Fakta Terbaru Kasus Balita Tewas Tanpa Kepala di Samarinda

PERISTIWA | 23 Januari 2020 06:30 Reporter : Syifa Hanifah

Merdeka.com - Beberapa waktu yang lalu, warga Samarinda digegerkan dengan penemuan jasad balita tanpa kepala di parit, Jalan Pangeran Antasari II RT 30, Teluk Lerong Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur, pada, Minggu (8/12/2019) lalu. Balita tersebut diketahui bernama Ahmad Yusuf Ghazali.

Sebelum ditemukan meninggal dunia, Yusuf sempat dilaporkan hilang saat masih berada di sekolah PAUD Jannatul Atfhaal, Jumat (22/11/2019) oleh orangtuanya.

Setelah 16 hari hilang, nahasnya Yusuf ditemukan sudah tak bernyawa lagi. Pihak polisi terus melakukan penyelidikan untuk mengungkapkan meninggalnya Yusuf. Fakta terbaru polisi berhasil menetapkan tersangka. Berikut ulasannya:

1 dari 5 halaman

Sebut Korban Tercebur ke Parit

Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman mengatakan Yusuf diduga meninggal dunia karena tercebur di parit.

"Kami menduga Yusuf tercebur. Itu baru dugaan sementara," kata Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman kepada merdeka.com, Kamis (12/12) lalu.

Arif menerangkan jenazah korban tidak diautopsi. Tim Reskrim belum menemukan indikasi kekerasan di tubuh korban.

"Dari awal kami terus koordinasi dengan dokter forensik. Kita juga tunggu hasil DNA. Kita akan ungkap ini dalam waktu dekat secepatnya. Iya, supaya tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat," katanya.

2 dari 5 halaman

PAUD Ditutup

Selanjutnya, Pemkot Samarinda menutup PAUD Jannatul Athfaal di Jalan AW Syachranie, setelah kasus hilangnya balita Yusuf selama 16 hari hingga ditemukan tewas mengenaskan, Minggu (8/12) lalu. Bagi polisi, penutupan itu memudahkan penyelidikan.

"PAUD ditutup oleh Dikbud (Dinas Pendidikan). Itu akan lebih memudahkan untuk mengamankan (lokasi kejadian)," kata Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman kepada wartawan, Senin (30/12).

Penutupan dituangkan dalam Surat Penutupan Lembaga PAUD Jannatul Athfaal bernomor 421.1/9189/100.01 tertanggal 23 Desember 2019 yang diteken Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda Asli Nuryadin.

Pertimbangan itu, di antaranya mulai dari UU No 04/1979 tentang Kesejahteraan Anak, UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak, PP No 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Permendikbud No 84/2014 tentang Pendirian Satuan Pendidikan Anak Usia Dini, kuasa hukum orang tua korban tentang permohonan penutupan, hingga surat kepolisian tentang perkembangan hasil penyelidikan.

"Dengan demikian, PAUD itu dinyatakan ditutup," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda Asli Nuryadin dikonfirmasi merdeka.com.

3 dari 5 halaman

2 Pengasuh PAUD Jadi Tersangka

Polisi menetapkan dua wanita yang juga guru PAUD Jannatul Athfaal, Marlina (26) dan Tri Suprana Yanti (52) sebagai tersangka terkait tewasnya Yusuf yang ditemukan tanpa kepala, Minggu (8/12/2019), setelah sempat hilang 16 hari. Keduanya dinilai lalai, hingga mengakibatkan balita itu meninggal dunia.

Penetapan tersangka menyusul keluarnya hasil DNA balita dan orang tuanya, Bambang Sulistyo (34). Hasilnya dipastikan balita malang itu identik anak kandung Bambang.

"Hari ini kami terima hasil DNA. Kami tindak lanjuti, dengan penetapan tersangka Ml (Marlina) dan SY (Tri Suprana Yani) dari PAUD itu," kata Kanit Reskrim Polsek Samarinda Ulu Ipda Muhammad Ridwan ditemui di kantornya, Samarinda, Selasa (21/1).

4 dari 5 halaman

Dikenai Pasal Kelalaian

Sementara itu, kedua pengasuh yang ditetapkan tersangka dikenai pasal 359 KUHP tentang kelalaian.

"Kita terapkan pasal 359 KUHP tentang kelalaian, yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia," ujar Kanit Reskrim Polsek Samarinda Ulu Ipda Muhammad Ridwan.

Ridwan menyebut tidak menutup kemungkinan, tersangka nanti akan dijerat pasal lainnya. "Tapi kami dari Kepolisian tidak bisa berandai-andai. Sementara kami tetapkan pasal 359 itu," sebut Ridwan.

Namun demikian, polisi berkesimpulan sementara korban meninggal usai tercebur di parit. "Itu kesimpulan kami sementara. Balita meninggal tercebur di saluran air itu (parit besar Jalan AW Syachranie). Jadi karena lalai," kata Ridwan.

5 dari 5 halaman

Pengakuan Dua Tersangka

Marlina (26) dan Tri Suprana Yanti (52), dua pengasuh PAUD Jannatul Atfhaal di Samarinda, mengaku tidak menyangka ditetapkan tersangka dan terancam dijebloskan ke penjara.

"Iya, tidak menyangka jadi tersangka," kata Marlina, kepada wartawan, dalam perbincangan Selasa (22/1) malam, di Mapolsek Samarinda Ulu.

Sebelum Yusuf hilang, Marlina memang sedang bertugas piket bersama pengasuh lain, Tri Suprana Yanti di PAUD Jannatul Athfaal. "Waktu itu, saya lagi di toilet. Enggak sampai 1 menit. Begitu keluar toilet, Yusuf sudah nggak ada," ujar Marlina.

Yanti pun, saat itu yang sedang disibukkan mengurus bayi dibikin kebingungan. Yusuf yang awalnya bermain di ruangan PAUD, tidak terlihat lagi. "Saya dengan bunda Marlina, memang lagi piket waktu itu," ungkap Yanti.

"Saya sejak usia 23 tahun sudah bekerja di PAUD. Di PAUD Jannatul Atfhaal ini. Saya kerja 2 tahun 4 bulan. Baru pertama kali saya alami kejadian ini," kata Yanti. (mdk/dan)

Baca juga:
Pengakuan 2 Tersangka Kasus Balita yang Ditemukan Tanpa Kepala di Samarinda
2 Pengasuh PAUD Jadi Tersangka Kasus Balita Tanpa Kepala di Samarinda
PAUD Ditutup, Polisi Akui Mudahkan Penyelidikan Kasus Balita tanpa Kepala
Kasus Balita Tanpa Kepala di Samarinda jadi PR Polisi di Tahun 2020
Pemkot Samarinda Vakumkan PAUD Hilangnya Balita Yusuf
Cegah Penculikan Anak, Disdik Samarinda Minta Sekolah Atur Penjemputan

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.