DPR Soal Mundurnya NU & Muhammadiyah dari POP: Ada yang Tak Beres dalam Rekrutmen

DPR Soal Mundurnya NU & Muhammadiyah dari POP: Ada yang Tak Beres dalam Rekrutmen
Gedung DPR. ©2020 Merdeka.com
PERISTIWA | 23 Juli 2020 10:03 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Hasil seleksi Program Organisasi Penggerak (POP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memicu kontroversi publik. Selain masuknya dua yayasan perusahaan besar yakni Sampoerna dan Tanoto, banyak entitas baru di dunia pendidikan lolos seleksi program.

Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif PBNU dan Majelis Pendidikan Dasar-Menengah PP Muhammadiyah menyatakan mundur sebagai peserta POP sebagai bentuk protes. DPR meminta Kemendikbud membuka kriteria-kriteria peserta Program Organisasi Penggerak.

"Kami mendesak Kemendikbud membuka kriteria-kriteria yang mendasari lolosnya entitas pendidikan sehingga bisa masuk POP. Dengan demikian publik akan tahu alasan kenapa satu entitas pendidikan lolos dan entitas lain tidak,” ujar Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda, kepada wartawan, Kamis (23/7).

Dia menjelaskan hasil seleksi POP banyak mendapatkan respons negatif dari publik. Buktinya lembaga pendidikan milik PBNU dan PP Muhammadiyah mundur dari program tersebut. Padahal LP Ma’arif PBNU dan Majelis Pendidikan PP Muhammadiyah merupakan dua entitas dengan rekam jejak panjang di dunia pendidikan Indonesia.

"Pengunduran diri NU dan Muhammadiyah dari program ini menunjukkan jika ada ketidakberesan dalam proses rekruitmen POP," tegas dia.

Baca Selanjutnya: Huda mengatakan Kemendikbud tidak bisa...

Halaman

(mdk/ray)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami