Eksekutor Cebongan Serda Ucok dituntut 12 tahun penjara

Eksekutor Cebongan Serda Ucok dituntut 12 tahun penjara
Sidang kasus Lapas Cebongan. ©2013 Merdeka.com/parwito
PERISTIWA | 31 Juli 2013 11:35 Reporter : Parwito

Merdeka.com - Serda Ucok Tigor Simbolon, eksekutor di Lapas Kelas IIB Cebongan, Sleman, Yogyakarta yang menewaskan empat orang tahanan dituntut 12 tahun penjara dan pemecatan dari TNI. Sidang tuntutan itu dipimpin oleh Majelis Hakim, Letkol Joko Sasmito.

Selain Serda Ucok, Serda Sugeng Sumaryanto yang dituntut 10 tahun penjara dan Koptu Kodik dituntut selama delapan tahun penjara. Dalam pembacaan tuntutan yang disampaikan Oditur Militer, ketiga terdakwa sama-sama dituntut supaya dipecat dari kesatuannya di TNI.

"Terdakwa dengan sengaja dan merampas nyawa orang lain, terpenuhi dalam persidangan. Terdakwa secara meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana secara berencana 340 KUHP dan kedua meninggalkan tugas dan tidak ijin melanggar pasal 103 ayat 1 KUHPM dan ketentuan lain yang bersangkutan dengan kasusnya," kata Oditur Militer, Letkol Budiharto, Rabu (31/7).

Ketiga terdakwa juga wajib membayar denda pengganti sidang dengan besaran yang berlainan. Terdakwa 1 dan 2 diwajibkan membayar denda sebesar Rp 15 ribu, sementara untuk terdakwa 3 wajib membayar denda sebesar Rp 10 ribu.

Oditur juga memaparkan beberapa hal yang meringankan dan yang memberatkan ke tiga terdakwa. Hal yang memberatkan di antaranya mencemarkan nama baik kesatuan atau TNI, meninggalkan tugas, dan menimbulkan traumatik bagi orang lain, khususnya warga binaan dan petugas di Lapas Klas IIB Cebongan Sleman.

Sementara hal yang meringankan justru lebih banyak. Di antaranya, mengakui secara kesatria telah berbuat meski tidak diketahui, ketiga terdakwa bersikap baik selama persidangan, ketiga terdakwa masih muda dan belum pernah berperkara hukum. Selain itu, ketiga terdakwa telah banyak berbakti kepada negara dengan tugas operasional di beberapa wilayah di Indonesia.

Kemudian yang terakhir perbuatan ketiga terdakwa tidak semua mencela, khususnya warga Yogyakarta banyak yang mendukung dan simpati terhadap perbuatan terdakwa yang dinilai melakukan upaya pemberantasan premanisme di Yogya.

Menangapi tuntutan itu, Tim Penasehat Hukum, Letkol Rohmat berencana untuk mengajukan nota pembelaan dari ketiga terdakwa. Dia meminta waktu dua pekan untuk menyusun nota pembelaan tersebut. Alasannya jika dilakukan pekan depan, sudah memasuki Lebaran Idul Fitri.

"Kita tunda sidang kali ini, kita lanjutkan dua minggu lagi, besok tanggal 14 Agustus 2013 sidang nota pembelaan dimulai lagi," kata Ketua Majelis Hakim, Joko Sasmito. (mdk/ded)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami