Epidemiolog Pandu Riono Dorong Pemerintah Menyudahi PPKM

Epidemiolog Pandu Riono Dorong Pemerintah Menyudahi PPKM
Aktivitas Warga di Tengah Pelonggaran Pemakaian Masker. ©2022 Liputan6.com/Faizal Fanani
NEWS | 22 Mei 2022 23:31 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Epidemiolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Pandu Riono mendorong pemerintah mengakhiri kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

"Harapannya, kita seharusnya kalau mau dilonggarkan, bukannya masker. PPKM-nya yang dihentikan, sebab ekonomi melemah karena PPKM," kata Pandu Riono yang dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (22/5).

Pandu mengatakan pemulihan ekonomi di tengah situasi pandemi yang kian terkendali perlu dibarengi dengan keputusan pemerintah mengakhiri PPKM.

Alasannya, kebijakan PPKM yang berkepanjangan membuat sebagian masyarakat bingung terkait situasi pandemi COVID-19 di Tanah Air serta membuat aktivitas kerja menjadi tidak tenang.

"Kalau bicara ekonomi, harusnya PPKM dicabut. Jadi masyarakat bisa bergerak seperti biasa, beraktivitas secara tenang, mau ngantor, kerja pabrik juga penuh, tapi tetap pakai masker dan juga vaksinasi booster," katanya.

Salah satu alasan Pandu mendorong PPKM dihentikan, sebab laporan survei terakhir sebelum Lebaran 2022, di Jawa-Bali terjadi peningkatan proporsi penduduk yang mempunyai antibodi SARS CoV-2 penyebab COVID-19 sebesar 99,2 persen.

Meskipun situasi pandemi di Indonesia semakin terkendali, kata Pandu, tetapi kebiasaan bermasker dan vaksinasi booster merupakan kombinasi ideal dalam mengantisipasi risiko penularan COVID-19.

Dikatakan Pandu, masyarakat Indonesia masih memerlukan edukasi penggunaan masker melalui apresiasi dan sanksi yang diterapkan oleh pemerintah.

"Semua sifatnya edukasi. Di Singapura masih ada penalti kalau ada masyarakat yang tidak pakai masker di dalam ruangan," katanya.

Sementara bagi yang patuh pada program vaksinasi booster atau dosis ketiga, kata Pandu, mereka diperbolehkan beraktivitas di ruang publik maupun transportasi umum tanpa harus tes antigen maupun RT PCR.

Pandu mengingatkan masyarakat bahwa status pandemi COVID-19 belum dicabut oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), sehingga risiko penularan COVID-19 masih ada.

Untuk itu, Tim Pandemi COVID-19 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) kembali melanjutkan survei serologi ketiga secara nasional untuk memantau perkembangan kekebalan tubuh masyarakat berdasarkan program vaksinasi COVID-19 pemerintah maupun vaksin alami yang diperoleh penyintas COVID-19.

"Serologi kami laksanakan lagi pada Juni-Juli 2022. Akan ada lagi se-Indonesia. Metodenya sama menggunakan sampel darah, seperti pada Desember 2022, saat serosurvei secara nasional dipilih penduduk sebagai sampel," katanya.

Laporan itu akan diteruskan kepada otoritas terkait sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam mengukur keberhasilan pengendalian pandemi di Indonesia. (mdk/ded)

Baca juga:
Menko PMK: Kalau Situasi Sudah Terkendali PPKM Secepatnya Dihapus
Penjelasan Satgas soal PPKM Tetap Diberlakukan di Tengah Pelonggaran Aturan Covid-19
Dampak Kebijakan Tak Perlu Pakai Masker di Tempat Terbuka ke Sektor Ekonomi
Warga Jabar Boleh Beraktivitas Tanpa Beban di Masa PPKM, Ridwan Kamil Beri Syarat Ini
Penyebaran Covid-19 di Bandung Pasca Lebaran Dianggap Terkendali, Begini Kata Satgas
CEK FAKTA: Tidak Benar PPKM Berakhir pada 9 Mei 2022, Simak Faktanya



Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami