Eks Presdir Lippo Cikarang Minta Penyidik KPK Jujur dan Transparan

PERISTIWA | 12 Desember 2019 20:11 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Bartholomeus Toto rampung menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan izin proyek pembangunan Meikarta di Bekasi, Jawa Barat. Sebelum masuk ke dalam mobil tahanan, Toto meminta agar penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak menutup-nutupi alasan dirinya dijerat sebagai tersangka dan ditahan.

"Saya akan sangat senang jika ā€ˇpenyidik dan pimpinan KPK mau terbuka ke publik secara transparan dan jujur apa yang menyebabkan saya ditahan seperti ini," ujar Toto di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (12/12).

Toto mengatakan, dirinya terjerat kasus ini karena dijebak oleh anak buahnya Edi Dwi Soesianto atau Edi Soes. Menurut Toto, Edie Soes memberikan keterangan yang berbeda dengan apa yang disampaikan penyidik KPK.

"Rekaman ada pada saya. Intinya satu, Edi Soes dipaksa oleh penyidik untuk memberikan keterangan bahwa saya yang memberikan uang Rp10 miliar," kata dia.

Toto secara tegas membantah telah memberikan suap sebesar Rp10 miliar untuk Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin. Dia juga menyangkal tidak ada kaitannya dengan pengurusan perizinan proyek Meikarta.

"Yang kita tahu, Edi Soes sudah jadi tersangka di Polrestabes Bandung ya. Jadi kasus saya ini bukan OTT, tidak ada sama sekali uang yang diambil dari saya, tidak ada bukti uang keluar Rp10 miliar dari Lippo Cikarang," kata dia.

1 dari 1 halaman

Lanjutan Kronologi

Toto diketahui melaporkan Edi Soes yang merupakan mantan anak buahnya ke Polrestabes Bandung. Toto melaporkan Edi dengan tuduhan melakukan fitnah dan pencemaran nama baik.

Toto menuduh Edi telah memberikan keterangan tak benar saat menjadi saksi dalam kasus suap Meikarta di Pengadilan Tipikor Bandung.

Dalam persidangan dengan terdakwa mantan petinggi Lippo Group Billy Sindoro, Edi menyebut bahwa Bartholomeus mengetahui pemberian uang Rp10,5 miliar kepada Neneng dalam pengurusan Izin Peruntukan Penggunaan Tanah (IPPT) proyek hunian Meikarta.

Saat proyek Meikarta berlangsung, Edi Dwi Soesianto merupakan Kepala Divisi Land and Ackuisition PT Lippo Cikarang. Edi yang mengurus perizinan Meikarta.

Untuk kasus suap Meikarta, Bhartolomeus Toto ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan mantan Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa pada 29 Juli 2019. Dalam perkara ini, Toto bersama Iwa Karniwa ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap perizinan proyek Meikarta.

Toto diduga menyuap mantan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin senilai Rp10,5 miliar. Uang diberikan kepada Neneng melalui orang kepercayaannya dalam beberapa tahap.

Sementara Iwa diduga telah menerima uang Rp900 juta dari Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas PUPR Pemkab Bekasi Neneng Rahmi Nurlaili untuk menyelesaikan Peraturan Daerah tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Bekasi Tahun 2017. Perda RDTR Kabupaten Bekasi itu diperlukan untuk kepentingan perizinan proyek Meikarta.

Uang yang diberikan Neneng Rahmi kepada Iwa diduga berasal dari PT Lippo Cikarang. PT Lippo Cikarang disinyalir menjadi sumber duit suap untuk beberapa pihak dalam pengurusan izin proyek Meikarta.

Reporter: Fachrur Rozie
Sumber: Liputan6.com (mdk/eko)

Baca juga:
Merasa Diancam Eks Direktur Lippo, Saksi KPK Ajukan Perlindungan
Mangkir, KPK Buka Kemungkinan Panggil Paksa Bos Lippo Group James Riady
Kasus Suap Meikarta, KPK Periksa James Riady Besok
Mantan Presdir Lippo Tolak Ambil Sampel Suara saat Diperiksa KPK
Kasus Meikarta, KPK Perpanjang Penahanan Eks Presdir Lippo Cikarang

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.