Fakta Penyiraman Air Keras Novel Baswedan Bukan Rekayasa Seperti Disebut Dewi Tanjung

PERISTIWA | 20 November 2019 06:10 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Merdeka.com - Politikus PDIP, Dewi Tanjung melaporkan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan ke Polda Metro Jaya, Rabu, 6 November 2019. Menurutnya, kasus Novel hanya rekayasa belaka.

"Saya melaporkan Novel Baswedan penyidik KPK terkait dugaan rekayasa kasus penyiraman air keras. Ada beberapa hal yang janggal dari rekaman CCTV dia, yakni dari bentuk luka, dari perban, kepala yang diperban tapi tiba-tiba mata yang buta begitu kan," ujar Dewi Tanjung.

Apa yang dilakukan Dewi Tanjung pun membuat publik geram. Dewi dinilai tak punya hati karena menuding penyiraman air keras yang membuat mata kiri Novel buta adalah rekayasa.

Tetangga Novel Baswedan, Yasri Yudha Yahya, melaporkan balik Dewi Tanjung ke polisi. Hal ini dilakukan, karena Yasri sangat mengetahui kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan benar-benar terjadi dan bukan rekayasa.

"Kira-kira wajar enggak kalau dia dibilang merekayasa kejadian itu? Bayangkan berapa kali operasi. Semuanya kok masih dituduh merekayasa, kan bener-bener buat saya mohon maaf ya saya selaku warga dan orang yang sebagai pelapor juga pada saat itu merasa prihatin kenapa sih kok masih ada orang yang dengan teganya menyampaikan semacam itu terhadap Novel," ujarnya.

Berikut fakta-fakta kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan bukan rekayasa:

1 dari 5 halaman

Kesaksian Warga yang Pertama Menolong Novel

Yasri Yudha Yahya, salah satu tetangga Novel Baswedan, yang menjadi saksi mata kejadian penyiraman air keras yang menimpa Novel. Dia adalah orang pertama yang membawa Novel ke Rumah Sakit Mitra Kelapa Gading, Jakarta Utara, pasca penyiraman air keras.

"Bentuknya korban pada saat itu yang kami bawa ke RS di Mitra Kelapa Gading, perlu Anda ketahui bahwa kami pada saat itu warga yang pertama menolong itu benar-benar sangat tidak tega melihat baik dari mukanya yang terserang pada saat itu, dan yang paling parah matanya. Saya sendiri orang yang tahu persis bagaimana kondisi matanya, mukanya pada saat itu," ujar Yasri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Minggu (17/11).

Sebelum dibawa ke RS Mitra Kelapa Gading, Novel lebih dahulu dibawa ke Masjid dekat lokasi kejadian. Di situ, wajah Novel yang tersiram air keras dibasuh. Dia mengetahui persis kondisi wajah Novel sesaat disiram air keras oleh pelaku.

"Yang perlu Anda ketahui bahwa mukanya pada saat itu karena warga dengan cepat dan sigap ketika ada teriakan saudara Novel pada saat tersiram itu langsung memberikan pertolongan pertama di tempat wudhu masjid dengan menyiramkan mukanya itu beberapa kali sebelum kami evakuasi. Tetapi, matanya pada saat itu dan kami tahu persis dan saya orang yang mengetahui secara jelas matanya itu tidak ada bola hitamnya itu tidak ada, semua putih," jelasnya.

Karena itu dia meyakini kejadian yang menimpa Novel bukan rekayasa. Apalagi kini Novel mengalami cacat seumur hidup pada bagian matanya. Dia geram dengan tuduhan Dewi Tanjung yang dilayangkan ke Novel.

2 dari 5 halaman

Beberapa Kali Operasi Mata

Penyiraman air keras tepat mengenai mata kiri Novel pada 11 April 2017. Novel sempat dirawat di RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kemudian Novel dirawat di rumah sakit di Singapura. Berawal pada 17 April 2017, Novel menjalani pemeriksaan mata. Kemudian pada 17 Agustus 2017, Novel selesai menjalani operasi mata di Singapura.

Pada 6 Desember 2017, Novel Baswedan kembali menjalani operasi dalam upaya penyembuhan mata sebelah kiri. Operasi dilakukan di Singapura.

"Hari ini 6 Desember 2017, setelah 237 hari sejak penyerangan terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan, direncanakan akan dilakukan operasi pada mata sebelah kiri. Dikarenakan pertumbuhan selaput mata kiri melambat, maka dibutuhkan penanaman kembali bagian gusi Novel di mata kiri tersebut," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, 6 Desember 2017.

Setelah serangkaian operasi dilakukan, mata kiri Novel belum juga sembuh. Novel kembali menjalani operasi mata sebelah kiri pada 23 Maret 2018. Febri mengatakan ada sedikit pendarahan di dalam mata kiri Novel. Sehingga pandangan mata mantan Kasatgas kasus e-KTP akan sedikit kurang baik.

Kondisi mata Novel sempat membaik. Namun setahun kemudian, mata kiri Novel Baswedan kembali tak bisa melihat. Alhasil, Novel harus menjalani operasi mata kembali pada 28 Juni 2019.

"Kamis 28 Juni 2018 kemarin dilakukan operasi kecil pada mata kiri dan pemeriksaan kesehatan terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan di Singapura," kata Febri, 29 Juni 2018.

Menurut dia, setelah dilakukan pemeriksaan diketahui penyebab penglihatan Novel terhalang dikarenakan tumbuhnya selaput pada bagian gusi yang terpasang pada mata kiri tersebut. Dari hasil analisa dokter, lanjut Febri, pertumbuhan selaput ini sedikit menutupi lensa buatan yang terpasang pada mata kiri.

3 dari 5 halaman

Keterangan Dokter

Sejak penyerangan itu, Novel mendapat perawatan intensif di Singapura. Kondisi kedua matanya rusak dan yang terparah adalah mata kiri.

"Pengobatan mata kiri saya sudah selesai untuk menempatkan organ-organ buatan atau organ-organ artifisial di mata kiri saya. Mata kiri saya sama seperti mata kanan saya, dua-duanya rusak," kata Novel, 17 Juni 2018.

Novel menjelaskan, menurut dokter yang merawatnya, mata kiri mengalami kerusakan cukup parah dibanding mata kanan. Dokter kemudian melakukan operasi mendahulukan mata kiri. Mata kiri Novel dipasangi jaringan yang diambil dari jaringan gusi sehingga warnanya menjadi merah jambu (pink).

Selain penjelasan dari Novel Baswedan, Juru Bicara KPK Febri Diansyah juga menerangkan berdasarkan pemeriksaan dokter, penglihatan mata kiri Novel yang masih lambat itu dikarenakan masih banyaknya darah di belakang lensa mata pasca-operasi beberapa waktu lalu.

"Darah keras yang terdeteksi pada saat operasi tidak berada di retina, sehingga diharapkan tidak menjadi masalah," jelas Febri.

4 dari 5 halaman

Polisi Cari Pelaku Penyiraman

Jika kasus penyiraman air keras terhadap Novel adalah rekayasa seperti yang dituduhkan Dewi Tanjung, Presiden Jokowi dan Polisi sepertinya tak akan terus menerus menyidik kasus ini. Hingga kini polisi masih terus bekerja mencari pelaku penyiraman air keras terhadap Novel.

Presiden Jokowi juga memerintahkan jajaran polisi untuk mencari pelaku penyiraman tersebut. Ia juga meminta polisi mengusut tuntas kasus ini.

"Karena ini kriminal urusan Polri untuk cari," tegas Jokowi di Istana Negara, Selasa (11/7).

Tujuh bulan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, polisi berhasil membuat sketsa wajah terduga pelaku penyiraman tersebut. "Dalam perjalanan penyelidikan ini, lebih kurang 66 saksi diperiksa, kemudian dari beberapa saksi yang sejak 2-3 bulan ini lalu mengerucut pada dua orang yang diduga sebagai pelaku penyiraman terhadap korban," kata Irjen Idham Azis yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, 24 November 2017.

"Untuk foto ini (menunjukkan sketsa wajah pertama) didapat saksi S dan foto ini (menunjukkan sketsa kedua) didapat dari saksi SN," jelasnya.

Kemudian, polisi membuat tim pemburu pelaku penyiraman air keras. Pada 8 Januari 2019, Polri membentuk Tim Pencari Fakta (TPF). Saat itu, TPF diketuai Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Idham Azis dan Tito menjadi penanggung jawabnya. Beberapa anggotanya terdiri dari unsur KPK, yaitu Budi Agung Nugroro, Harun, Novrizal, Herda K, Tessa Mahardika.

Kemudian dari pegiat HAM dan mantan wakil pimpinan KPK dan guru besar hukum pidana Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji, Peneliti LIPI Hermawan Sulistyo, Ketua Ikatan Sarjana Hukum Indonesia Amzulian Rifai. Meski begitu, hingga saat ini pelaku penyiraman air keras belum juga ditemukan.

5 dari 5 halaman

KontraS Punya Bukti Kuat Kasus Penyiraman Novel Baswedan

Staf Advokasi KontraS, Andi Rizaldi menegaskan tidak ada rekayasa saat insiden penyerangan air keras terhadap Novel Baswedan. Sebagai bagian dari Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), KontraS memiliki bukti kuat.

"Jadi terkait bukti sendiri kita sudah memiliki bukti yang cukup dan kuat, yaitu banyak sekali bukti kami," kata Andi di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Minggu (17/11).

Andi merinci, bukti yang dimilikinya seperti pernyataan dari Kapolri, Kapolda Metro Jaya dan juga pernyataan dari Presiden di Jakarta Eye Center.

"Saat itu presiden menyatakan bahwa mata novel itu terkena cairan berupa asam," lanjut Andi. (mdk/dan)

Baca juga:
ICW Tuding Laporan Dewi Tanjung untuk Kaburkan Fakta Penyiraman Air Keras ke Novel
KontraS Bawa Bukti Kuat Penyiraman Air Keras ke Novel Baswedan Bukan Rekayasa
Tetangga Novel Baswedan Laporkan Dewi Tanjung Atas Tuduhan Pengaduan Palsu
VIDEO: Novel Baswedan Anggap Laporan Dewi Tanjung Aneh dan Lucu
Ketika Novel Baswedan 'Hopeless' pada Jokowi Soal Kasusnya
Novel Baswedan Khawatir Tindakan Dewi Tanjung Diikuti Pihak Lain

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.