Dokter Penyakit Dalam Sebut Pasien Long Covid Bisa Divaksinasi

Dokter Penyakit Dalam Sebut Pasien Long Covid Bisa Divaksinasi
Vaksinasi Covid-19 di Depok. ©2021 Merdeka.com/Arie Basuki
NEWS | 17 Oktober 2021 13:30 Reporter : Supriatin

Merdeka.com - Staf medis divisi penyakit tropis dan infeksi penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Adityo Susilo mengatakan pasien long Covid bisa menjalani vaksinasi Covid-19.

"Pasien long Covid dapat divaksinasi selama mengikuti timetable (jadwal) yang telah ditetapkan," katanya saat Webinar TIM Mitigasi IDI, Minggu (17/10).

Adityo menjelaskan, long Covid-19 bukan penyakit, melainkan gejala sisa atau gejala yang baru muncul setelah pasien sembuh dari Covid-19. Gejala tersering dari long Covid adalah kelelahan disertai sesak napas, batuk-batuk hingga sakit kepala. Sementara gejala long Covid yang terkadang muncul ialah demam, diare, kesemutan, nyeri sendi, gangguan memori dan konsentrasi.

Wakil Sekjen PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi) ini menambahkan sebetulnya pihaknya menganjurkan vaksinasi bagi penyintas Covid-19 dilakukan tiga bulan setelah dinyatakan sembuh. Namun, anjuran ini sedikit berbeda dengan keputusan Kementerian Kesehatan.

Kementerian Kesehatan melalui Surat Edaran HK.02.02/I/2524/2021 mengizinkan penyintas Covid-19 dengan derajat keparahan sakit ringan hingga sedang mengikuti vaksinasi dengan jarak waktu minimal satu bulan setelah dinyatakan sembuh. Sementara untuk penyintas Covid-19 dengan derajat keparahan sakit berat dapat melakukan vaksinasi dengan jarak waktu minimal tiga bulan setelah dinyatakan sembuh.

Menurut Adityo, tenaga kesehatan harus bijak memberikan informasi vaksinasi kepada penyintas dengan long Covid. Jika penyintas masih mengalami hiperkoagulasi atau sindrom kekentalan darah, maka jenis vaksin yang dianjurkan tidak memberatkan kondisi pasien.

"Hiperkoagulasi mungkin saat itu pernah disinggungkan dengan vaksin AstraZeneca, nah ada risiko hiperkoagulasi. Jadi kita mungkin harus bisa wise juga ke pasien, kalau misalnya pasien kita masih mengalami hiperkoagulasi dan dia juga khawatir, mungkin kita juga nggak bisa maksa," ujarnya.

"Mungkin kita bisa mengambilkan vaksin-vaksin lain yang relatif mungkin dia bisa lebih menerima secara keyakinan," tandas Adityo.

(mdk/yan)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami