Festival Sinema Australia-Indonesia Momen Bibit-bibit Penulis Indonesia Bangkit

PERISTIWA » MAKASSAR | 8 Maret 2019 19:47 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Festival Sinema Australia-Indonesia (FSAI) kembali digelar untuk tahun ke-empat. Beragam genre film terbaik ditayangkan selama bulan Maret di CGV Theatre beberapa kota meliputi Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Mataram, dan Lombok.

Produser sekaligus sutradara andal Indonesia, Mira Lesmana menilai festival seperti ini seharusnya menjadi pacuan para insan perfilman untuk meningkatkan kualitas. Sebab sejak tahun 2016, Mira melihat antusias masyarakat Indonesia terhadap film menunjukkan hal signifikan. Itu terlihat dari jumlah penonton sekaligus penayangan film Indonesia di beberapa negara. Bahkan, banyak film Indonesia menjadi nominasi atau mendapat penghargaan internasional.

Ia mencontohkan, geliat antusias masyarakat terhadap film karya anak bangsa terlihat dari pemutaran film Ada Apa Dengan Cinta?2, My Stupid Boss, Warkop Reborn, dan sebagainya. Melihat tren itu menurut istri dari aktor Mathias Muchus, tak ayal mengundang banyak investor.

"Perfilman Indonesia justru sekarang lagi hot, growing strongly setiap tahunnya dimulai 2016. Memperlihatkan konsistensi dengan jumlah penonton seperti AADC 2, My Stupid Boss, Warkop Reborn, bahkan investor datang berbondong-bondong," kata Mira saat pembukaan FSAI di CGV Theatre, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (8/3).

Namun, tren itu tidak selaras dengan kualitas penulis. Mira mengatakan, Indonesia masih belum banyak penulis penulis andal untuk menciptakan naskah terbaik. Hal itu bisa berdampak terhadap penurunan jumlah penonton film Indonesia. Hal itu disayangkan jika tidak ada kerjasama atau pelatihan secara intens.

Oleh sebab itu, Mira berharap dengan adanya festival sinema seperti FSAI, diharapkan mencetak para penulis andal tiap tahunnya.

"Penulisan skenario salah satu faktor yang belum banyak dimiliki di Indonesia. Kita bisa kerja sama tentu karena Australia paling dekat, (diharapkan dari kerja sama) menumbuhkan bakat penulis penulis. Itu jika dilihat box office. Karena walau pun jumlah penonton kita terus berkembang tapi kalau kualitas kita tidak berkembang itu akan turun," kata Mira.

Selaras dengan Mira, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan mengamini kerja sama dengan Indonesia penting dilakukan sebagai barometer kualitas perfilman. Sekalipun tidak bisa menandingi Hollywood, namun Gary meyakini kerja sama antara Australia dengan Indonesia di dunia sinema mampu melahirkan banyak film dari dengan kualitas andal. Itu juga harus melibatkan banyak pihak, seperti sutradara dan penulis naskah.

"Sulit bertanding dengan Hollywood, Australia pun kalah. Namun, pemerintah Australia membantu kembangkan industri melalui permodalan film dan lewat festival film internasional," ucap Gary yang juga hadir saat pembukaan FSAI.

Di awal pembukaan FSAI menayangkan Ladies in Black, film dengan latar belakang Australia tahun 1959 menampilkan awal mula transformasi negara kanguru itu menjadi negara multikultural seperti sekarang ini.

Selain Ladies in Black sejumlah film yang akan diputar seperti film drama keluarga Storm Boy, thriller ilmiah alien, Occupation, film dokumenter tentang suara perempuan penduduk asli Australia The Song Keepers.

Tidak hanya film Australia saja yang unjuk gigi dalam festival kali ini, film Indonesia seperti Ada Apa Dengan Cinta? dan Ada Apa Dengan Cinta?2 juga akan ditayangkan sebagai film klasik modern.

Penonton juga berkesempatan untuk menonton film pemenang penghargaan karya Kamila Andini dengan judul The Seen and Unseen.

FSAI 2019 didukung oleh Australia Now Asean sebagai inisiatif pemerintah Australia untuk merayakan inovasi, kreativitas, dan gaya hidup Australia di Asia Tenggara sepanjang 2019.

Bagi masyarakat yang berminat untuk menikmati film-film tersebut tiket tersedia secara gratis di fsai2019.eventbrite.com

Baca juga:
Festival Sinema Australia-Indonesia Kembali Digelar, Saksikan Film-film Terbaik
Kembangkan Potensi Perfilman Indonesia, Viu Gandeng IKJ
Strategi Viu Buat Masyarakat Indonesia Tertarik Nonton FIlm Secara Legal
Viu Gandeng IKJ Bawa Karya Indonesia ke Panggung Global
Dear Nathan: Hello Salma, Film Cinta yang Mengangkat Fenomena Depresi Remaja
Main Film Dilan 1991, Andovi Da Lopez Anggap Merusak Cerita Cinta Terbaik

(mdk/bal)