Dosen Universitas Jember Tersangka Pencabulan Masih Upayakan Mediasi dengan Korban

Dosen Universitas Jember Tersangka Pencabulan Masih Upayakan Mediasi dengan Korban
Kanit PPA Satreskrim Polres Jember, Ipda Diyah Novitasari. ©2021 Merdeka.com/Muhammad Permana
PERISTIWA | 15 April 2021 22:46 Reporter : Muhammad Permana

Merdeka.com - Polisi sejak Selasa (13/04) kemarin resmi menetapkan RH, dosen FISIP Universitas Jember (Unej) sebagai tersangka kasus pencabulan anak di bawah umur. Korbannya adalah anak di bawah umur, yakni keponakannya sendiri yang berusia 16 tahun.

Pihak RH masih berupaya melakukan mediasi agar kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Dikonfirmasi hal itu, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Jember, Ipda Diyah Novitasari menyatakan upaya mediasi masih bisa dilakukan. Sekalipun RH sudah ditingkatkan statusnya sebagai tersangka.

"Ya tidak apa-apa (mereka melakukan mediasi). Penyidikan masih tetap lanjut," kata Ipda Diyah saat dikonfirmasi merdeka.com, Kamis (15/4).

Upaya RH untuk menghentikan penyidikan kasus ini lewat mediasi, lanjut Diyah, bisa saja berhasil. "Senyampang korban dan keluarganya menyetujui. Semua tergantung keluarganya," ujar perwira alumnus Universitas Jember (Unej) ini.

Peluang untuk tidak membawa kasus ini ke pengadilan, menurut Diyah, bergantung pada keputusan keluarga korban. Sejauh ini, polisi mengaku bisa berkomunikasi baik dengan ayah dan ibu korban, meski keduanya terpisah. RH diketahui merupakan saudara ipar dari ayah korban.

"Sejauh ini masih dikomunikasikan dengan baik. Semua tergantung keluarganya," kata Diyah.

Masih Berupaya Damai

Dikonfirmasi terpisah, pengacara RH, Ansorul Huda menyatakan masih mengupayakan mediasi dengan pihak korbannya. “Kita masih mengupayakan itu, mohon doanya. Upaya mediasi itu sudah kami lakukan sejak sebelum ada laporan polisi. Klien kami bersama keluarga besar memang sudah mengupayakan perdamaian. Karena pelapor sebenarnya masih keluarga juga,” tutur Ansorul Huda.

Upaya itu dilakukan untuk mendinginkan suasana. “Kita kesulitan komunikasi. Sehingga lewat media pers, harapan kita, jika memang kawan-kawan media berkenan, bisa berkontribusi untuk membantu,” ujar Huda.

Sejauh ini, upaya mediasi itu sudah disambut baik oleh ayah korban. Namun tidak dengan ibu korban.

"Yang jelas, memang tidak bisa berhubungan secara langsung, pasti lewat mediator yang mengkomunikasikan. Kalau dengan ayah korban, malah sudah ada pertemuan. Sedangkan ibu korban hingga saat itu belum berkenan,” tutur Ansorul.

Menurut Ansorul, ayah dan ibu korban sejak lama memang hidup terpisah. Ayah korban merupakan kakak kandung dari istri RH.

"Jadi memang keponakan langsung," pungkas pengacara asal Mojokerto ini.

Perkembangan terakhir, per hari Kamis (15/4) ini, RH yang merupakan doktor kebijakan publik lulusan Charles Darwin University Australia itu telah dibebastugaskan sementara dari jabatannya sebagai Koordinator Program Magister (S-2) Program Studi Ilmu Administrasi FISIP Universitas Jember.

Keputusan itu diambil Rektor Unej, Iwan Taruna berdasarkan rekomendasi dari Tim Investigasi yang khusus dibentuk terkait kasus RH. Selain itu, Dekan FISIP Unej juga telah melarang RH untuk menjadi pembimbing maupun penguji tugas akhir mahasiswa S1 maupun S2 di kampus tersebut. (mdk/gil)

Baca juga:
Dosen Universitas Jember Dibebastugaskan Usai Jadi Tersangka Pencabulan
Dosen di Jember Jadi Tersangka Pencabulan Keponakan, Terancam Hukuman 20 Tahun Bui
Diperiksa Polisi, Dosen di Jember Diduga Cabuli Keponakan Masih Berstatus Saksi
Cabuli Bocah 12 Tahun, Dukun di Empat Lawang Masuk Bui
Keji, Kakek Ini Tega Cabuli Cucunya Sendiri sampai Tewas
Tempat Ngaji di Garut Dibakar Warga yang Kesal karena Ustaz Cabuli Muridnya

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami