Draf Final RUU KUHP: Ajak Pacar Kabur Dipidana 7 Tahun, Kawin Lari Tidak Dipidana

Draf Final RUU KUHP: Ajak Pacar Kabur Dipidana 7 Tahun, Kawin Lari Tidak Dipidana
ilustrasi kawin lari. ©idiva.com
NEWS | 7 Juli 2022 11:49 Reporter : Henny Rachma Sari

Merdeka.com - Pemerintah melalui KemenkumHAM telah menyerahkan draf final RKUHP (Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) ke DPR RI. Salah satu pasal mengatur terkait membawa lari perempuan atas nama cinta.

Jika perempuan tersebut dibawa kabur dan masih di bawah umur maka pelaku terancam pidana 7 tahun penjara. Sedangkan, jika diajak menikah dengan ketentuan perundang-undangan, maka keduanya bebas dari jeratan hukum.

Berikut lengkapnya:

Pasal yang mengatur termasuk dalam Bab Perampasan Kemerdekaan Orang. Paragraf 3 Melarikan Anak dan Perempuan

Pasal 458

(1) Setiap Orang yang membawa pergi Anak di luar kemauan Orang Tua atau walinya, tetapi dengan persetujuan Anak itu sendiri, dengan maksud untuk memastikan penguasaan terhadap Anak tersebut, baik di dalam maupun di luar perkawinan dipidana karena melarikan Anak dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun.

(2) Setiap Orang yang membawa pergi perempuan dengan tipu muslihat, Kekerasan atau Ancaman Kekerasan, dengan maksud untuk memastikan penguasaan terhadap perempuan tersebut, baik di dalam maupun di luar perkawinan dipidana karena melarikan perempuan dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun.

(3) Tindak Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dituntut atas pengaduan Anak, Orang Tua, atau walinya.

(4) Tindak Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dituntut atas pengaduan perempuan atau suaminya.

(5) Jika yang membawa lari mengawini perempuan yang dibawa pergi dan perkawinan tersebut dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai perkawinan, tidak dapat dijatuhi pidana sebelum perkawinan tersebut dinyatakan batal.

Penjelasan

Pada Bab Penjelasan, ditafsirkan bunyi ayat 2 sebagai berikut:

Pengertian 'membawa pergi perempuan' atau 'melarikan perempuan (schaking)' dalam ketentuan pasal ini berbeda dengan 'penculikan' (kidnapping) dalam Pasal 486 dan 'penyanderaan' (taking hostage) dalam Pasal 487. Tindakan membawa pergi perempuan umumnya terjadi antara laki-laki (yang melarikan) dan perempuan (yang dilarikan) berkaitan dengan hubungan cinta, dan karena itu perbuatan tersebut dilakukan atas persetujuan pihak perempuan.

Unsur Tindak Pidana pada ayat ini dikaitkan dengan umur yang belum dewasa dari perempuan yang dibawa pergi. Di samping unsur di bawah umur, yang perlu diperhatikan yaitu yang bersangkutan masih berada dalam pengawasan Orang Tua atau walinya.

Unsur Tindak Pidana dalam ketentuan ini tidak dikaitkan dengan umur perempuan yang dibawa lari, masih belum dewasa, atau masih di bawah umur, baik dalam status perkawinan ataupun tidak, tetapi jika perempuan tersebut dilarikan dengan tipu muslihat, Kekerasan atau dengan Ancaman Kekerasan, maka ancaman pidananya lebih berat. (mdk/rhm)

Baca juga:
Draf Final RKUHP: Perdagangkan Orang Bisa Dipenjara Paling Lama 15 Tahun
Draf Final RUU KUHP: Buat Video Porno untuk Konsumsi Pribadi Tak Dipidana
Draf Final RUU KUHP: Orang Tua Ajak Anak Mengemis Dipidana, Gelandangan Didenda
Komisi III Bahas 14 Isu Krusial RKUHP pada Masa Sidang Bulan Agustus
Draf Final RKUHP: Kritik Presiden Harus Disertakan Solusi

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini