Epidemiolog: Jangan Lengah Covid-19 Masih Terus Bermutasi

Epidemiolog: Jangan Lengah Covid-19 Masih Terus Bermutasi
Covid-19. ©2020 Merdeka.com
NEWS | 14 September 2021 20:39 Reporter : Dedi Rahmadi

Merdeka.com - Epidemilog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengharapkan masyarakat agar tidak menurunkan kewaspadaannya akan potensi meningkatnya kembali jumlah korban akibat COVID-19 karena Coronavirus diyakini bakal terus bermutasi.

Dicky Budiman dalam webinar Alinea Forum bertajuk Waspada Masa Krisis Pandemi COVID-19 Belum Berakhir di Jakarta Selasa (14/9), memperkirakan akan ada beberapa varian COVID-19 yang lebih berbahaya dari varian delta. Indikasinya dengan ditemukannya varian C.1.2 di Afrika Selatan pada bulan Mei 2021.

"Varian ini berpotensi mengalahkan delta. Ini karena semua mutasi dari alpha, beta, delta, dan gamma ada di varian 1.2," katanya.

Makanya, dia mengingatkan agar pemerintah bersiap dan berupaya mencegah masuknya varian tersebut. Di sisi lain, juga mulai bersiap untuk hidup berdampingan dengan COVID-19 karena tampaknya pandemi ini masih panjang.

PPKM level, kata Dicky, juga dianggapnya suatu strategi yang tepat. Saat ini WHO pun sedang membuat strategi yang mirip dengan PPKM level.

Menurut dia, PPKM menjadi penjaga gawang selama masih merebaknya COVID-19. Hal itu harus dipahami oleh semua pihak dan kewajiban pemerintah menjelaskan kepada masyarakat.

"PPKM ini tidak mematikan ekonomi, kecuali kalau level empat. Inilah yang harus disampaikan kepada publik," katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ngabila Salama menyebutkan tidak ada satu pun epidemilog yang bisa memastikan kapan pandemi berakhir.

Makanya, Pemprov DKI akan memastikan 14 juta orang yang beraktivitas di Jakarta telah mendapatkan vaksinasi. Vaksin masih menjadi upaya terbaik kendati belum bisa mencegah penularan COVID-19. Akan tetapi, bisa mengurangi dampak negatif ketika terpapar COVID-19.

"Tidak ada orang yang kami tinggalkan selama pandemi ini. Jadi, harapannya tidak hanya 11 juta jiwa penduduk DKI, tetapi 14 juta jiwa penduduk yang beraktivitas di DKI pada siang hari sudah lengkap vaksinasi dua dosis sehingga herd immunity dapat tercapai," ucapnya

Pemberian vaksinasi anak di bawah umur 12 tahun, menurut dia, perlu dilakukan. Apalagi, Tiongkok sudah memberikan vaksinasi untuk anak usia 3 tahun dengan menggunakan vaksin Sinovac, sementara Chile untuk anak usia 6 tahun. Ia mengingatkan masyarakat yang telah mendapatkan vaksinasi tetap harus mendisiplinkan diri dan memperketat protokol kesehatan.

"Jangan menjadi lengah dan kendor karena COVID-19 masih mengancam," katanya.

Baca juga:
Faktor Data Sebabkan 2 Daerah di Jawa Barat Berstatus PPKM Level 4
Cegah Penularan Varian Baru Covid-19, Pengawasan Prokes Bandara Ahmad Yani Diperketat
Wabah Terbaru Covid di China Bermula dari Penularan di Sebuah Sekolah Dasar
Melihat Orangutan di Malaysia Jalani Tes Covid-19
Delapan Pekan Terakhir, Kasus Covid-19 di RI Konsisten Alami Penurunan
Satgas Covid-19 Minta 3.830 Kasus Hitam Dibawa ke Isolasi Terpusat

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami