Dirugikan provider, Sam Bimbo ngadu ke Kabareskrim

PERISTIWA | 2 April 2012 23:46 Reporter : Muhammad Mirza Harera

Merdeka.com - Sejumlah artis yang menjadi korban content provider, operator dan label musik mendatangi Mabes Polri. Dua artis itu adalah musisi jazz James F Sondah dan anggota grup musik religi Bimbo, Samsudin Hardjakusumah atau lebih dikenal dengan nama Sam Bimbo.

Ditemani Anggota Panja Pencurian Pulsa DPR Roy Suryo, keduanya bertemu langsung dengan Kepala Bareskrim Polri Komjen Pol Sutarman. Bukan melapor, keduanya hanya mengadukan apa yang mereka alami ke Kabareskrim. Keduanya merasa ditipu dalam penjualan ring back tone (RBT) oleh content provider dan operator.

"Dari pertama lahir RBT sampai sekarang, semuanya tidak karu-karuan," ujar Bimbo kepada wartawan di Mabes Polri, Senin (2/4).

Content provider dan label dituding tak berkompromi dengan artis-artis yang karyanya dijual sebagai RBT. "Lagu saya dipakai, tapi saya tidak bagi uang. Mereka bagi-bagi saja diantara mereka, tapi kami tidak kebagian. Mereka bagi-bagi tanpa memberitahu kita," kata Bimbo.

Logisnya, kata dia, jika sebuah karya lagu digunakan sebagai RBT, maka operator, pemilik lagu, label dan content provider berunding membahas persenan keuntungan dari penjualan. Namun, yang berunding hanya dua pihak, content provider, operator dan label.

"Kami sama sekali tidak diajak berunding," ungkapnya.

Bimbo memaparkan, satu RBT dihargai Rp 9.000. "Rp 2.000 itu dilepaskan tidak tahu buat siapa, sisanya Rp 7.000 dibagi dua, label sama content provider dan operator. Akhirnya, setelah dipersoalkan, turun buat kami Rp 90," jelasnya.

"Bayangkan, dari harga Rp 9 ribu kami penyanyi, pencipta lagu dan pemusiknya hanya kebagian Rp 90," keluh Bimbo.

Setelah mengadu ke DPR, duit untuk pemilik lagu naik menjadi Rp 200. "Kami tidak terima dengan sistem begini. Kalau saya mau dagangin barang anda, anda yang punya kan berhak tahu. Ini justru enggak," papar Sam.

Menurut Sam, kondisi ini terjadi karena sistem penjualan yang salah. Selama ini hasil dagang lagu oleh operator dan content provider tidak transparan. Hasil penjualan dan laporannya kepada si artis, tuding Sam, dimanipulasi.

"Ini yang terlibat banyak sekali, bukan individual kondisi ini tidak hanya dialami saya dan James, namun banyak musisi. Sayangnya, mereka tak berani bicara karena mereka punya bos dan takut pada label yang menaunginya," ujar Sam.

Apa yang dialaminya merupakan pelanggaran hak cipta, kerugian bahkan bisa mencapai triliunan rupiah. "Kalau itungannya bener, seniman bisa beli kapal terbang. Ini beli mobil saja sudah untung, tukas Sam.

Sementara itu Roy Suryo mengatakan, Bareskrim harus memproses apa yang dialami para musisi ini. Menurutnya, data penjualan dimanipulasi oleh pihak content provider. DPR sudah menyerahkan data-data terkait kerugian yang dialami musisi kepada Polri.

"Data atau sumber lagu itu sebenarnya sudah terjadi kejahatan di dalamnya. Jadi ini penting untuk kepolisian mengetahui dari kasus pencurian pulsa dari awal ada kasus yang terjadi dan dialami korbannya adalah para musisi yang mereka dikerjai oleh para content provider dan oleh para operator. Bentuknya adalah penghargaan bagi musisi," ujar Roy.

Menurut Roy, tiga operator besar di Indonesia terlibat dalam kasus ini.

Rencananya, hari ini, penyidik akan memeriksa Bimbo dan James sebagai saksi di Bareskrim Polri. James mengatakan, kasus ini bukan delik aduan.

"Maka polisi yang harus bergerak menyelidiki, bisa berangkat dari kasus pencurian pulsa," tandasnya.

(mdk/did)

TOPIK TERKAIT