ditemukannya 428 kontainer berisi sampah plastik di Pelabuhan Tanjung Priok beberapa waktu lalu membuktikan bahwa ekspor sampah plastik dan limbah B3 dari negara Eropa tetap jalan. Kontainer itu berasal dari Jerman, Inggris, Italia, Perancis, Belgia, Amerika, Australia dll. Jadi ya direekspor balik ke negara asalnya," lanjut Cak Imin.

Cak Imin mengajak saling menjaga lingkungan. Negara Eropa, Asia dan Amerika semua punya kontribusi dalam perusakan lingkungan.

"Dan mereka memahami keberatan saya itu," tambah Cak Imin.

Cak Imin mengatakan, teknologi pengolahan sampah plastik sebetulnya ada yang murah dan sederhana. Bisa dipakai orang desa untuk usaha.

"Saya minta kader PKB di Kementerian Desa untuk mendorong agar BUMdes-BUMdes masuk ke usaha pengolahan sampah plastik ini. Sepanjang ada off-takernya, bisnis ini menguntungkan kok. Jadi komersialnya ya dapet, soal lingkungannya juga dapet. Dunia akherat dapet semua," tutup Cak Imin. (mdk/rnd)

Baca juga:
Menikmati Kesejahteraan dari Sampah Plastik
Khofifah Cari Solusi Agar Pabrik Tahu Tidak Gunakan Sampah Plastik Impor
Mengunjungi Resor Terapung dari 700 Ribu Botol Plastik
New York Times Sebut Sampah Plastik Impor Jadi Bahan Bakar Pabrik Tahu di Indonesia
Ketika 693 Biota Laut Makin Terancam Konsumsi Sampah Plastik di Lautan
Sampah Berserakan di Kota Santiago Akibat Petugas Mogok Kerja