Dirut Petrokimia Gresik Dicecar KPK soal Pertemuan dengan Bowo Sidik

PERISTIWA | 21 November 2019 22:46 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merampungkan pemeriksaan Direktur Utama PT Petrokimia Gresik Rahmad Pribadi. Rahmad ditelisik tim penyidik KPK soal pertemuannya dengan para tersangka kasus dugaan suap jasa pelayaran antara PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) dengan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK).

"Tentu yang kami dalami apa yang dia ketahui ya, terutama soal interaksi yang pernah dilakukan oleh saksi dengan pihak-pihak dalam perkara ini, dalam hal ini tentu tersangka yang terkait dengan pokok perkara," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (21/11).

Nama Rahmad sendiri kerap muncul dalam persidangan perkara ini. Rahmad disebut turut hadir dalam pertemuan di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat pada 31 Oktober 2017 lalu.

Dalam pertemuan tersebut, Rahmad memperkenalkan Marketing Manager PT HTK Asty Winasti kepada mantan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso.

Pertemuan tersebut disinyalir untuk memuluskan kontrak kerja sama antara PT HTK dan PT PILOG. Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan Bowo Sidik yang duduk di kursi terdakwa dalam persidangan kasus ini.

Dalam pertemuan itu, Asty meminta bantuan kepada Bowo agar PT HTK dapat menjalin kontrak kerja sama pengangkutan dengan PT PILOG.

Hal ini lantaran kontrak kerja sama antara PT HTK dengan PT Kopindo Cipta Sejahtera (KCS) yang merupakan cucu perusahaan PT Petrokimia Gresik diputus pada 2015 setelah berdirinya PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) yang menjadi perusahaan induk BUMN pupuk.

Saat dikonfirmasi hal tersebut, Rahmad yang rampung menjalani pemeriksaan membantah mengenai keterkaitan dirinya dan PT KCS dalam kasus ini. Rahmad mengklaim dirinya hanya dikaitkan saja.

"Di sidang Tipikor sebelumnya kan sudah terang benderang bahwa saya hanya di ikut-ikutkan saja (oleh pengakuan Bowo Sidik). Karena ada yang mengkaitkan lah kira-kira begitu," kata Rahmad.

Dalam kasus ini, KPK menjerat Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Taufik Agustono sebagai tersangka kasus suap jasa angkut bidang pelayaran antara PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) dengan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK).

Penetapan tersangka ini merupakan pengembangan dari kegiatan tangkap tangan pada 28 Maret 2019 yang menjerat mantan anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso, Indung, serta Marketing Manager PT HTK Asty Winasti.

Menurut KPK, PT HTK memiliki kontrak pengangkutan dengan cucu perusahaan PT Petrokimia Gresik selama tahun 2013-2018. Pada tahun 2015, kontrak ini dihentikan karena membutuhkan kapal dengan kapasitas yang lebih besar, yang tidak dimiliki oleh PT HTK.

Terdapat upaya agar kapal-kapal PT HTK dapat digunakan kembali. Untuk merealisasikan hal tersebut, pihak PT HTK meminta bantuan Bowo Sidik. Bowo kemudian bertemu dengan anak buah Taufik, Asty Winanty.

Hasil pertemuannya dengan Bowo yakni mengatur sedemikian rupa agar PT HTK tidak kehilangan pasar penyewaan kapal. Dalam proses tersebut, kemudian Bowo Sidik meminta sejumlah fee. Kemudian Taufik sebagai Direktur PT HTK, membahasnya dengan internal manajemen dan menyanggupi sejumlah fee untuk Bowo.

Pada tanggal 26 Februari 2019 dilakukan MoU antara PT PILOG dengan PT HTK, yang salah satu materi MoUnya adalah pengangkutan kapal milik PT HTK. Setelah adanya MoU tersebut, disepakati untuk pemberian fee dari PT HTK kepada Bowo.

Kemudian Bowo meminta kepada PT HTK untuk membayar uang muka Rp 1 miliar atas telah ditandatanganinya MoU itu.

Reporter: Fachrur Rozie

Baca juga:
KPK Panggil Dirut PT Petrokimia Gresik Rahmat Pribadi
Dalami Kasus Suap Distribusi Pupuk, KPK Periksa Dirut Petrokimia Gresik
Bacakan Pleidoi, Bowo Sidik Bersikukuh Tak Pernah Minta Fee dengan PT Humpuss
JPU Tuntut Bowo Sidik Pangarso 7 Tahun Penjara
KPK Kembali Periksa Asty Winasti Sebagai Saksi Kasus Suap
Kasus Suap Distribusi Pupuk, KPK Periksa Komisaris PT Humpuss
Perantara Suap Bowo Sidik Pangarso Divonis 2 Tahun Penjara

(mdk/gil)