Diancam, Korban Dugaan Penganiayaan Ketua DPC Gerindra Tangerang Takut Lapor Polisi

PERISTIWA | 6 Agustus 2019 18:48 Reporter : Kirom

Merdeka.com - Keluarga almarhum Tasikin Doni, yang diduga merupakan korban penganiayaan dan pemukulan oleh sesama rekannya di partai Gerindra Kabupaten Tangerang, mengaku hanya bisa pasrah. Pihak keluarga juga tak berani mengadukan dugaan penganiayaan tersebut ke polisi.

Sebelum meninggal korban sempat bercerita mengenai dugaan penganiayaan dialaminya kepada istri dan orang-orang. Korban pun disarankan melaporkan dugaan penganiayaan itu ke polisi.

"Waktu itu banyak yang mengetahui dari cerita almarhum. Orang-orang yang mendengar itu juga mengajak suami saya melapor, tapi dilarang. Karena takut ada apa-apa sama saya dan anak," kata istri almarhum Tasikin Doni, Nita Maryanti kepada wartawan, Selasa (6/8).

Bahkan, sampai menjalani perawatan di rumah sakit hingga akhirnya meninggal dunia, almarhum meminta dugaan kasus penganiayaan ini tidak diekspos keluar. Meskipun keluarga besar korban sempat meminta kasus ini ditindaklanjuti secara hukum.

"Almarhum sempat cerita banyak kalau dipukuli, dicekik, bahkan dijeblesin (dipentokin ke tembok). Tapi almarhum enggan melaporkan ke polisi karena takut. Bahkan kami juga sempat diancam," tuturnya.

Apalagi saat ini hanya tinggal berdua bersama anak perempuannya yang baru lulus SMP. Hingga membuat Nita enggan melaporkan kejadian tersebut dan hanya pasrah atas kehendak Tuhan.

"Biar almarhum suami saya tenang di alam sana. Biar cuma Allah yang tahu dan semua perbuatan pelaku Allah yang membalasnya," kata Nita.

Ketika dikonfirmasi, Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Tangerang, RGS membantah tudingan tersebut. Menurut RGS isu itu sengaja dihembuskan jelang pelantikan DPRD Kabupaten Tangerang, karena dirinya kembali terpilih sebagai anggota DPRD periode 2019-2024.

Dalam ceritanya (RGS), peristiwa yang terjadi di kediamannya pada tanggal (18/4) itu, hanya perdebatan seputar form C1 yang disetorkan ke DPC. Padahal menurut RGS seharusnya form C1 itu diserahkan ke dirinya untuk mengcounter rapat pleno di kecamatan.

"Banyak saksinya kok, tidak ada pemukulan. Tapi tiba-tiba almarhum pak Doni lapor ke pak jaro katanya dipukulin," ungkap RGS.

Namun RGS tidak tuntas saat menceritakan kronologi perdebatan yang terjadi di rumahnya pada 18 April tersebut. Menurut RGS, dirinya sudah menjelaskan peristiwa ini ke pihak keluarga dan dirinya sudah meminta maaf secara pribadi maupun secara institusi parpol. (mdk/gil)

Baca juga:
Fadli Zon soal Insiden Listrik Padam: Harus Ada yang Bertanggung Jawab
Fadli Sebut Larangan Eks Napi Korupsi Maju Pilkada Harus Sesuai UU
Fadli Zon Soal Gerindra Ingin Kursi Pimpinan MPR: Sangat Pantas gitu loh
Bertemu Moeldoko, Arief Puyono Klaim Tak Bahas Posisi Menteri
Dahnil Tegaskan Prabowo Tak Mungkin Utus Arief Poyuono Bertemu Moeldoko
Istri Sandiaga Uno Diusulkan Waketum Maju Pilwalkot, Ini Reaksi Gerindra Tangsel
Peneliti SMRC: Prabowo Lebih Beradab jika Berada di Luar Pemerintahan

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.