Djoko Minta ke Anita: Jangan Urusan Sama Pinangki & Andi Irfan, Mereka Mau Tipu Saya

Djoko Minta ke Anita: Jangan Urusan Sama Pinangki & Andi Irfan, Mereka Mau Tipu Saya
PERISTIWA | 25 November 2020 15:08 Reporter : Bachtiarudin Alam

Merdeka.com - Anita Kolopaking, mantan pengacara Djoko Tjandra menjadi saksi di sidang perkara gratifikasi kepengurusan fatwa Mahkamah Agung (MA) dengan terdakwa Pinangki Sirna Malasari. Dalam kesaksiannya, Anita bercerita Djoko sebagai kliennya saat itu sempat marah padanya.

Menurut Anita, Djoko marah karena 10 action plan terkait pengurusan Fatwa MA yang dibuat oleh Andi Irfan dan Pinangki tidak sesuai.

"Awal September Pak Djoko kirim action plan ke saya, beliau marah," ungkap Anita saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, pada Rabu (25/11).

Kemarahan Djoko Tjandra, kata Anita, karena mencurigai Pinangki dan Andi Irfan Jaya ingin menipu dirinya. Saking kesalnya, Djoko sempat mengingatkan Anita untuk menjauhi dan jangan berhubungan dengan dua orang tersebut.

"Anita jangan urusan sama Pinangki dan Andi Irfan Jaya, mereka mau nipu saya. Jangan hubungan lagi sama dia, ini (action plan) apa-apaan ini. Ini Andi Irfan kirim kayak gini, apa ini? Saya tidak mau berurusan sama mereka," kata Anita meniru perkataan Djoko Tjandra.

Setelah diperingati secara langsung, Djoko Tjandra kembali memberikan pesan serupa lewat sambungan telepon. Dari percakapan tersebut, diketahuilah kalau yang membuat action plan tersebut adalah Andi Irfan.

"Dia (Djoko Tjandra) bilang sih dari Andi Irfan tapi, pasti Andi Irfan kenal sama Pinangki," papar Anita.

Dalam persidangan, Anita mengaku sebelumnya tidak pernah mengetahui soal kesepakatan fee action plan sebesar USD 10 juta. Hal itu sebelumnya diberitahukan oleh Rahmat yang merupakan orang dekat Djoko Tjandra.

Anita sebelumnya ditanya Jaksa soal informasi kalau Pinangki mengajukan proposal sebesar USD 100 juta. Tak hanya itu, JPU turut menanyakan bayaran jasa Anita sebagai kuasa hukum Djoko Tjandra sebesar USD 200 ribu.

"Setelah pertemuan 19 November 2019, saudara Rahmat pernah infokan ke saudara bahwa terdakwa ajukan proposal untuk jasa terdakwa sebesar USD
100 juta, namun yang disetujui hanya USD 10 juta, sedangkan jasa saksi hanya USD 200 ribu?" tanya jaksa.

"Detailnya tidak. Tapi Pak Rahmat bilang iya proposal tidak disetujui. (Terkait permintaan USD 100 juta-red) tidak tahu saya, karena saya tahu dari mulut Rahmat," jawab Anita.

Sebelumnya, dalam perkara ini Pinangki didakwa menerima uang senilai USD 500 ribu dari Djoko Tjandra untuk mengurus fatwa di Mahkamah Agung (MA). Hal itu dilakukan agar Djoko Tjandra --yang saat itu masih buron-- tidak dieksekusi dalam kasus hak tagih atau cassie Bank Bali.

Perkara ini dimulai saat Pinangki bertemu sosok Rahmat dan Anita Kolopaking pada September 2019. Saat itu, Pinangki meminta agar Rahmat dikenalkan kepada Djoko Tjandra.

Kemudian, Anita Kolopaking akan menanyakan ke temannya yang seorang hakim di MA mengenai kemungkinan terbitnya fatwa bagi Djoko Tjandra. Guna melancarkan aksi itu, Djoko Tjandra meminta Pinangki untuk membuat action plan ke Kejaksaan Agung.

Pada tanggal 12 November 2019, Pinangki bersama Rahmat menemui Djoko Tjandra di Kuala Lumpur, Malaysia. Kepada Djoko Tjandra, Pinangki memperkenalkan diri sebagai orang yang mampu mengurus upaya hukum.

Jaksa pun mendakwa Pinangki melanggar Pasal 5 ayat 2 juncto Pasal 5 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut UU Tipikor) subsider Pasal 11 UU Tipikor. Pinangki juga didakwa Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencucian uang serta didakwa terkait pemufakatan jahat pada Pasal 15 jo Pasal 5 ayat 1 huruf a UU Tipikor subsider Pasal 15 jo Pasal 13 UU Tipikor. (mdk/lia)

Baca juga:
Anita Kolopaking 'Dongkol' Duit Legal Fee dari Djoko Tjandra Tertahan di Andi Irfan
Anita Kolopaking Mengaku Dikenalkan Pinangki Kepada Djoko Tjandra
Anita Kolopaking dan Andi Irfan Jadi Saksi di Sidang Pinangki
Pihak Tommy Sumardi: Bawa Kabareskrim, Irjen Napoleon Ingin Selamatkan Diri
Dalam Sidang, Napoleon Bersaksi Tommy Sumardi 'Bawa' Kabareskrim dan Azis Syamsuddin

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami