Distribusi Air Bersih Terkendala, 95 Desa di Purbalingga Darurat Kekeringan

PERISTIWA | 10 Oktober 2019 11:48 Reporter : Abdul Aziz

Merdeka.com - 95 Desa tersebar di 15 kecamatan, Kabupaten Purbalingga mengalami kekurangan air bersih akibat kemarau panjang.

Pemkab Purbalingga melakukan penetapan perpanjangan status keadaan darurat bencana kekeringan atau kekurangan air bersih dalam status tanggap darurat selama 20 hari mulai tanggal 2– 21 Oktober 2019.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga, Umar Fauzi mengatakan, pengiriman bantuan air bersih diperkirakan hingga 21 Oktober 2019. Permasalahan yang dihadapi terbatasnya hidran untuk pengambilan air dan jarak hidran yang cukup jauh dari wilayah terdampak kekeringan.

Selain itu, belum tersedianya penampungan air membuat pendistribusian menjadi lama atau tidak maksimal. "Armada atau truk tangki air juga terbatas,” kata Fauzi, Kamis (10/10).

Pelbagai langkah dalam beberapa bulan terakhir telah dilakukan Pemkab Purbalingga untuk mengatasi kelangkaan air bersih. Terhitung sampai dengan 7 Oktober 2019 selama 105 hari Pemkab Purbalingga telah mendistribusikan air bersih sebanyak 2.907 tangki atau 13.433.000 liter.

Bantuan air bersih tersebut bersumber dari APBD Kabupaten Purbalingga dengan jumlah 1.310 tangki, BTT 1.043 tangki dan masyarakat/CSR dari OPD, Sekolah, Perbankan dan Komunitas dengah jumlah 1.119 tangki.

Sisa bantuan yang belum disalurkan sebanyak 565 tangki yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan bantuan air bersih mulai 8-20 Oktober 2019.

Pemkab Purbalingga juga berupaya memasang hidran baru yang dekat dengan wilayah terdampak kekeringan sekaligus untuk penanganan kejadian kebakaran.

Imbauan juga dilakukan ke pihak Pemerintah Desa (Pemdes) agar membantu mengalokasikan dana melalui Dana Desa mengadakan tempat penampungan air menggunakan torn atau terpal untuk efisiensi.

"Untuk himbauan pada Pemdes sudah kami sampaikan melalui Surat Nomot 360/724 tanggal 10 Oktober 2019," kata dia.

Strategi lain untuk mengatasi kekeringan dengan cara pembuatan sumur, glonteng atau tempat menyimpan air dan pipanisasi. Terakhir dengan melakukan pengadaan armada atau truk tangki air sehingga pendistribusian air bersih akan semakin mudah dilakukan ke wilayah terdampak kekeringan atau kekurangan air bersih.

Baca juga:
Debit Air Kali Bekasi Menurun
Jatim Dilanda Kekeringan, Kapolda, Gubernur, dan Pangdam Gelar Salat Minta Hujan
Kisah Anak di India Harus Naik Kereta Demi Dapatkan Air
Ratusan Hektare Sawah di Kabupaten Bogor Terancam Puso
Kekeringan, 8.173 Hektar Lahan Padi di Banten Gagal Panen
Berharap Hujan, Ribuan Warga Tasikmalaya Salat Istisqa
Pemkab Bogor Anggarkan Dana Rp10 Miliar untuk Pembuatan 40 Sumur Bor

(mdk/gil)