Galeri Busana di Banyumas Produksi Baju Hazmat Gratis Untuk Tenaga Medis

Galeri Busana di Banyumas Produksi Baju Hazmat Gratis Untuk Tenaga Medis
PERISTIWA | 31 Maret 2020 21:33 Reporter : Abdul Aziz

Merdeka.com - Masalah keterbatasan alat pelindung diri (APD) banyak dikeluhkan para tenaga medis yang merawat pasien virus corona. Mereka dirundung kekhawatiran bakal terjangkit corona karena berjuang menyelamatkan pasien tanpa APD yang memadai.

Karena masalah ini, banyak UMKM dan galeri busana membantu memproduksi baju hazmat (hazardous materials). Salah satunya yang dilakukan galeri busana Sky Gown, di Jalan Brigjen Entjung Purwokerto, Kabupaten Banyumas.

Sudah dua pekan, pihak Sky Gown memproduksi baju pelindung diri berbahan polypropilene spunbond itu. Baju hazmat atau biasa disebut baju astronot itu dibagikan secara cuma-cuma kepada para tenaga media.

Galeri busana ini sejatinya merupakan tempat produksi dan persewaan gaun pengantin. Tapi kini, berhenti sementara waktu dan mengubah aktivitas ekonomi berfokus pada aktivitas sosial.

Latar belakangnya, menyumbangkan keterampilan sebagai bentuk dukungan kepada tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam menangani pasien Covid-19 di tengah permasalahan minimnya APD.

Pengelola Galeri "Sky Gown", Betty Tan, bercerita pembuatan baju hazmat dilakukan karena dorongan rasa prihatin. Acap kali, dia mendengar cerita tenaga medis yang berjuang tanpa alat perlindungan diri yang cukup.

Dia berujar, pada awal produksi baju hazmat tersebut, dia hanya mampu membuat 3 potong baju. Akhirnya, sumber daya ditambah yang semula 8 orang menjadi 14 orang. Berburu dengan waktu, kurang lebih 30 potong baju yang telah ia produksi.

"Pengerjaan kita bagi dua shift untuk mengoptimalkan produksi. Saya bersyukur, ternyata saat ini berjalan banyak dukungan moral juga donasi," kata Betty melalui sambungan telepon, Selasa (31/3).

1 dari 1 halaman

Baju-baju pelindung itu dibagikan cuma-cuma ke rumah sakit yang membutuhkan. Agar menghindari penyalahgunaan, Betty melakukan kontrol penyumbangan dengan mekanisme pengajuan atau permohonan resmi dari rumah sakit. Pasalnya, ada banyak orang yang mengatasnamakan organisasi atau rumah sakit yang berupaya meminta baju hazmat.

"Ini semata-mata agar tepat sasaran," katanya.

Betty mengakui mengalami kewalahan memenuhi permintaan sejumlah rumah sakit di wilayah Banyumas. Untuk memproduksi kebutuhan APD yang kian meningkat bagi tenaga medis, dia membutuhkan sinergi bersama dengan kelompok-kelompok penjahit lain.

Penjahit tas asal Desa Gumelar, Kecamatan Gumelar, Winoto, yang mendengar kerja solidaritas kemanusian yang digalang oleh Betty tergerak turut bergabung. Untuk sementara, dia terpikir untuk bersinergi dengan tenaga penjahit 15 orang. Perhitungannya jika dapat saling bersinergi maka produksi bia ditingkatkan sampai 60-70 helai baju hazmat.

"Tapi, kami juga harus memikirkan ongkos untuk penjahit yang memproduksi. Karena sudah dua minggu mereka tidak bekerja," katanya.

Winoto mengaku ingin membantu memenuhi kebutuhan APD untuk tenaga kesehatan dan rumah sakit. Oleh karena itu, pihaknya tengah berkomunikasi dengan sejumlah pihak untuk menggalang dana bagi para penjahit yang turut bekerja. (mdk/ray)

Baca juga:
Jokowi Teken PP Pembatasan Sosial Berskala Besar dan Keppres Kedaruratan Kesehatan
Antisipasi Corona, Begini Skenario Pemerintah soal Pemulangan WNI dari Luar Negeri
Beredar Video Perempuan Berstatus ODP di Kebon Baru Tebet Kabur
Cegah Penularan Corona, Petugas Medis di Republik Ceko Pakai Masker Snorkeling.
MPR Minta Pemerintah Sosialisasi Pembatasan Sosial Skala Besar Agar Tidak Gaduh

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami