Drone Emprit: Pola Hoaks, Isu Kesehatan Sebar Ketakutan & Politik soal Keberpihakan

Drone Emprit: Pola Hoaks, Isu Kesehatan Sebar Ketakutan & Politik soal Keberpihakan
hoaks daftar barang lelang pegadaian. kominfo
NEWS | 23 Oktober 2021 12:23 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Senior Analyst Drone Emprit Yan Kurniawan mengungkapkan saat ini masyarakat menyukai atau menikmati hoaks. Meskipun demikian tidak berarti bahwa masyarakat menyukai kebohongan.

Ada dua faktor yang mendorong masyarakat untuk menikmati hoaks. Faktor pertama karena ketakutan. Sementara faktor kedua karena keyakinan.

"Kalau karena ketakutan itu biasanya kayak di isu-isu kesehatan. Saya takut keluarga saya kena makanya saya kasih, saya sebar juga," ujar dia dalam diskusi daring Trijaya FM, Sabtu (23/10).

"Ada juga karena keyakinan. Pokoknya yang dilakukan Pak Jokowi salah. Jadi ada berita negatif tentang Pak Jokowi, langsung sebar," lanjut dia.

Menurut dia, tiap isu memiliki pola hoaksnya sendiri. Isu kesehatan lebih mengedepankan sisi ketakutan. Sedangkan, isu politik dan SARA mengedepankan keyakinan sama keberpihakan.

Dia pun menjelaskan, tinggi penyebaran hoaks tidak berarti bahwa konten-konten berkualitas tidak diminati. Konten berkualitas yang diproduksi oleh media mainstream tetap dibaca dan disebarkan, hanya saja lajunya tidak sekencang penyebaran hoaks.

"Konten investigasi itu keren cuma laju penyebarannya tidak sekencang hoaks. Ada pola masyarakat cepat menyebarkan hoaks tapi setelah tahu data itu hoaks dia tidak ikut klarifikasi. Ini yang kita sayangkan dan harus kita edukasi," ujar dia.

Bicara soal data penyebaran hoaks, dia menyampaikan sebuah fakta menarik. Pertama, dalam kurun waktu 2 tahun pemerintah Jokowi-Ma'ruf, ada sekitar 1,98 juta percakapan tentang hoaks di kanal Twitter. Kedua ada 50.000 artikel online yang membahas tentang hoaks.

Ada dua isu yang paling besar. Dua-duanya berkaitan dengan pandemi Covid-19. Pertama hoaks terkait Covid misalnya hoaks yang menyatakan Covid sebagai konspirasi. Kedua, hoaks terkait vaksinasi.

"Itu menarik karena di tahun-tahun sebelumnya tidak ada pola seperti itu. Yang ada hoaks didominasi oleh isu politik dan SARA," terang dia.

"Yang ngeri hoaks itu tidak lagi masuk di hanya kanal sosmed terbuka. Tapi juga di kanal tertutup seperti WhatsApp dan sebagainya," katanya. (mdk/rhm)

Baca juga:
Drone Emprit: Masyarakat Jadikan Media Mainstream Sebagai Legitimasi Opininya
CEK FAKTA: Hoaks, Undangan Seminar Mengatasnamakan LAN RI
CEK FAKTA: Hoaks, Situs Daftar Barang Lelang Pegadaian
CEK FAKTA: Hoaks, KPK Temukan Uang Suap Rp5 Miliar di Rumah Novel Baswedan
Jasa Marga Pastikan Informasi Rekrutmen Beredar Saat ini Hoaks, ini Alasannya

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami