Dinkes Tangerang Tunggu Pemeriksaan KIPI Terkait Kematian Warga Diduga Akibat Vaksin

Dinkes Tangerang Tunggu Pemeriksaan KIPI Terkait Kematian Warga Diduga Akibat Vaksin
Istri almarhum Joko Susanto ketika ditemui merdeka.com. ©2021 Merdeka.com/Kirom
PERISTIWA | 24 Juni 2021 15:56 Reporter : Kirom

Merdeka.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, melalui Pokja KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi) akan menyelidiki dugaan kematian warga Pinang, Joko Susanto (33), setelah 8 hari menerima vaksin Sinovac pada Rabu (23/6) kemarin.

Sebelumnya diberitakan, pria dengan dua anak itu meninggal dunia diduga akibat penyakit yang dialaminya setelah menerima vaksin Covid-19 dosis pertama pada Selasa (15/6) lalu.

"Jadi sekecil apapun efek dari vaksin pasti akan kami bahas, kita kan punya Pokja KIPI, kita inventarisir data-data kemudian kita bahas sama tim KIPI, nanti tim KIPI keluar, apa ini benar-benar karena vaksin atau dia koinsiden," kata Kepala Dinkes Kota Tangerang Liza Puspadewi di kantornya Kamis (24/6).

Lebih jauh Liza menerangkan kalau koinsiden tersebut bisa saja menyebabkan seseorang memiliki gejala lanjutan akibat vaksinasi diterimanya.

"Koinsiden itu artinya orang itu sudah punya penyakit. Itu kan hasil dari kajian dari Pokja, kita sekecil apapun akan dibahas. Kaya kemarin di mini ICU dia (penerima vaksin) pusing, pasti kita bahas apa sebabnya," ujar dia.

Untuk itu, pihak Dinkes meminta waktu agar proses pendataan oleh tim Pokja KIPI Kota Tangerang, atas informasi tersebut bisa segera diumumkan ke publik.

Liza dengan tegas membantah ketika ditanya adanya penolakan yang dilakukan tim Puskesmas terhadap permintaan penanganan berupa perawatan dan pengobatan terhadap almarhum Joko.

"Enggak ada yang ditolak, makaya semua data kita kumpul kan dulu. Kan puskesmas punya data itu terekam, dia punya piket punya data sreenshoot, dia punya data, makannya saya bilang ini bener engga datanya. Kalo 160 tensi warga dan dinyatakan bisa (vaksin). Kami akan mengcounternya semua dengan data. Semua terdata, terecord," tegas dia.

Sebelumnya, suasana duka masih menyelimuti kediaman almarhum Joko Susanto (33), warga RT03/03 Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Joko meninggal dunia pada Rabu (23/6) sore kemarin. Tepat delapan hari menerima vaksinasi Covid-19 pada Selasa (15/6) lalu.

Putri (31), istri almarhum Joko Susanto, juga masih sangat terpukul. Dia sungguh tak percaya. Kehilangan cinta sejati secepat ini.

"Kemarin almarhum suami saya mengembuskan napas terakhirnya," kata ibu dua anak ini saat ditemui merdeka.com di kediamannya, Kamis (24/6).

Putri menceritakan kejadian sebelum suaminya pergi menghadapi Sang Pencipta. Joko, katanya, mengalami batuk dan demam. Kondisi itu diyakin Putri karena efek vaksinasi.

Putri dan Joko mendatangi sekolah untuk menerima vaksin sesuai jadwal yang diperoleh dari pengurus lingkungan. Keduanya mengantre sesuai antrean. Sebelumnya telah diobservasi oleh petugas yang berjaga.

Putri dan Joko mendatangi sekolah untuk menerima vaksin sesuai jadwal yang diperoleh dari pengurus lingkungan. Keduanya mengantre sesuai antrean. Sebelumnya telah diobservasi oleh petugas yang berjaga.

Saat itu, petugas mewawancarai Joko dengan pertanyaan seputar riwayat penyakit. Juga melakukan pemeriksaan tensi darah.

"Saat tensi darah, suami saya itu 160. Tapi sama petugas dijawab bisa. Akhirnya divaksin kami berdua. Setelah kejadian ini, pertanyaan saya, kenapa tensi tinggi sampai 160 tetap divaksin," terang Putri.

Usai divaksin, mereka kembali ke rumah untuk beristirahat. Putri tidak merasakan gejala apapun. Tetapi berbeda dengan suami.

"Katanya (usai disuntik vaksin) tidak terasa. Tapi sampai di rumah batuk - batuk hebat, sampai malam itu engga bisa tidur. Ada demam juga, badannya panas," jelas Putri.

Melihat kondisi Joko, Putri dan keluarga memutuskan untuk membawa ke dokter agar diperiksa. Saat mendatangi Puskesmas Kunciran Baru, pihak Puskesmas tidak dapat memberikan perawatan karena alasan penuh.

"Saya minta dirujuk kata pihak Puskesmas waktu itu, enggak apa - apa. Karena suami saya kelihatan kuat, padahal saat itu kondisinya lemas," terang Ibu dari Adeva (5) dan Aqila (10) itu.

Belum puas dengan penjelasan puskesmas, Putri dan keluarga berniat membawa Joko ke RS swasta. Tetapi Tuhan berkendak lain. Joko meninggal dalam perjalanan menuju RS swasta.

"Dari swab antige nonreaktif, kalau PCR belum keluar. Suami saya meninggal pas baru masuk mobil dipompa jantung, dan pihak RS menyampaikan meninggal itu jam 16.00 WIB sore," kata dia.

Atas kejadian tersebut, Putri dan keluarganya meyakini kalau kepergian Joko, suaminya, akibat vaksin Sinovac. Sebab saat dosis vaksin disuntikkan, tensi Joko sedang tinggi.

"Pertanyaan saya kenapa 160 itu divaksin. Saat itu, suami saya juga bertanya ke petugas tapi dijawab bisa. Ya, kami percaya saja. Tapi setelahnya, kondisi suami batuk dan demam hingga semakin terpuruk dan meninggal dunia," ucap Putri.

Putri iklas melepas kepergian suaminya. Tetapi dia berharap kasus serupa tidak terulang lagi.

"Biar ini jadi pelajaran semua. Saya bukan mau menyalahkan, saya enggak menyalahkan. Tapi Pemerintah harus bertanggung jawab atas kejadian ini," jelas dia. (mdk/gil)

Baca juga:
Vaksinasi Covid-19 Tuai Pro Kontra, Ernest Prakasa Ungkap Pentingnya Edukasi
Hanya Terima 2,9% Dosis Per Hari, Vaksinasi Covid-19 di Sumsel Rampung 3 Tahun Lagi
Polres & Forkompimda Trenggalek Gelar Vaksinasi Massal Berhadiah Ayam & Kambing
VIDEO: Pasien Positif Covid-19 Ngamuk di RSUD Pasar Minggu, 2 Satpam Terpapar
Arab Saudi Umumkan Telah Vaksinasi 70 Persen Populasi Orang Dewasa
Bio Farma: Stok Vaksin Mampu Penuhi Target 1 Juta Vaksinasi Per Hari
Antusiasme Warga Ikuti Vaksinasi untuk Cegah Penularan Covid-19

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami