Disdik Jabar Perketat Syarat Sekolah Boleh Laksanakan Belajar Tatap Muka

Disdik Jabar Perketat Syarat Sekolah Boleh Laksanakan Belajar Tatap Muka
PERISTIWA | 9 Agustus 2020 21:06 Reporter : Aksara Bebey

Merdeka.com - Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan (Disdik) masih melakukan verifikasi terhadap daerah tingkat kecamatan di zona hijau yang bisa melaksanakan pendidikan tatap muka. Saat sudah ada keputusan, kegiatan tatap muka yang berlangsung tidak akan seperti sebelum ada pandemi Covid-19.

Kepala Disdik Jabar, Dedi Sopandi tengah fokus melakukan verifikasi di zona hijau tingkat kecamatan. Meski kabupaten atau kota tersebut masuk dalam zona kuning atau hijau. Tapi, tidak serta merta semua sekolah yang berada di zona hijau serta merta bisa melakukan aktivitas tatap muka.

"Kita tetap ke objeknya, (Sekolah yang berada) di kecamatan yang zona hijau. Artinya, kalau misalkan kab kota zona kuning, tidak semua yang di kuning itu harus tatap muka," ucap dia saat dihubungi, Minggu (9/8).

Disdik Jabar pun menambah indikator sekolah yang diutamakan untuk dibuka. Selain berada di kecamatan zona hijau. Pertama sekolah itu menyiapkan infrastruktur. Setidaknya ada 11 syarat. Mulai dari protokol kesehatan sampai dengan izin orang tua. Kedua, di zona hijau kecamatan. Ketiga, memiliki konektivitas internet rendah. Keempat, siswanya banyak kesulitan sarana belajar jarak jauh. Ada siswa yang tidak punya fasilitas daring.

"Itu yang kami utamakan," katanya.

Dia menegaskan, sebelum ada keputusan, maka persiapan verifikasi lebih diutamakan hingga akhirnya pada 18 Agustus diambil keputusan berapa jumlah sekolah yang bisa melaksanakan metoda pembelajaran tatap muka. Minggu ini tidak semua sekolah di kecamatan hijau langsung buka. Guru-guru akan menjalani swab tes.

Disinggung mengenai kemungkinan ada kasus positif di sekolah yang sudah diizinkan menggelar tatap muka, Dedi menjelaskan ada aturan yang mengikat. Murid yang hendak masuk akan dilakukan cek kesehatan, termasuk diukur suhu tubuhnya. Ketika yang bersangkutan masuk kategori sakit, maka tidak diperkenankan untuk masuk sekolah.

"Pelaksanaan tatap muka ini lebih kepada dalam aspek peningkatan mutu pendidikan itu lebih pada urutan ketiga setelah kesehatan dan keselamatan siswa diutamakan."

"Pada saat kondisi tatap muka, pola pembelajarannya memang yang harus tatap muka, misalnya, SMK (tatap muka) hanya untuk praktik, di minggu depannya kalau bisa daring, off lagi. Di SMA tidak semua mata pelajaran. Kalau bisa daring ya daring. Kalau matematika fisika harus tatap muka. Olahraga ekstrakulikuler tidak dilakukan dulu. Ada pembatasan juga. Minggu ini kelas X, minggu depannya lagi kelas XI, minggu depannya lagi XII, yang tidak giliran tatap muka, ya tetap daring," tutupnya. (mdk/noe)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami