Doa Restu Ibu Jadi 'Jimat' Gatot Melawan Penjajah

PERISTIWA | 18 Agustus 2019 06:01 Reporter : Erwin Yohanes

Merdeka.com - 74 tahun silam sebelum kemerdekaan Indonesia, Gatot sudah mengangkat senjata ikut berperang melawan penjajah. Pria kelahiran 8 Januari 1927 ini mengaku pernah tergabung dalam kemiliteran di Batalyon Infanteri 523 di Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Meski namanya tak sepanjang sejarah yang telah dilaluinya, namun ia tetap dapat mengingat dengan baik masa-masa saat ia ikut berjuang membela Ibu Pertiwi.

Ditemui di sebuah rumah yang terletak di Dusun Krampung Gg 1 no 18 RT 2 RW 3 Kelurahan Ploso, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Gatot mulai bercerita banyak tentang masa lalu.

Sekitar tahun 1944 ia mengaku baru bergabung dengan ketentaraan di infantri. Saat itu, pria yang hanya tamatan Sekolah Rakyat (setara sekolah dasar) ini sudah berpangkat prajurit. Pangkat terakhir yang disandangnya hingga pensiun adalah prajurit satu (pratu).

Bersama rekan-rekan seperjuangannya waktu itu, Gatot sudah melalang buana ke berbagai medan pertempuran. Mulai dari Jombang hingga Surabaya, dan beberapa tempat lain yang sudah tak diingatnya lagi.

"Sebagai tentara waktu itu, markas saya berpindah-pindah. Karena pertempuran revolusi mengharuskan demikian," ujarnya didampingi sang anak, Djuli Sukisno, Selasa (13/8) malam.

Perjalanan dari waktu ke waktu pada masa perjuangan bukanlah hal yang mudah. Apalagi saat itu tidak hanya kemenangan dalam peperangan saja yang dapatnya.

Berbagai kekalahan juga pernah mewarnai perjuangannya. Ia bahkan sempat mengungsi ke Jombang demi menghindari kejaran Belanda. Namun setiap kekalahan perang tak pernah menyurutkan perjuangan menegakkan sang saka merah putih di bumi Indonesia.

Lalu apa yang membuatnya bisa tetap selamat hingga kini, Gatot bercerita, setiap berangkat berperang ia selalu menyempatkan diri untuk berpamitan dan memohon doa restu sang ibu. Baginya, doa sang ibu selama ini selalu didengarkan oleh Yang Maha Kuasa.

"Jadi beliau sebelum berangkat berperang, selalu bersujud pada ibunya untuk memohon doa restu beliau," tambah Djuli, anak ke 7 dari 8 bersaudara ini.

"Saya pernah berpapasan dengan Belanda saat mengungsi. Saat itu saya langsung nyilem (menyelam), dan alhamdulillah selamat tidak ketahuan," timpal Gatot.

Lalu, medan peperangan seperti apa yang dianggapnya cukup berkesan? Bagi Gatot, medan peperangan yang paling berkesan adalah pertempuran 10 November di Surabaya. Baginya, pertempuran arek-arek Kota Pahlawan saat itu merupakan peperangan mempertahankan kemerdekaan yang tak pernah terlupakan.

Para pejuang dari berbagai daerah tumpah ruah di jalanan ikut melawan pendudukan. Tak peduli meski hanya berbekal beberapa pucuk senjata api dan bambu runcing, mereka tak lari saat diserbu oleh para penjajah.

Semangat dan persatuan para pejuang saat itu lah yang pada akhirnya ikut memompa adrenalinnya untuk turut serta berjuang bersama-sama. Meski, tidak sedikit pula korban yang berjatuhan dari para pejuang. Perlawanan arek-arek Suroboyo ini lah yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 November, yang kini diperingati sebagai hari Pahlawan.

"Saya senang sekali saat itu, berjuang bersama mempertahankan Surabaya. Pertempuran di Surabaya selalu saya ingat itu, karena paling ramai. Banyak orang ikut berjuang," ungkapnya.

usai kemerdekaan, ternyata bukan masa yang langsung indah. Sebab setelah mati-matian berjuang melawan musuh dari luar, ia justru dihadapkan dengan musuh yang berasal dari bangsa sendiri, yakni orang-orang PKI atau Partai Komunis Indonesia.

Sebagai tentara saat itu, ia tidak punya pilihan selain harus melawan orang-orang PKI. Ia pun bersedih karena melihat bangsanya dalam ambang kehancuran pada waktu itu.

"Saya pernah berpapasan dengan rombongan Muso (salah satu pemimpin PKI). Beruntung saya tidak disembelih. Tapi saya sedih karena harus melawan bangsa sendiri pada waktu itu," pungkasnya.

Pahit getirnya perjuangan demi mewujudkan kemerdekaan Indonesia sudah pernah dirasakannya. Satu persatu rekan-rekan seperjuangannya bahkan telah gugur baik di medan perang maupun karena faktor usia.

Kini di kampungnya ini ia merupakan satu-satunya veteran yang masih hidup. Ia bahkan terhitung sebagai orang paling tua di kawasan tersebut.

Namun sebagai orang yang pernah menghabiskan masa hidupnya untuk berjuang, Gatot menyatakan masih belum bisa bergembira di usia tuanya. Sebab ia masih melihat banyak ketimpangan sosial pasca kemerdekaan di Indonesia.

Jurang antara si miskin dan si kaya dianggapnya masih kentara. Rasa persatuan dan kesatuan bangsa saat ini juga dianggapnya tidak semilitan saat masa perjuangan. "74 tahun merdeka tapi kita masih kalah dengan negara tetangga seperti Malaysia," tandasnya.

Untuk itu, ia pun berpesan kepada generasi dan pemimpin bangsa saat ini, agar menjaga persatuan dan kesatuan. Ia mengingatkan, untuk mencapai kemerdekaan seperti saat ini tidaklah mudah. Sudah banyak nyawa dari para pejuang yang melayang demi ibu pertiwi.

Generasi saat ini hanya tinggal meneruskan dan menjaga saja. Harusnya tidak sesulit saat meraih kemerdekaan saat itu. "Jaga persatuan dan kesatuan bangsa. Siapapun yang jadi presiden, rukun damai. Jangan sampai terjadi perpecahan," pesan penyuka lagu Bengawan Solo dan Jembatan Merah ini.

Lalu, apakah negara sudah cukup memperhatikannya kini? Gatot mengaku, di masa tua ini ia masih menerima tunjangan pensiun. Ia pun masih tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kecamatan Tambaksari, Surabaya.

Kini ia pun mengisi hari-harinya bersama dengan anak dan cucu. Kondisi fisiknya yang sudah termakan usia, membuatnya hanya bisa terbaring. Kakinya yang ringkih tak mampu lagi menopang tubuhnya.

"Bapak sukanya jalan-jalan. Dulu masih sehat ya bisa jalan sendiri. Kini harus pakai kursi roda ke mana-mana. Biasanya saya yang menemani, sambil tak nyanyikan lagu kesukaan beliau," kata Djuli menimpali.

Meski tercatat sebagai pejuang, Gatot rupanya tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) jika sudah menghadap sang Khalik kelak. Ia minta kepada sang anak agar memakamkannya di pemakaman umum (TPU) di sekitar tempat tinggal.

"Beliau mengaku ikhlas berjuang. Pernah dulu didatangi sama pihak (Kodam) Brawijaya, ditanya mau (dimakamkan) di TMP atau TPU, beliau jawab di TPU saja. Alasannya, supaya anak-anaknya tak kejauhan kalau mau (berziarah) mengunjungi," tutup Djuli mengakhiri pembicaraan. (mdk/cob)

Baca juga:
Danardono Habisi Tentara Belanda Hanya dengan Bambu Runcing Kecil
Misi Sanjoto Selamatkan Jenderal Soedirman dari Kejaran Jepang
Kisah Abah Emang Selamat usai Terkena 8 Tembakan dan Tusukan Bayonet Belanda
Bawa Piagam, Keluarga Veteran dan Purnawirawan Geruduk KPU
Jokowi minta maaf kenaikan tunjangan bagi veteran belum cair
Jokowi tutup Kongres XI Legiun Veteran

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.