Doni Monardo Sebut Debris Flow Berpeluang Terjadi di Jawa Barat

Doni Monardo Sebut Debris Flow Berpeluang Terjadi di Jawa Barat
Kepala BNPB Doni Monardo di Rapat komisi VIII. ©2020 Liputan6.com/Johan Tallo
PERISTIWA | 29 April 2021 13:06 Reporter : Supriatin

Merdeka.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat di Jawa Barat mengenai debris flow. Debris flow pernah melanda Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Adonara, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan menelan 56 korban jiwa.

Debris flow merupakan aliran dengan kecepatan tinggi yang berisi batu-batu gunung dari atas ke bawah.

"Apa yang tadi dijelaskan terjadi di NTT berpeluang terjadi di Jawa Barat," katanya dalam Rakor Penanganan Covid-19 dan Mitigasi Bencana Provinsi Jawa Barat yang disiarkan melalui YouTube BNPB Indonesia, Kamis (29/4).

Prediksi terjadinya debris flow berangkat dari kondisi bukit di sejumlah daerah di Jawa Barat. Salah satunya Sumedang. Doni menyebut, bukit di Sumedang kini mulai digunakan untuk permukiman.

Sementara itu, pohon-pohon yang berada di lereng bukit telah ditebang. Penebangan pohon ini akan mengakibatkan bukit longsor.

"Saya ingin mengingatkan karena fotografi Jawa Barat ini daerah yang berbukit dan permukimannya juga relatif sangat padat, maka jangan coba-coba menebang pohon. Saya ulangi lagi, jangan coba-coba menebang pohon ketika kemiringan tanah lebih dari 30 derajat," pesannya.

Doni meminta pemerintah daerah dan masyarakat di Jawa Barat mengambil langkah antisipasi terhadap bencana. Di antaranya, pembangunan pada daerah bukit harus berorientasi pada risiko.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pemetaan dan Risiko Bencana BNPB, Abdul Muhari mengatakan debris flow dampak siklon tropis seroja terjadi di Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Adonara. 55 Orang meninggal dunia dan 1 hilang akibat debris flow.

"Debris flow selama ini kita kenal dengan banjir bandang tapi sebenarnya bukan banjir bandang," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (15/4).

Muhari mengaku telah melakukan survei dengan pemantauan udara mengenai fenomena debris flow di Ile Boleng. Survei menunjukkan, terjadi pelepasan batu andesit dari tebing setinggi 8 hingga 10 meter di belakang permukiman penduduk.

Pelepasan batu terjadi karena hujan dengan intensitas sangat tinggi terjadi di kawasan Ile Boleng. Sementara itu, batu yang berada di bukit Ile Boleng tidak saling mengikat satu sama lain.

"Kalau kita lihat pengikat batu ini cuma tanah-tanah yang ada di sela-sela batu sehingga jika terjadi curah hujan dengan sangat tinggi maka lapisan pasir atau tanah yang mengikat batu ini akan tergerus sehingga tidak ada lagi tanah yang mengikat sela batu. Ini akan sangat mudah tergelincir ke bawah," jelasnya.

Muhari melanjutkan, batu andesit yang terlepas dari bukit Ile Boleng menghantam rumah warga yang berada di jalur pelepasan batu andesit. Akibatnya, rumah warga mengalami rusak parah dan lebih dari 50 orang meninggal dunia.

"Bisa dibayangkan batuan besar dari atas turun ke bawah menghantam rumah-rumah penduduk," ucapnya.

Menurut Muhari, penduduk Ile Boleng harus mewaspadai terjadinya debris flow kembali. Dia menyebut, fenomena tersebut bisa terulang jika muncul siklon tropis di kemudian hari atau hujan dengan intensitas sangat tinggi. (mdk/fik)

Baca juga:
Ridwan Kamil Klaim Tidak Ada Zona Merah Covid-19 di Jawa Barat sejak Maret
Kota Bogor Siapkan 73 Sekolah Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka Sebelum Juli 2021
Wagub DKI Minta Satgas Covid-19 di Perkantoran Perketat Protokol Kesehatan
DPRD Sering Tegur Dinkes Tangsel karena Lambat Merespons Laporan Terkait Covid-19
Update Pasien Covid-19 Dirawat di RSD Wisma Atlet Per 29 April 2021
Kompolnas Nilai Pelaku Mafia Karantina Juga Bisa Dijerat Pasal Pungutan Liar

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami