Eks Kalapas Cebongan sempat curiga Polda DIY titipkan 4 tahanan

Eks Kalapas Cebongan sempat curiga Polda DIY titipkan 4 tahanan
Sidang kasus Lapas Cebongan. ©2013 Merdeka.com/parwito
PERISTIWA | 5 Juli 2013 18:02 Reporter : Parwito

Merdeka.com - Mantan Kepala Lapas Klas II B Sleman (Lapas Cebongan), B Sukamto mengaku sudah mempunyai perasaan akan ada penyerangan. Perasaan curiga itu muncul karena ada tahanan titipan dari Polda DIY yang terlibat kasus pembunuhan anggota Kopassus yang dititipkan secara mendadak.

Pernyataan itu disampaikan oleh Sukamto saat menjadi saksi dalam kasus penyerangan Lapas Cebongan pada sidang yang digelar di Pengadilan Militer II/11 Yogyakarta, Jumat (5/7).

Sebelum adanya penyerangan, pada 22 Maret pukul 23.15 WIB, Sukamto mengaku menghubungi Kepala Pengamanan Lapas Margo Utomo guna menanyakan situasi. Saat itu Sukamto memperoleh laporan bahwa Lapas dalam kondisi aman. Sukamto kemudian memerintahkan bawahannya itu untuk tetap mengamankan situasi.

"Kami berpikir ini adalah hal yang istimewa, karena baru empat hari kasusnya tapi sudah dititipkan di tempat kami oleh Polda. Apalagi informasi sebelumnya mereka ditahan di Polda dengan pengawalan ketat dari Brimob. Maka kami antisipasi jangan-jangan di tempat kami akan mengalami serupa. Itu insting kami saja," tuturnya.

Sukamto sempat mencurigai bahwa upaya penitipan 4 tahanan itu terlalu cepat mengingat kasusnya cukup besar. Terlebih, saat itu sedang ramai kasus-kasus perusakan kantor lembaga lain yang dirusak oleh oknum tertentu.

"Beberapa waktu lalu di Polsek Tanjung Raja juga kena musibah, terus Markas Polres Oku dibakar. Hal-hal semacam itu semakin kuat tentang keberadaan institusi kami pada kondisi itu," ungkapnya.

Setelah itu, pada 23 Maret sekitar pukul 00.30 WIB, Sukamto mengaku ditelepon Kepala Keamanan Lapas bahwa ada dua anggota yang ingin mengambil tahanan. Namun tidak berapa lama, sambungan telepon terputus. Sukamto pun mengaku curiga dan penasaran.

"Nomor tersebut kami hubungi lagi bisa masuk tapi enggak diangkat. Kemudian kami menghubungi telepon kantor, bisa masuk tapi tidak ada yang mengangkat. Saya punya perasaan tidak enak, enggak pernah Kepala Keamanan saya bermain-main soal laporan," ungkapnya.

Saat itu, dirinya sedang berada di Bantul langsung menuju Sleman. Dalam perjalanan, Sukamto menghubungi stafnya yang bernama Anita. Posisi rumah stafnya itu tepat berdampingan dengan posisi Lapas untuk segera mengecek kondisi Lapas.

"Saya tunggu gak ada jawaban kembali dari Bu Anita. Pak Margo lalu nelpon lagi, dia melaporkan; 'Pak Lapas kita baru saja diserang, kami tidak tahu Pak, beberapa orang masuk membawa senjata lengkap, empat tahanan meninggal'," cerita Sukamto menirukan pernyataan Anita dalam telepon.

Sebelum menuju Lapas, Sukamto terlebih dahulu menuju Polsek sekitar Lapas untuk melaporkan peristiwa penyerangan itu. Tanpa turun dari mobil, Sukamto mengajak anggota polisi menuju Lapas.

Namun saat sampai di Lapas sudah ada dua anggota Polsek tetapi penyerangan sudah terlanjur terjadi dan menewaskan 4 tahanan Dicky Cs dalam kondisi mengenaskan akibat diberondong peluru. (mdk/did)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami