Fadli Zon gandeng Iran tekan Myanmar untuk bantu Muslim Rohingya

Fadli Zon gandeng Iran tekan Myanmar untuk bantu Muslim Rohingya
Fadli Zon dan parlemen Iran. ©2018 Merdeka.com/Istimewa
NEWS | 16 Januari 2018 17:21 Reporter : Ramadhian Fadillah

Merdeka.com - Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon hari Sabtu petang waktu Teheran, Iran, mengadakan courtessy call dengan ketua parlemen Iran Ali Larijani. Hal itu dilakukan di sela-sela Konferensi ke-13 Uni Parlemen Negara-negara Anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam), atau PUIC (The Parliamentary Union of the OIC Member States, PUIC) yang tahun ini digelar di Teheran, Iran, 13-17 Januari 2018.

Fadli menyebut Indonesia dan Iran adalah negara sahabat. Mewakili Indonesia, dia menyampaikan harapan agar PUIC menjadi organisasi yang kuat dan berpengaruh melalui dukungan Iran.

"Saya setuju, kapasitas negara-negara Muslim sebenarnya sangat besar, terutama dari sisi sumber daya manusia dan energi. Negara-negara Muslim harus bisa menggunakan kapasitasnya tersebut untuk mendukung kepentingan mereka sendiri," kata Fadli di Tehran.

Menurut Fadli, kekuatan dunia Islam harus bersatu. Dan PUIC harus memfasilitasi penyatuan kekuatan tersebut. Parlemen negara-negara Muslim, misalnya, harus bersatu untuk meredakan konflik di dunia islam dan agar negara-negara Islam tak mudah diadu domba oleh Barat untuk kepentingan dagang mereka.

Indonesia dan Iran sama-sama berharap agar pertemuan di Teheran ini mengambil posisi tegas dalam membela hak-hak kaum Muslim. Terkait dengan isu Palestina, Indonesia berharap agar negara-negara OKI bisa kompak dan satu suara dalam membela Palestina.

"Parlemen Indonesia konsisten menyuarakan imbauan agar negara-negara OKI memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Jika OKI kompak, itu pasti akan memberikan tekanan yang berarti untuk Israel," kata dia.

"Indonesia juga berharap agar pemerintah dan parlemen Iran terlibat dalam penyelesaian isu Rohingya. Secara pribadi saya bahkan meminta agar Pak Larijani mengunjungi para pengungsi Rohingya yang ada di Bangladesh. Itu akan jadi dukungan moral dan politik yang berarti bagi penyelesaian kasus Rohingya," lanjut Fadli.

Fadli juga menyampaikan agar dalam Konferensi PUIC di Iran kali ini bisa disepakati membentuk sebuah komite untuk kasus Rohingya. Komite ini harus datang ke Myanmar dan ikut menekan Myanmar agar menghentikan aksi kekerasan terhadap etnis Muslim Rohingya. Selain itu, negara-negara OKI juga harus peduli dan membantu Banglades yang sejauh ini menjadi negara yang paling banyak dibanjiri oleh pengungsi Rohingya.”

"Ketua Parlemen Iran menyambut baik usulan-usulan yang disampaikan Indonesia dan sebagai tuan rumah berjanji akan mengakomodasi pikiran-pikiran tersebut. Selain itu, Ketua Parlemen Iran juga mengharapkan agar kerjasama antara Indonesia dan Iran semakin meningkat. Menurutnya, Indonesia dan Iran sebenarnya telah memiliki hubungan sejak lama, tapi hubungan ekonomi antara Iran dengan Indonesia masih rendah, kalah dibanding hubungan Iran dengan Turki."

Saat ini nilai hubungan Indonesia dan Iran baru mencapai USD 350 juta. Tahun lalu, baru merencanakan untuk memperbesarnya menjadi USD 2 miliar. Padahal hubungan dagang Iran dengan Turki tahun lalu sudah dirancang akan meningkat menjadi US$ 30 miliar per tahun. Sebagai negara Muslim terbesar, hubungan dagang antara Indonesia dengan Iran harusnya bisa lebih besar lagi.

"Untuk meningkatkan hubungan antara Indonesia dengan Iran, Ketua Parlemen Iran mengusulkan agar ada pertukaran kunjungan bisnis. Juga perlu ada penerbangan langsung dari Teheran ke Jakarta. Selama ini yang ada baru carter flight ke Bali yang sifatnya non-reguler. Kami tentu saja menyambut baik usulan tersebut, dan akan kami teruskan ke pemerintah. Hubungan kedua negara memang harus makin ditingkatkan ke depannya." (mdk/ian)

Baca juga:
Bangladesh sepakat kembalikan pengungsi Rohingya dalam dua tahun
Cerita mereka yang takut kembali, pengungsi Rohingya terhalang aturan kewarganegaraan
Myanmar bangun penampungan sementara buat 30 ribu warga Rohingya
Milisi Rohingya sebut 10 jasad di kuburan massal bukan anggotanya
Dokter Lamongan di tengah pengungsi Rohingya

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami