DPR Serukan Purnawirawan TNI Solid Demi Persatuan Bangsa

PERISTIWA | 1 Juni 2019 10:11 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah

Merdeka.com - Pilpres 2019 membuat masyarakat terbelah pada dua pilihan politik, termasuk purnawirawan TNI-Polri. Komisi I DPR yang membidangi pertahanan menyerukan para purnawirawan kembali kompak demi persatuan dan kesatuan NKRI.

Anggota Komisi I DPR Supiadin Aries Saputra mengatakan, semangat patriotisme para purnawirawan sudah terlatih dan teruji sejak masih aktif. Sehingga, menurutnya, jika ada perbedaan pilihan itu hanya sementara, takkan mengganggu persatuan NKRI.

"Sangat kecil mereka memecah belah. Bagi mereka NKRI adalah harga mati. Itulah ciri dari TNI," kata Supiadin kepada wartawan, Sabtu (1/6).

Politikus dari Partai NasDem itu, perbedaan sikap politik di kalangan para purnawirawan itu wajar. Dia misalnya yang memilih bergabung di Partai NasDem. Sementara banyak para purnawirawan lainnya memilih partai yang selain Nasdem.

"Tapi bukan berarti kami terpecah. Kami tetap satu untuk NKRI," kata Supiadin.

Lulusan Akabri 1975 itu meminta para purnawirawan TNI yang tidak puas dengan hasil pemilu agar menempuh jalur hukum seperti ke Bawaslu atau Mahkamah Konstitusi. Tujuannya untuk menghindari tindakan yang berpotensi merugikan dan melanggar hukum.

"Saya yakin, setelah putusan MK takkan ada lagi kubu 01 atau 02," katanya.

Anggota Komisi I DPR lainnya, Syaifullah Tamliha juga meyakini para purnawirawan TNI saat ini solid. Meski terjadi perbedaan dalam Pilpres 2019, para purnawirawan tetap setia terhadap sapta marga prajurit.

"Mereka juga negarawan yang pasti mengedepankan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi masing-masing," katanya.

Sementara itu, Pengamat militer Aris Santoso meyakini bahwa para Purnawirawan TNI memiliki ikatan kuat. Beda pilihan dalam pilpres takkan memecah belah mereka. Buktinya, kata Aris, adanya komunikasi personal antara Prabowo Subianto dengan Luhut Panjaitan. Itu membuktikan bahwa hubungan mereka baik-baik saja.

"Ini main diopini saja, seolah-olah di masyarakat sipil mereka berperang padahal mereka solid," ujarnya.

Karena itu, Aris menghimbau para purnawirawan jenderal tersebut tidak perlu ribut-ribut, dan tetap menjaga kondusifitas. Sebab, yang jadi korbannya masyarakat sipil.

"Mereka takkan berbuat makar. Itu hanya sekedar kata-kata. Mereka itu solid," katanya meyakinkan.

Diketahui, dukungan dari para purnawirawan TNI-Polri terbagi di Pilpres 2019. Misalkan saja, di kubu Prabowo-Sandiaga mendapat dukungan sekitar 108 purnawirawan TNI-Polri.

Dari 108 nama-nama itu, antara lain bekas Menko Polhukam Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edi Purdijatno, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI (Purn) Imam Sufaat dan mantan Gubernur Jawa Tengah Letjen TNI (Purn) Bibit Waluyo. Ada juga Direktur Eksekutif BPN Mayjen TNI (Purn) Musa Bangun dan mantan petinggi Polri Komjen (Purn) Sofjan Jacoeb.

Sementara di kubu Jokowi-Ma'ruf, ada sejumlah purnawirawan TNI seperti Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan, Jenderal (Purn) Moeldoko hingga Jenderal (Purn) Hendropriyono.

Baca juga:
Hasil Audit Dana Kampanye Pemilu Diumumkan 1 Juni
Fahri Hamzah Nilai Tak Masalah BPN Gunakan Bukti Link Berita di MK
Fahri Usul Jokowi Yakinkan Prabowo, Bertemu untuk Cari Solusi Masalah Bangsa
KPU RI Kumpulkan KPU Daerah Bahas Gugatan MK
Moeldoko Isyaratkan Pertemuan Jokowi dan Prabowo Setelah Lebaran

(mdk/ray)