Dianiaya Ayah Kandung, Bayi di Kupang Patah Tulang Kaki dan Tangan

PERISTIWA » MALANG | 18 Juli 2019 21:28 Reporter : Ananias Petrus

Merdeka.com - Ruang Kenanga Rumah Sakit Umum W.Z Yohanes Kupang, Nusa Tenggara Timur dipadati banyak orang. Mulai dari aparat kepolisian, pemerhati ibu dan anak hingga masyarakat.

Mereka ingin melihat kondisi bayi DS (2). Bayi tersebut menjadi korban penganiayaan ayah kandungnya. Akibat ulah sang ayah, Damayanti mengalami patah tulang paha dan tangan.

Bayi malang itu mengalami patah tulang usai dihantam bagian belakang parang. Bibirnya luka akibat disundut rokok. Sayang, ayah bejat itu kabur dan menjadi buronan kepolisian.

Ibu korban, Erni Lakusaba mengaku suaminya kerap menganiaya korban jika sedang marah. Dia mengatakan tak berani mencegah aksi pelaku karena diancam akan dibunuh memakai parang.

"Kalau dia marah dia pukul, anak menangis sedikit pukul sampai kaki patah, tangan patah. Saya cegah dia tapi dia ancam saya dengan parang dan pukul saya pakai kayu kudung. Lalu dia bilang mau lapor di mana terserah, lapor polisi, lapor keluarga saya tetap hadapi. Keluarga yang datang duluan leher putus, kalau polisi yang datang duluan pun leher putus," kata Erni menirukan ancaman pelaku.

Dari delapan anak mereka, kata Erni, DS yang sering mengalami penganiayaan. Dia berusaha untuk mencegah namun sia-sia, karena diancam dibuat babak belur oleh pelaku.

"Dia mulai pukul mulai dari anak kelima, tapi saya hanya berdoa saja saya hanya tinggal diam. Mulai hari minggu ini su kelebihan, sudah saya langsung ke polisi karena di dalam rumah saya tidak merasa senang. Saya hanya pikiran pikiran karena saya ini yang tukang cari uang coba dia yang cari uang masih mendingan. Ini saya jual sayur untuk biaya anak sekolah, untuk makan minum, dia hanya di rumah tapi dia buat kekerasan dalam rumah," ujarnya.

Erni menyebut, suaminya menganiaya DS tanpa sebab yang jelas. "Dia pukul alasannya kalau saya gendong dia tidak mau, biarkan anak mereka tidur, tapi harus tidur di tanah (lantai rumah). Dia pukul pakau belakang parang, pukul bukan pakai kayu tapi pakai parang sampai tulang semua su hancur baru dia lepas, biar anak menangis juga dia santai. Kemarin hari Jumat itu, dia bakar anak dengan api rokok di bibir," ungkap Erni.

Kasus ini mencuat ketika Erni membuat laporan di Polsek Kupang Barat. Dari hasil penyelidikan, korban mengaku anaknya juga turut dianiaya. Polisi menyarankan untuk membuat laporan baru tentang kekerasan terhadap anak di bawah umur.

Kapolsek Kupang Barat, Ipda George Christian menuturkan, awalnya Erni membuat laporan tentang pengancaman pada hari Minggu (14/7) sore. Lalu, polisi memanggilnya untuk diambil keterangan terkait pengancaman tersebut pada Senin (15/7). Erni memberikan keterangan bahwa anaknya juga kerap menjadi sasaran penganiayaan suaminya.

"Saya bilang buat laporan polisi baru tentang penganiayaan anak. Karena hasil pemeriksaan itu baru diketahui bahwa anaknya juga dianiaya oleh bapaknya sampai tangan kiri dan paha patah. Bahkan sulut anak punya bibir pakai punting rokok. Jadi laporan polisinya ada dua, satu tentang pengancaman dan satunya lagi tentang penganiayaan anak," ucap dia.

Polisi kini sedang memburu pelaku karena kabur. Bahkan, pelaku juga mengancam polisi dengan menuliskan kalimat ancaman pada sebuah papan yang kini telah diamankan sebagai barang bukti.

"Jadi langkah kita cepat atau lambat segera kita cari pelaku, yang dalam arti bapak kandungnya kita cari sampai dapat, tapi sampai sekarang belum ketemu karena dia pindah-pindah tempat lalu menghilang. Tidak ada masyarakat yang membantu untuk memberi informasi kepada kita, sehingga belum ketemu tapi kita namanya kasus-kasus atensi. Jadi kita berusaha bagaimana cara harus segera dapat," tegas George.

Keluarga Erni hidup jauh dari tetangga. Hal ini karena rumah yang ditempati berada di dalam kawasan hutan jati. Erni bekerja menggarap lahan orang lain. Ke-8 anak Erni terpaksa dibawa ke rumah kerabat karena takut dibunuh pelaku.

Godlief Pong, salah satu warga menyebut pelaku dikenal sebagai orang tertutup. Dia sering mendengar pertengkaran antara pelaku dan istrinya. Bahkan pernah mengusir istri dan anak-anak untuk tidur di halaman rumah.

"Yang beta tahu itu dari pak polisi yang datang cari di sini dan beta tanya Amran (pelaku) ada apa? kasus apa?. Jadi pak polisi bilang sonde, Amran ada kasih patah dia pu anak yang busung lapar itu pu tangan sa. Dia itu jarang bergaul dengan orang lain, soalnya dia hidup hanya di hutan sana. dia su berapa tahun di sini sonde pernah ikut kegiatan apapun, hanya dia di dalam rumah dan ini bukan dia pu kebun dia garap orang punya lahan, dia mungkin disuruh untuk jaga di sini saja," ucap Godlief.

Saat ini, pelaku masih diburu oleh aparat Direktorat Kriminal Umum Polda Nusa Tenggara Timur yang dibantu Polsek Kupang Barat.

Baca juga:
Jengkel, Seorang Ibu di Boyolali Aniaya Anak Kandung Hingga Tewas
Pengakuan Pasangan Suami Istri di Kukar Penganiaya Balitanya
Kerap Dicekoki Narkoba & Digilir, Remaja 17 Tahun Lompat dari JPO di Depok
Polisi Ciduk Pasutri Penganiaya Balita Perempuan di Kutai Kartanegara
Polisi Selidiki Video Pengeroyokan Remaja Perempuan di Surabaya

(mdk/ray)