Fadli Zon sebut hoaks Ratna Sarumpaet polisi layak raih MURI, bagaimana kasus Novel?

PERISTIWA | 5 Oktober 2018 14:19 Reporter : Sania Mashabi

Merdeka.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon memuji kinerja Kepolisian dalam mengungkap kasus kebohongan penganiayaan yang dilakukan Ratna Sarumpaet. Menurutnya kinerja polisi layak untuk diberikan penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri).

"Polisi ternyata sudah melakukan segala macam upaya, dan itu tadi prestasi yang luar biasa yang harus masuk Muri. Kurang dari 24 jam semuanya sudah ada transferan, sudah ada CCTV, sudah ada, kalau standar ini dilakukan oleh polisi luar biasa sekali lagi ini prestasi yang luar biasa," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, jakarta, Jumat (5/10).

Meski memuji, Fadli tetap merasa heran polisi tidak bisa memproses dengan cepat pelaporan yang dia buat. Bahkan mengungkap siapa dalang di balik kasus penyiraman penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan yang hampir setahun lebih belum terselesaikan.

"Tapi kenapa hanya kasus ini? Kenapa kasus yang saya laporkan enam kali tidak ada? Kenapa kasus-kasus lain tidak ada? Kenapa kasus Novel Baswedan tidak ada, sudah ada Instruksi Presiden, kenapa tidak ada? Kenapa kasus Hermansyah dan lain-lainnya tidak ada? Ini loh yang menjadi sebuah tanda tanya besar tapi kalau misalnya satu frame hoaks dagelan kayak gitu dilakukan di banyak zaman itu banyak," ucapnya.

Diketahui, polisi melakukan pemeriksaan terkait kabar Ratna Sarumpaet dianiaya. Ratna disebut sebagai tindak kekerasan di negara-negara di Bandung, Jawa Barat, 21 September lalu. Penyelidikan itu dilakukan kurang dari 24.

Ratna tidak melaporkan penganiayaan itu ke polisi dengan alasan masih mengalami trauma. Polisi langsung bergerak menelusuri 23 rumah sakit di Bandung dan 8 di Cimahi, Jawa Barat. Hasil nihil.

Berdasarkan penyelidikan Polda Jawa Barat juga tidak ditemukan di negara lain di Jabar pada tanggal 21 September 2018. Kemudian, hasil dari dari Bandara Husein, seperti sopir taksi, avsec, sopir sewa, porter, dan tukang parkir, mereka tak tahu tentang penganiayaan Ratna Sarumpaet.

Sementara, Polda Metro Jaya yang ikut mencari tahu di Jakarta. Call data record atas nama Ratna Sarumpaet pada 20-24 September lalu aktif berada di Jakarta.

Lalu, akun Ratna melakukan debet di Rumah Sakit Khusus Bedah Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat, pada 20, 21 dan 24 September. Dengan total transaksi sebesar Rp 90 juta.

"Bagian operasional rumah sakit dan manajer medis membenarkan saudari Ratna tari 21-24 September dalam rangka operasi plastik," ungkapnya.

(mdk/dan)